
Empat tahun kemudian.
"Bu giliran Zahra dong nih kuncirin rambutnya Bu, dari tadi Ibu sibuk mulu ngurusin Ayah sih?" Rengek Zahra sambil menatap kesal Ayahnya.
"Iya bentar sayang, ini juga bentar lagi beres kok," ucap Lara sambil membantu mengancingkan baju kemeja suaminya.
"Kenapa sih Bu, Ayah selalu disamain sama Zahra dimanjain mulu lagian Ayah kan sudah besar Bu jadi bisa sendirilah Bu." Gerutu Zahra.
"Iss ini anak ya. Lagian ya itu sudah kewajiban Ibu kamu melayani Ayah. Kamu juga kalau sudah besar harus seperti Ibu kamu selalu melayani suaminya dengan baik dan puas diranjangnya," ucap Viko sambil menatap Istrinya.
"Ih apaan Mas, dia masih anak kecil loh sudah dikasih tau kayak gitu," ucap Lara sambil mencubit tangan Viko.
"Ih sayang sakit tahu. Lagian tadi Mas cuma bercanda kok hehe," ucap Viko cengengesan.
"Emang benar ya Bu apa kata Ayah tadi kalau nanti Zahra sudah besar-"
"Iya benar sayang. Seorang Istri harus taat dan melayani suaminya dengan baik. Ya sudah sini Ibu ikat rambut Kamu sayang," ucap Lara memotong pembicaraan Zahra dan kini sudah beres membantu suaminya lalu berjalan menuju Anaknya.
"Bu, Zahra rambutnya pingin dikucir dua terus depannya berponi Bu," ucap Zahra sambil menatap Ibunya yang berjalan mendekati dirinya.
"Siap sayang," ucap Lara lalu mengambil pengikat rambut dan memulai mengikat rambut Zahra.
"Gimana sudah selesai belum?" Tanya Viko yang sudah beres sambil menatap Anak Istrinya.
"Bentar lagi Mas ini sedikit lagi beres Kok," jawab Lara yang kini masih mengikat rambut Zahra.
"Ih Ayah tidak sabaran deh pingin menang sendiri. Giliran Zahra disuruh cepat cepat." Ucap Zahra sambil menatap Ayahnya dan merasa kesal.
"Siapa bilang Ayah nyuruh kamu cepat cepat? Lagian Ayah cuma bertanya saja sayang," ucap Viko sambil berjalan ke arah Zahra.
"Sudah beres nih Sayang, ginikan yang kamu maksud?" Tanya Lara sambil memberikan cermin kepada Zahra.
"Iya Bu, terima kasih ya Bu." Ucap Zahra.
"Iya sama sama sayang," ucap Lara sambil mengusap rambut Anaknya.
"Gimana Ayah cantikkan?" Tanya Zahra.
"Tentu saja anak Ayah sangat cantik banget," ucap Viko lalu mengendong Zahra.
"Ya sudah karena kita sudah beres semuanya mari kita sarapan pagi dulu kemudian kita berangkat kerja," ucap Lara sambil menatap anak dan suaminya.
"Oke baiklah kalau begitu sayang, kita sarapan pagi dulu," ucap Viko sambil menatap Zahra yang kini di gendongannya lalu berjalan menuju meja makan.
Kini mereka sedang berada di meja makan dan menikmati sarapan paginya.
"Yuk Bu kita berangkat sekolah, Zahra sudah selesai nih sarapan paginya nih," ucap Zahra dengan dengan semangat.
"Wah anak Ibu semangat benar ya mau sekolahnya," ucap Lara sambil menatap Zahra.
"Harus dong Bu, kan ini hari pertama Zahra masuk sekolah Bu. Zahra sudah tidak sabar pingin main bersama teman teman baru Zahra Bu," ucap Zahra.
"Oh jadi kamu pingin sekolah cuma karena pingin main sama teman kamu iya gitu," Ucap Lara.
"Tidak gitu juga kali Bu, kan belajar sambil bermain Bu hehe." Ucap Zahra.
"Ya sudah ayo kita berangkat," Ucap Viko sambil menatap Zahra.
__ADS_1
"Siap Ayah," jawab Zahra.
Lalu mereka bertiga pun berjalan menuju mobil dan Viko yang mengemudi mobilnya. Karena sekolah Zahra se arah dengan Viko maka suka di antar sama Viko ke sekolahannya itu juga kalau Viko ada waktu tapi kalau Viko lagi sibuk biasanya suka diantar sama Pak Udin.
.
.
"Ya sudah Mas saya permisi ya Mas," ucap Lara yang sudah sampai disekolah Zahra.
"Iya Sayang. Oya kamu belajar ya benar ya dan sungguh sungguh biar nanti jadi orang sukses," ucap Viko sambil tersenyum pada Zahra.
"Siap Ayah pastinya Zahra bakal bersungguh sungguh kok," ucap Zahra.
"Baguslah kalau begitu. Anak Ayah pasti hebat dan pintar." Ucap Viko.
"Pastinya dong Ayah siapa dulu Zahra Ainun Kusumujaya hahaha," ucap Zahra.
"Ya sudah kalau begitu Mas hati hati dijalannya ya Mas," ucap Lara.
