
Flach back Off
Enam tahun yang lalu.
Disebuah ballroom kini Vani sedang duduk sendirian, merenungkan gimana caranya untuk mendapatkan hatinya Viko yang masih membencinya yang belum menerima kehadirannya. Lalu datanglah Bu Ria menghampiri menantunya.
"Kamu kenapa Nak? Kenapa melamun saja?" Tanya Bu Ria sambil ikut duduk sebelahnya.
"Tidak apa apa kok Bu."Jawab Vani sambil tersenyum pada Ibu Ria.
"Beneran Sayang, kamu tidak apa apa?" Tanya Bu Ria sekali lagi.
"Iya Bu. Oya Bu kenapa ya Mas Viko masih membenci sama Vani dan belum menerima keberadaan Vani?" Tanya Vani sambil menatap Bu Ria.
"Entahlah Nak, Ibu juga tidak tahu. Tapi kamu harus sabar Sayang pasti Viko akan berubah dan menerima kamu, apalagi kamu sedang mengandung anak Viko sekarang." Jawab Bu Ria.
Tiba tiba handphone Vani berbunyi, pertanda panggilan masuk, dengan segera Vani pun mengangkat teleponnya.
"Hallo Bi, iya ada apa Bi?" Tanya Vani kepada Asisten rumah tangga yang bekerja dirumah Papihnya.
"Ini Non Vani, Papih Rudy Non, dia.. " ucapan Bi Ijah tergantung karena begitu berat untuk mengatakannya.
"Papih kenapa Bi? Coba katakan yang jelas ada apa dengan Papih?" Ucap Vani disebrang sana dan merasa penasaran dengan ucapan Bi Ijah.
"Papih Rudy kini sedang berada di rumah sakit dan tidak sadarkan di Non," jawab Bi Ijah.
"Apa? Ya sudah sekarang saya akan kesana Bi. Bibi tolong jagain disana Papih dan kasih alamat rumah sakitnya bi." Ucap Vani kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
"Ada apa Nak?" Tanya Bu Ria karena melihat Vani begitu panik.
"Papih Rudy sekarang ada dirumah sakit dan tidak sadarkan diri Bu." Jawab Vani.
"Terus kamu sekarang mau pergi ke rumah sakit? Bu Ria sambil menatap Vani.
"Iya Bu," jawab Vani.
"Bolehkah Ibu ikut?" Ucap Bu Ria.
"Tentu saja boleh kok Bu." Jawab Vani.
Lalu Vani dan Bu Ria pun berjalan menuju mobil dan pergi meninggalkan rumahnya dan berangkat untuk ke rumah sakit.
.
.
Rumah Sakit Central
Vani dan Bu Ria yang kini sudah sampai di rumah sakit, dengan segera keluar dari mobilnya dan berjalan menuju rumah sakit. Kini mereka sudah sampai dimana Papih Rudy berada.
Papih? Teriak Vani lalu menghampiri beliau ketika sudah berada diruangan rawat Papihnya.
"Bi bagaimana bisa, Papih bisa seperti ini Bi?" Tanya Vani kepada Bi Ijah.
"Saya juga enggak tahu Non, tadi Bibi lihat Papih Rudy sudah pingsan dikamar dan mengeluarkan darah dihidungnya saat Bibi mau merapihkan kamar Non." Jawab Bi Ijah.
"Terus apakah Papih sudah diperiksa dokter? Apa kata Dokter tersebut?" Tanya Vani pada Bi Ijah.
__ADS_1
"Sudah Non, kata Dokter Papih Rudy sudah memasuki stadium akhir. Mungkin sangat kecil punya harapan Papih Rudy bisa bertahan." Bi Ijah mencoba menjelaskannya dengan hati hati.
"Apa? Tidak Bi, ini tidak mungkin hiks.. hiks.." Vani menangis sejadi jadinya.
"Apa yang terjadi sebenarnya Vani dengan Papihmu?" Tanya Bu Ria sambil memeluk Vani.
"Sebenarnya Papih mengidap penyakit kanker paru paru Bu hiks.. hiks.. " jawab Vani masih dengan masih mengeluarkan airmatanya.
