Cinta Lara

Cinta Lara
94. Akhir kisah Vani, Andri, Lara dan Viko(Tamat)


__ADS_3

Mobil yang di tumpangi Vani dan Andri pun, kini sudah sampai di rumah sakit. Kemudian, dengan segera Vani dan Andri pun, keluar dari mobil tersebut dan membawa Zahra masuk ke dalam rumah sakit.


"Dokter, tolongin anak saya dok. Aku mohon dok," ucap Vani saat sudah di ruangan rawat.


"Insya allah Bu, nanti saya akan usahain ya Bu. Sekarang meminta kalian untuk tunggu diluar dulu, saya akan memeriksanya dulu," ucap Drs. Salsa.


"Baik dok," jawab Andri.


Kemudian Andri dan Vani pun dengan segera berjalan keluar dari ruangan tersebut. Mereka menunggu di luar.


"Vani, jika terjadi sesuatu kepada Zahra, maka aku tidak akan memaafkanmu. Dan siap-siap kamu akan tahu akibatnya," geram Andri sambil menatap tajam  Vani.


"Maafkan aku, Andri. Aku tidak tahu akan terjadi seperti ini. Aku benar-benar tidak tahu hiks hiks," Vani sambil terisak menangis.


"Makanya, kamu itu jangan melakukan ide gila di luar logika. Jadi begini akibatnya," Andri sambil berjalan bolak- balik karena merasa khawatir dan  cemas terhadap Zahra.


Kemudian, datanglah Viko dan Lara  berjalan menghampiri Andri dan Vani.


"Gimana Ndri, keadaan Zahra sekarang?" tanya Viko.


"Aku juga tidak tahu Viko, Zahra masih dalam pemeriksaan oleh dokter," ucap Andri.


Kemudian, datanglah seseorang dokter keluar dari ruangan periksa Zahra. Dengan segera Vani dan Andri pun, berjalan menghampiri Drs. Salsa.


"Gimana dok, dengan keadaan anak saya?" tanya Vani merasa cemas dan sambil menatap Drs. Salsa.


"Zahra ... " ucapan Drs. Salsa sengaja di gantung karena begitu berat untuk mengucapkannya. Kemudian menatap Andri dan Vani dengan tatapan susah di artikan.


"Zahra kenapa dok?" tanya Vani.


"Sebelumnya, saya mau minta maaf sama kalian semua. Maaf saya tidak bisa menolong Zahra. Mungkin ini sudah kehendak Sang Kuasa, beliau harus pulang," ucap Drs. Salsa sambil menundukan kepalanya.


"Maksud dokter apa, saya tidak mengerti dok? Apakah maksud dokter, kalau Zahra sudah meninggal?" tanya Vani meyakinkan ucapannya.


"Iya," jawab Drs. Salsa.

__ADS_1


"Tidak mungkin dok, ini tidak mungkin," ucap Vani sambil berjalan masuk menuju ruangan rawat Zahra.


"Apa?" ucap Andri merasa lemas dan tidak percaya ucapan Drs. Salsa.


"Mas," ucap Lara langsung memeluk Viko dan tiba-tiba mengeluarkan airmatanya.


"Sabar ya sayang, Mas juga tidak menyangka kenapa begitu cepat Zahra meninggalkan kita semua," Viko sambil mengusap lembut rambut istrinya.


"Andai saja, yang terjatuh itu aku bukan Zahra," ucap Lara masih menangis.


"Sstt, kamu itu jangan berbicara begitu sayang. Seharusnya, kamu dan Zahra baik-baik saja. Lagian, ini semua salah Si Vani gila itu," ucap Viko menguraikan pelukannya dan menatap wajah cantik istrinya. "Ya sudah, ayo kita masuk ke dalam," ajak Viko.


"Zahra, bangun Nak. Mamih benar-benar minta maaf. Mamih sudah melakukan tindakan bodoh, yang membuat kamu sampai begini hiks hiks," ucap Vani sambil mengusap rambut Zahra dan memeluknya kemudian, " Zahra bangun Nak, jangan tinggalin Mamih Nak," ucap Vani.


Kemudian Andri pun, berjalan menghampiri Vani lalu menarik tangan Vani dengan kasar, sehingga terjatuh ke bawah lantai.


"Ini semua gara-gara kamu Vani! Andai saja kamu tidak melakukan tindakan bodoh, mungkin tidak akan seperti ini! Sekarang kalau sudah kayak begini, kita bisa apa hah?" tanya Andri sambil menatap tajam Vaniv


"Aku benar-benar menyesal, maafkan aku hiks hiks," ucap Vani, sambil memohon dan mengatupkan kedua tangannya.


