Cinta Lara

Cinta Lara
60. Fitnah?


__ADS_3

Keesokan Harinya


"Oya sayang, Mas pergi dulu untuk berangkat kerja ya sayang," Viko yang kini berada di ballroom.


"Iya Mas, silahkan. Hati hati iya Mas dijalannya." Lara sambil menatap suaminya.


"Iya sayang. Ingat kamu jangan kemana mana ya sayang tetap dirumah bila mau keluar hubungi dan kasih tahu Mas," Viko sambil menatap balik Istrinya


"Iya Mas. Baiklah kalau begitu." Jawab Lara.


"Ya sudah kalau begitu Mas berangkat dulu ya Sayang, sudah siang nih," Ucap Viko.


"Iya Mas," jawab Lara. Lalu mencium tangan punggung suaminya. Kemudian Viko pun mencium lembut pucuk rambut Istrinya.


Lalu Viko pun pergi meninggalkan Istrinya dan berjalan menuju parkiran mobil dan berangkat menuju perusahaannya.


Ting.. ting.. ting.. suara bell berbunyi.


Siapa ya, pagi pagi yang bertamu? Mungkin Mas Viko kali ya, barang kali ada yang ketinggalan gerutu Lara pada diri sendiri Lalu berjalan menuju gerbang pintu.


"Vani? Zahra?" Ucap Lara merasa tidak percaya akan kedatangan mereka saat membuka pintunya.


"Hello selamat pagi Lara sayang, apa kabarnya? Lama sekali kita tidak bertemu." Ucap Vani sambil tersenyum sinis menatap Lara.


"Ibu Apa kabarnya? Zahra kangen sama Ibu," ucap Zahra sambil menatap Lara.


"Baik kok Nak, Zahra sendiri apa kabar?" Tanya Lara sambil mendongkrakan tubunya untuk sejajar dengan Zahra.


"Sama Zahra juga Baik kok Bu. Oya Ibu ternyata tinggal disini ya?" Tanya Zahra.


"Iya Sayang." Jawab Lara sambil tersenyum.


"Oya Lara, bolehkah aku masuk ke dalam dan izin untuk ke toilet?" Tanya Vani sambil menatap Lara.


"Tentu saja bolehlah Mamih, iya kan Ibu?" Tanya Zahra sambil menatap Lara.


"Iya Sayang, tentu saja boleh kok. Ya sudah silahkan masuk!" Ajak Lara kepada  Vani dan Zahra.


"Terima kasih Lara. Ya sudah saya permisi mau ke toilet dulu." Vani sambil berjalan menuju toilet.

__ADS_1


Kini Lara pun sedang berbincang bincang dengan Zahra diballroom tentang aktifitasnya seharian Zahra di sekolah.


"Wah hebat ya, anak Ibu pintar sekali sudah dapat mengalahkan team lawan sekolah dengan ikut perlombaan cerdas cermat." Lara sambil tersenyum pada Zahra.


"Siapa dulu dong Zahra gitu loh Bu," Zahra sambil tersenyum.


Lara pun membalas senyuman Zahra. Jujur dihati Lara tidak tega jika Zahra harus ikut dalam permasalahan ini. Apalagi Zahra belum paham tentang semua ini, makanya Lara memilih untuk menerima Zahra karena dia juga darah daging dari suaminya hanya bukan terlahir dari rahimnya tapi dari Istri keduanya dan  apalagi dulu Lara  sudah menghabiskan waktu lama bersama Zahra hingga sekolah seperti sekarang.


Aaahh.. teriak Vani dari toilet.


Vani?


Mamih?


Ucap Lara dan Zahra bersamaan.


"Ayo Bu, kita lihat apa sebenarnya dengan Mamih," ucap Zahra sambil menarik tangan Lara.


"Baik Sayang." Jawab Lara. Lalu keduanya pun berjalan menuju toilet.


"Mamih, apa yang terjadi dengan Mamih?" Tanya Zahra saat sudah sampai toilet dan merasa terkejut saat melihat luka berdarah diatas jidat dan dengan posisi kaki sudah tergelentak dibawah lantai.


"Vani baik baik saja kan?" Tanya Lara merasa khawatir


"Ya sudah sini saya bantu berdiri." Lara sambil membantu membangunkan berdiri Vani dengan kasar.