"Ya ampun, kenapa kamu tidak pernah kasih tahu Ibu sayang kalau Papih kamu mempunyai penyakit yang begitu serius." Ucap Bu Ria sambil mengusap lembut rambut Vani.
"Vani pikir tidak mau menyusahkan orang, jadi lebih baik Vani pendam saja semua ini Bu," jawab Vani sambil menguraikan pelukannya.
Lalu tiba tiba seseorang masuk ke dalam ruangan.
"Sebenarnya Ibu ada apa sih menyuruh Viko kesini, emangnya siapa yang sakit Bu?" Tanya Viko merasa terkejut karena ada Vani juga.
"Kamu tidak lihat Nak, mertuamu lagi sakit hah?" Ucap Bu Ria sambil menatap tajam Viko.
"Terus apa yang harus saya lakukan Bu?" Tanya Viko dengan datar.
"Ya ampun Viko, kamu ini ya. Harusnya kamu temani Vani disini ketika Papih Istrimu sedang sakit. Apalagi dia sedang hamil anak kamu Vikoo!!" Geram Bu Ria benar benar marah.
"Tapi Viko sedang sibuk Bu dengan pekerjaan Viko dan kasihan Lara yang baru saja sembuh Bu." Ucap Viko.
"Kamu itu jangan egois Viko, bukan cuma Vani saja yang kamu perhatikan tapi Vani juga dong Viko. Dan Asal kamu tahu Viko mertuamu sedang sakit karena kanker paru paru, beliau memasuki stadium akhir yang sangat memungkinkan bisa kecil harapan untuk bertahan." Bu Ria menatap tajam Anaknya.
"Tapi-" ucapan Viko terpotong saat seseorang memanggil nama anaknya.
"Nak Vani, Nak... " ucap Papih Rudy dengan suara serak khas orang yang baru siuman.
Lalu Rudy pun menatap seseorang yang kini berada disamping Besannya dan memanggilnya.
"Nak Viko, sini Nak, Papih ingin berbicara sama Kamu." Panggil Papih Ruddy dengan suara pelan dan lemah.
Karena merasa tidak enak hati bila menolak, dengan segera Viko pun menghampiri Papih Rudy.
"Nak Viko, Papih mau berbicara sama kamu Nak, tapi berjanjilah setelah Papih mengatakan semuanya harus mau menuruti kemauan Papih." Ucap Papih Rudy.
"Emangnya apa yang akan Papih bicarakan?" Tanya Viko tanpa basa basi.
"Papih ingin, bila umur Papih tidak panjang, kamu jaga Vani Nak, karena dia putri satu satunya kesayangan Papih. Kasihan dia sejak kecil sudah di tinggal Ibunya karena kecelakaan." Papih Rudy sambil menatap Viko.
"Kenapa sih Papih harus menikahkan Anak Papih sama Viko? Papih tahu kan kalau Viko sudah sudah punya Istri yang sangat Viko cintai Pih. Harusnya Papih nikahkan Anak Papih dengan orang yang masih belum menikah dan orang yang Vani cintai Pih." Protes Viko sekaligus mengungkapkan kekesalan hati yang kini Viko pendam.
"Dan asal kamu tahu Nak, orang yang paling Vani cintai itu ialah kamu Nak. Sejak pertama kali Vani bertemu sama kamu, dia langsung tertarik dan suka kamu. Makanya Papih menikahkan Vani dengan kamu agar Vani bahagia bersama orang dicintainya." Jawab Papih Rudy.
"Pilihan Papih sama Vani itu salah, kenapa harus memilih sama seseorang yang sudah punya Istri. Lagian sangat sulit bagiku untuk menerima Vani sebagai Istri apalagi tanpa Lara mengetahui tentang semua ini. Akan jadi seperti apa bila Lara mengetehui semuanya pasti bakal membenci Viko Pih!!" Bentak Viko.
"Cukup Viko, Kamu jangan kurang ajar sama mertuamu!! Lagian apa salahnya kamu menuruti kemauan beliau. Dan tidak ada salahnya juga kamu menerima Vani sebagai Istrimu. Kamu lupa Pak Rudy sudah menolongmu dari kebangkrutan perusahaanmu dan menolong Lara saat koma, dia yang membiayai semuanya." Ucap Bi Ria menatap tajam Viko.