"Kamu bilang, kamu baru menyesal sekarang hah? Percuma, Vani itu sudah tidak ada gunanya lagi," ucap Andri sambil mencengkram keras tengkuk leher Vani, kemudian melepaskannya dengan kasar.


"Lagi pula, ini semua karena kamu Lara! Seandainya, kamu bisa mau menerima aku sebagai istri kedua Mas Viko. Pasti tidak akan terjadi seperti ini," ucap Vani sambil menatap tajam Lara.


"Jaga mulutmu Vani! Lagian, ini semua gara-gara kamu juga, kenapa mau menikah sama suami yang punya istri hah?" Viko mencoba membela istrinya.


"Stoop!! Aku mohon, berhentilah untuk berdebat! Kasihan Zahra, biarkan dia hidup tenang di alam sana, di surga." ucap Lara sambil menatap Viko, Vani dan Andri bergiliran.


Setelah 3 jam kemudian, akhirnya Andri dan Vani bisa menerima zahra untuk pergi selamanya. Hari ini juga, Zahra akan di makamkan.


"Sayang, maafkan Mamih ya. Mamih sudah membuatmu begini," ucap Vani sambil mengusap batu nisan pemakaman anaknya. "Semoga, kamu tenang disurga ya sayang," ucap Vani.


Lara, Viko dan Andri hanya bisa menatap Vani. Tiba-tiba, datanglah seorang polisi ke tempat makan Zahra.


"Maaf, saya dapat laporan kalau-"

__ADS_1


"Sudah, tangkap Perempuan itu," ucap Andri sambil menatap Vani.


"Andri, kamu itu apa-apaan hah? Kenapa kamu, enggak punya hati banget ya. Malah ingin mencebolskan aku, dalam penjara ?" Vani sambil menatap tajam Andri.


"Karena itu, memang pantas hukumannya buat orang seperti kamu," ucap Andri. "Sudahlah pak, tangkap saja dia," ucap Andri sambil menatap pak polisi.


"Siap pak, baik." ucap pak Tatan, petugas kepolisian.


"Jangan pak, jangan bawa aku ke tahanan. Lara, Viko, aku mohon bantu aku lepasin dari tahanan." teriak Vani saat tubuhnya di paksa untuk pergi ke kantor polisi.


Namun Lara dan Viko, hanya diam saja tanpa membalas ucapan Vani. Karena Lara dan Viko, entah harus apa yang dilakukannya karena Vani memang benar- benar bersalah. Kini hanya bisa menatap jauh Vani yang sedang berjalan menuju mobil polisi.


"Oya, sebelumnya aku mau minta maaf sama kalian, maaf aku sempat mempunyai rencana jahat untuk memisahkan kalian berdua. Aku sadar, kalo cinta itu jangan dipaksakan. Melihat orang yang sangat aku cintai dan sayangi bahagia dengan pilihannya, aku akan sangat senang melihatnya. Semoga kalian bahagia selalu sampai maut memisahkan. Dan selamat bentar lagi, kalian akan menjadi orangtua." ucap Andri sambil memeluk Viko.


"Ya terima kasih Ndri. Semoga kamu, dapat jodoh yang lebih baik lagi." Viko sambil menguraikan pelukannya.


"Ya terima kasih Vik, semoga kamu bahagia selalu ya bersama suamimu Lara," ucap Andri sambil tersenyum terhadap Lara.


"Iya terima kasih Ndri," jawab Lara membalas senyuman Andri.


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi mau pulang dulu," pamit Andri kepada Viko dan Lara.


"Ya silahkan Ndri," jawab Viko.


Kemudian Andri pun, dengan segera meninggalkan Viko dan Lara berdua.


"ya sudah sayang, ayo kita pulang," ajak Viko sambil merangkul pundak Lara.


"Iya Mas," jawab Lara. "Semoga kamu tenang di sana ya sayang. Ibu sangat bersyukur dulu pernah merawatmu. Tenang di surga ya sayang," ucap Lara sambil menatap makam Zahra.


"Ya sudah, ayo sayang."


Lara dan Viko pun, pergi meninggalkan tempat pemakaman dan berjalan menuju mobil miliknya.


Lara berharap nanti kalau lahiran memiliki sifat seperti Zahra, dia pintar, baik, sopan, ramah dan ceria.

__ADS_1


End(Tamat)


###saya ucapin semuanya kepada kakak2 semunya yang sudah mampir dikaryaku yang masih remahan rangingan ini. Dan saya banyak terima kasih kepada kakak2 semuanya atas kritik dan sarannya. Semoga kakak2 sehat selalu dan jangan lupa tetap  bahagia.


__ADS_2