"Iya sayang." Jawab Viko. Lalu Lara dan Zahra pun menyalami tangan Viko dan keluar dari mobilnya.
*Taman Kanak Kanak Intan Harapan
Disinilah Zahra bersekolah. Hari ini Hari pertama Zahra bersekolah.
"Ya sudah Bu, Zahra masuk dulu ya Bu." Ucap Zahra.
"Iya sayang. Ingat kamu jangan Nakal ya sayang dan jangan menyusahkan gurumu." Ucap Lara.
"Iya siap Bu," jawab Zahra. Lalu masuk ke dalam kelas.
Namun tiba tiba ada seseorang dengan tidak sengaja menabrak Lara.
"Bughh..."
Pundak Lara dan pundak seseorang itu bertabrakan sehingga membuat berkas berkas orang tersebut bertebaran.
"Maaf saya tidak sengaja." Ucap Lara sambil membantu mengambilkan berkas berkas tersebut.
"Iya tidak apa apa kok. Lagian saya yang salah kok jalannya terlalu terburu buru." Ucap seseorang sambil memunguti berkas tersebut.
"Terima kasih sudah membantu saya," ucap Seseorang yang sudah beres memunguti berkas berkas tersebut.
"Iya sama sama." Jawab Lara sambil memberikan berkas yang tadi bantu.
Lalu Lara dan seseorang tersebut saling bertatapan.
"Kamu?" Ucap Raffi benar benar tidak percaya.
"Iya emangnya ada apa ya dengan saya? Apakah anda mengenal saya?" Tanya Lara pada Raffi.
"Tentu saja saya kenal kamu. Masa kamu lupa saya pelanggan dulu ditoko butik dan yang sempat bertabrakan dengan kamu masih ingat kah?" Tanya Raffi.
"Tunggu dulu." Ucap Lara sejenak berpikir dan menatap atas sampai bawah kaki Raffi.
"Gimana sudah ingatkan?" Tanya Raffi.
__ADS_1
"Emm.. oya Saya baru ingat kamu yang dulu ngeborong baju hampir 2 lusin itu ya?" Tanya Lara.
"Iya tuh akhirnya kamu inget juga. Oya kamu sudah tidak bekerja lagi disana ya?" Tanya Raffi.
"Tidak Pak semenjak saya mengalami koma selama 2 bulan saya dilarang untuk bekerja lagi dan harus diam dirumah." Ucap Lara.
"Oh jadi kamu sudah menikah ya? Terus kamu lagi apa disini?" Tanya Raffi.
"Iya saya sudah menikah Pak. Ya tentu saja saya disini menunggu anakku kan dia bersekolah disini." Ucap Lara.
"Oh jadi anak kamu sekolah disini juga ya. Suatu keberuntungan banget ya saya bisa bertemu kembali bersama kamu disini," ucap Raffi sambil tersenyum pada Lara.
"Iya. Oya Pak Raffi sendiri lagi ngapain disini?" Tanya Lara.
"Saya kesini lagi ada urusan penting. Ya sudah saya permisi dulu." Ucap Raffi.
"Iya silahakan Pak." Jawab Lara.
Lalu Raffi pun berjalan meninggalkan Lara dan Lara pun berjalan untuk berniat berkeliling sekolah lagi.
dua jam sudah Lara berkeliling sekolah bukan hanya sekedar berkeliling saja tapi dia tadi mengobrol bareng Ibu Ibu disekitarnya dan juga bersama Ibu Ibu yang menunggu anaknya.
"Terima kasih Bu sudah bersedia ngobrol bareng sama saya." Ucap Lara pada Ibu Ibu yang sama menunggu dengannya.
"Iya Bu," jawab Ibu tersebut sambil tersenyum.
"Ibu..." teriak Zahra sambil berlari.
"Iya sayang?" ucap Lara lalu memeluk anaknya.
"Ibu ternyata disini juga ya? Dari tadi Ibu disini tidak pulang dulu kah Bu?" Tanya Zahra.
"Tidak Sayang, Ibu setia dari tadi kok menuggu kamu," ucap Lara lalu menguraikan pelukannya.
"Terima kasih Ibu," ucap Zahra.
"Sama sama sayang. Ya sudah yuk kita pulang." Ucap Lara.
"Baik Bu." Ucap Zahra.
Lalu Lara dan Zahra pun berjalan ke depan dan sambil menunggu Pak. Udin menjemputnya kebetulan Viko masih sedang sibuk bekerja.
Titt.. Suara mobil berjalan menghampiri mereka lalu membukakan kaca mobilnya.
"Kalian lagi apa disini? Apakah dia anakmu?" Tanya Raffi.
"Saya lagi menunggu seseorang yang menjemputku. Iya dia anakku." Jawab Lara.
"Hei anak manis, senang kita bertemu lagi disini," ucap Raffi pada Zahra.
"Ya Pak, Zahra juga senang bisa bertemu lagi." Ucap Zahra.
"Ya sudah yuk bareng saya saja pulangnya Lara." Ucap Raffi.
"Tidak usah Pak, lagian bentar lagi nyampai katanya." Ucap Lara.
"Ya sudah kalau begitu saya pergi duluan ya." Pamit Raffi sambil melajukan kembali mobilnya.
__ADS_1
"Ibu kenal Bapak itu?" Tanya Zahra.