"Janji ya Nak, maafin Papih terlalu memaksakan kamu menikah dengan Vani. Lagian tidak ada salahnya kamu berbagi cinta dan berbuat adil terhadap kedua Istrimu. Dan mulailah untuk sekarang menerima Vani dan bahagiakan lah putri kesayangan Papih ini." Papih Rudy dengan nada lemah sambil memegang tangan Viko.
"Tapi-" ucapan Viko tergantung saat melihat Papih Rudy dengan perlahan melepaskan tangannya dan sudah terlihat lemah.
"Papih??"
"Pak Ruddy?" Jawab Vani dan Bu Ria bersamaan ketika melihat kondisi Papih Rudy dengan segera Vani menekan tombol merah. Tak lama kemudian datanglah seorang Dokter untuk memeriksa kondisi Papih Rudy.
__ADS_1
"Gimana keadaan Papih Dokter?" Tanya Vani merasa khawatir dengan kondisi keadaan Papih Rudy.
"Maafkan saya Mbak, tidak bisa menolong beliau. Kini beliau sudah tidak bisa diselamatkan lagi dan sudah tiada." Ucap Dokter dengan hati hati.
"Maksud Dokter, Papih sudah meninggal iya?" Tanya Vani.
"Iya," jawab Dokter Susan.
"Tidak Dok, tidak!!! Papih belum meninggal Dok hiks..hiks.. " ucap Vani sambil memeluk Papihnya dan menangis.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi," pamit Dokter Susan sambil berlalu.
Lalu Bu Ria pun, mendekati Vani dan mengusap lembut punggung Vani.
"Yang sabar Ya Nak, kamu harus kuat, disini kamu sekarang tidak sendiri ada Ibu Nak, juga suami kamu." Ucap Bi Ria. Kemudian Vani pun menatap Viko.
"Kamu tahu kenapa alasan aku menikah denganmu hah? Ini semua demi Papih, karena Papih pikir dengan aku menikah denganmu akan bahagia sama orang yang sangat aku di cintai. Inilah yang Papih inginkan ketika beliau meninggal aku bahagia bersama orang orang yang menurut Papih bisa membahagiakan aku. Karena aku ingin lihat Papih bahagia, makanya aku terima menikah denganmu meski sebenarnya menyakitkan karena kamu tidak pernah menganggap aku sebagai Istrimu." Ucap Vani sambil menatap tajam Viko.
"Tapi kamu salah Vani, tidak seharusnya kamu mencintai aku yang sudah beristri." Ucap Viko.
"Tapi apa salahnya sih Mas, terima aku sebagai Istri mas, demi mengabulkan keinginan Papih agar Papih senang disana Mas, bisa melihat anaknya bersama dengan orang yang cintainya." Ucap Vani.
"Maaf, aku enggak bisa Vani." Ucap Viko sambil berlalu pergi.
"Viko..Viko..kamu mau kemana Viko?" Teriak Bu Ria sambil memeluk Vani.
"Sudahlah Bu, aku tidak apa kok." Ucap Vani.
"Kamu yang sabar ya Nak, kamu disini ada Ibu kok." Ucap Bu Ria mencoba menenangkan Vani.
Setelah itu jenazah Papih Rudy pun segera dibawa ke rumah duka. Setelah semuanya selesai sudah siap untuk dikubur kemudian langsung dibawa ke tanah untuk menguburkan beliau.
Hari demi hari keadaan kondisi Vani semakin buruk, dia selalu melewatkan jadwal makannya hingga dia sering pingsan dan Dokter pun menyarankan agar Vani tidak terlalu banyak pikiran, dan harus makan demi menjaga keadaan kondisi bayinya.. sebagai seorang Ibu, tentu saja Ibu Ria pun marah besar lalu memaksa Viko untuk sementara tinggal bersama Vani agar Vani kondisi Vani stabil lagi.