"Aww.. pelan pelan dong, sakit tahu!" Vani sambil menatap kesal Lara.


Namun Lara pun hanya memilih diam saja tanpa menjawab perkataan Vani karena sadar di toilet ada Zahra, jadi tidak mungkin memberikan contoh jelek dihadapan Zahra.


"Lara Sayang... Lara.. " teriak Viko memanggil Lara.


Mas Viko? Tumben dia balik lagi, ada apa ya? Ya sudah mending saya samperin Mas Viko saja dari pada menolong wanita yang tidak tahu berterima kasih ini gerutu Lara pada diri sendiri lalu berjalan menghampiri suaminya.


"Iya Mas, ada apa tadi memanggil saya?" Tanya Lara saat sudah sampai di ballroom.


"Kirain Mas kamu kemana, habisnya tidak melihat kamu di dalam kamar." Ucap Viko sambil tersenyum.


"Tadi habis ditoilet Mas. Oya Mas kenapa balik lagi?" Tanya Lara sambil menatap suaminya.

__ADS_1


"Ini sayang, Mas mengambil berkas berkas untuk rapat yang ketinggalan di kamar." Jawab Viko.


"Oh gitu ya Mas," ucap Lara sambil tersenyum.


Awww... sakit Zahra hiks hiks... teriak Vani di dalam toilet sambil menangis.


"Loh kok ada suara yang berteriak dan menangis Sayang?" Tanya Viko merasa aneh.


"Itu Mas tadi ada Vani dan Zahra datang kesini, sekarang mereka ada ditoilet Vani terjatuh Mas," jawab Lara sambil menatap Viko.


"Terjatuh? Ya sudah ayo kita samperin mereka ketoilet!" Ajak Viko sambil berjalan ke toilet bersama Lara.


"Mas Viko? Untungnya kamu balik lagi kesini, saya sakit banget nih Mas hiks.. hiks .." Vani sambil menangis dengan keadaan seperti semula.


"Kamu kenapa Vani? Apa yang terjadi dengan kamu Vani?" Tanya Viko merasa cemas.


"Lara Mas hiks.. hiks.. Lara tega melakukan semua ini hiks.. hiks.. " ucap Vani sambil menatap Viko dan menangis.


"Maksudnya apa?" Tanya Viko merasa bingung.


"Lara tega Mas, mendorong saya dari belakang ketika Saya mau masuk ke dalam toilet Mas hiks.. hiks.. " ucap Vani menangis se jadi jadinya.


"Lara apa benar yang dikatakan Vani?" Tanya Viko meminta penjelasan Lara.


"Bohong Mas, apa yang dikatakan Vani itu bohong. Dia cuma nuduh saya saja supaya Mas benci sama saya." Jawab Lara sambil memegang tangan suaminya.


"Lara kamu jangan bilang kalau saya fitnah kamu yah, lagian emang benar kamu melakukannya. Kalau tidak percaya tanya saja Zahra, dia yang menjadi saksi dalam peristiwa ini." Vani sambil menatap Zahra.


"Ya sudah tanya saja sama Zahra, apa saya yang sudah melakukannya seperti ini hah? Ck, Anak kecil seperti dia pasti akan berkata jujur tidak akan berbohong." Ucap Lara sambil menatap sinis Vani.


"Ya sudah Zahra, Ayah mau bertanya sama kamu, apa benar Ibu Lara yang melakukan semua ini? Coba katakan sama Ayah dengan jujur!" Ucap Viko sambil menatap Zahra.


Lalu Zahra pun menatap Lara kemudian bergiliran menatap Vani.


"Coba katakan semuanya sama Ayahmu biar tahu kebenarannya seperti apa." Ucap Lara sambil menatap Zahra.


"Baik Bu," jawab Zahra.


"Sebenarnya Ayah, apa yang dikatakan Mamih benar kalau Ibu lah yang melakukan semua ini. Ibu sengaja mendorong Mamih dari belakang hingga terjatuh dan terbentur seperti ini," Zahra mencoba menjelaskannya sambil memeluk Vani.

__ADS_1


Deg


Jantung Lara pun tiba tiba merasa berhenti berdenyut. Tubuhnya tiba tiba merasa lemah begitu saja bukan berarti Lara lah pelakunya, tapi Lara merasa kecewa dengan Zahra yang tega menuduh dan berbohong dengan kejadian ini.


__ADS_2