"Kamu lihat Viko, sekarang Vani kayak orang tidak waras. Dia suka sedih sendiri, tertawa sendiri bahkan dia suka marah marah sendiri. Dan kamu tahu kenapa Viko, kenapa Vani seperti ini? Karena ini semua karena kamu Viko!! Kamu tidak pernah menganggap dia Istrimu, tidak mau sekali saja melihat dia, makanya dia tertekan dan merasa dirinya dunia ini sudah tidak punya siapa siapa lagi. Coba kamu pikirkan Viko, bayi yang ada dikandunganmu itu mengetahui kekejamanmu pada Ibunya pasti dia akan membencimu, dan kamu tahu tidak Vani hampir mau membunuh janinnya sendiri. Coba pikirkan bayi itu tidak berdosa Nak, dia pingin hidupna Nak. Tolonglah Nak sembuhkanlah Vani, dan sayangi dia dengan anakmu yang ada didalam kandungannya." Bu Ria sambil meneteskan airmata.
Lalu Viko pun hanya diam saja, sambil menatap Vani yang kini seperti orang tidak waras, di dalam hatinya merasa kasihan dan sedikit bersalah. Lalu dengan segera Viko pun berjalan menghampiri Vani.
"Vani?" Tanya Viko menghampiri Vani.
"Kamu siapa ya?" Tanya Vani.
"Saya Viko, suami kamu." Ucap Viko.
"Viko? Oh iya ini suamiku aku, yang dulu membenci aku ya hahaha. Lihat Nak, Ayahmu datang kesini pasti dia mau ngambil kamu ya.. ih enak saja kamu pasti mau dengan Ibu ya Nak Hehehe ," Vani sambil mengusap Perutnya.
"Vani, maafkan Mas telah membuat kamu seperti ini." Ucap Viko.
"Apaan sih ini orang, sudah sana pergi, aku benci kamu orang jelek." Usir Vani.
Dari sinilah hati Viko tersentuh untuk bisa menerima Vani sebagai Istri keduanya meski Lara belum mengetahui tentang pernikahannya dengan Vani. Viko lebih memilih untuk merahasiakan ini dulu terhadap Lara. Karena Lara yang baru saja sembuh dari pasca komanya.
Sebenarnya Viko menerima Vani bukan karena dia sudah mulai mencintai Vani, tapi karena dia terpaksa melakukan ini demi membuat Vani sembuh kembali dan saat dalam masa penyembuhannya Viko sering menemani Vani tidur karena menurut Dokter Vani membutuhkah kehangatan seseorang walaupun cuma sebatas menemani. Tapi tanpa Viko duga suatu kejadian terjadi dimana Vani dan Viko melakukan hubungan suami Istri karena Vani selalu mengancam akan membunuh anaknya jika tidak menuruti kemauannya dan selalu menggoda Viko dengan terpaksa dan pastinya Viko sangat tergoda saat melihat tubuh polosnya Vani hingga melakukan hubungan intim. Viko pun sering berbohong kepada Lara ada pekerjaan diluar negeri padahal dia hanya ingin berkunjung ke rumah Vani. Ketika masa Vani melahirkan Viko pun datang menemani Vani karena Viko tidak tega bila melihat Vani melahirkan tanpa seseorang yang menemaninya. Sehingga Viko sering memberikan semangat dan mengatakan kata kata romantis terhadap Vani untuk menyemangati nya.
Viko pun ucapkan terima kasih kepada Vani sudah mau menjaga anaknya ketika Vani pada masa stressnya, dan dia hampir membunuh anaknya tapi Viko selalu menahannya dan menggagalkannya. Viko pun meminta Vani untuk memberikan anak tersebut untuk bisa di asuh oleh Lara, Vani pun menyetujuinya tapi dengan syarat Viko harus melakukan apa yang Vani inginkan Viko pun menyetujuinya tapi tidak dengan harus melakukan hubungan badan. Vani pun begitu menyetujuinya meskipun hanya untuk menemani tidur saja. Sebenarnya alasan Vani anaknnya dikasih Lara karena dia tidak mau mengurus anak tersebut dan hanya ingin fokus bekerja saja. Kini hari demi hari pun Vani semakin membenci Lara saat Viko selama empat tahun meninggalkan dirinya begitu saja dan tidak ada datang lagi kerumahnya. Viko ternyata lebih mementingkan Lara dan anaknya yang kini semakin sudah tumbuh besar. Vani pun berencana akan membuat rumah tangga Lara hancur dan memiliki Viko dan anaknya kembali.
Flack back on
__ADS_1