
Mobil yang dikendarai Viko pun, kini sudah ditempat tujuan.
"Sayang, bangun." Ucap Viko membangunkan istrinya yang tertidur didalam mobil. Sebelum sampai ke tempat tujuan, dijalanan tadi macet. Dan Lara pun terus memberontak untuk memberhentikan mobilnya, tapi Viko tidak mendengar perkataan Lara dan Viko lebih fokus menyetir mobilnya. Sehingga Lara lelah dan tertidur didalam mobil.
Kemudian Lara pun membuka matanya dan menatap suaminya yang kini membangunkannya. Dan betapa terkejutnya Lara sangat mengetahui, tempat yang dituju oleh suaminya.
"Bukannya, ini rumah kamu?" Tanya Lara kepada suaminya.
"Iya." Jawab Viko dengan datar.
"Terus mau ngapain kamu membawa aku ke rumahmu? Lagian aku tidak mau tinggal dirumah kamu, apalagi-" ucapan Lara terputus saat Viko, memotong pembicraannya.
"Sudahlah, kamu tidak perlu banyak bicara. Sekarang kita keluar, dan ayo kita masuk ke dalam rumah." Ucap Viko sambil membukakan pintu mobilnya.
"Aku, tidak mau mas!" Tolak Lara.
"Loh kenapa sayang?" Tanya Viko.
"Ya kalau aku bilang tidak mau, ya tidak mau Mas!" Lara dengan menatap tajam suaminya.
"Ayolah sayang, kamu jangan egois begini. Lagian ini sangat penting, dan ada sesuatu yang harus kamu ketehui." Ucap Viko membujuk Lara supaya mau keluar dari mobil.
"Sesuatu yang sangat penting? Emangnya apaan?" Tanya Lara.
"Ini tidak bisa dijelaskan disini. Harus di dalam rumah. Karena ini ada kaitannya dengan Vani." Ucap Viko.
"Vani? Tidak Mas, aku tidak mau." Lara masih menolak.
"Ayolah sayang. Ini sangat penting. Ini tentang masalah anak aku dan Vani." Viko menjelaskan.
"Ya sudah Mas, kalau begitu kenapa kalian saja mengobrol berdua sama Vani. Kenapa harus aku yang di libatkan?" Lara dengan memalingkan wajahnya.
"Tapi ini masalah kalau Zahra ternyara bukan anak aku!" Ucap Viko.
"Apa?" Lara merasa terkejut dan tidak percaya dengan ucapan suaminya.
"Iya sayang. Kalau Zahra ternyata bukan anak aku." Ucap Viko sambil memberikan selembar kertas kepada Lara.
__ADS_1
"Apa ini Mas?" Tanya Lara. Saat Viko memberikan selembar kertas kepadanya.
"Itu hasil tes dna, ternyata membuktikan kalau Zahra bukan anak aku!" Viko sambil membayangkan saat mengambil hasil tes dna dan dokter menyatakan hasil pemeriksaannya. Ada rasa marah dan kecewa, kenapa bisa Vani membohongi dirinya.
Kemudian Lara pun, dengan segera membuka surat kertas tersebut. Dan merasa terkejut, serta tidak percaya. Kenapa bisa Vani sampai membohongi Viko. Lara pun hanya menggelengkan kepala.
"Lalu apa yang akan Mas Viko lakukan?" Tanya Lara kepada suaminya.
"Aku ingin menceraikan Vani! Karena dia, selama ini sudah berani berbohong sama aku. Aku bertahan dengan Vani karena ada status anak dariku. Tapi sekarang, tidak ada lagi yang bisa menghalangiku." Ucap Viko sambil menatap Lara.
Kemudian Lara pun hanya diam saja, tanpa membalas perkataan suaminya.
"Ayo sayang, ikut aku ke dalam." Ucap Viko sambil menarik tangan istrinya dengan lembut.
"Baiklah Mas." Jawab Lara.
Sebenarnya, Lara tidak mau ikut campur dalam masalah ini. Dan biarkan Viko dengan Vani menyelesaikannya. Tapi Viko terus memaksa agar Lara ikut juga.
Lalu Viko dan Lara pun, berjalan masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum...." ucap Viko tiba tiba masuk ke dalam rumah.
"Ba-baik kok Bu. Ibu sendiri gimana kabarnya?" Tanya Lara dengan suara kaku, karena sudah lama tidak bertemu dengan mertuanya. Kemudian Lara pun tersenyum dan menguraikan pelukannya.
"Baik kok Nak." Jawab Bu Ria, sambil membalas senyuman menantu nya.
"Oya Bu, Vani mana?" Tanya Viko kepada Ibunya.
"Tadi Vani, pamit katanya mau pergi sebentar. Tapi sekarang belum pulang juga." Jawab Ibu Ria.
"Ck, paling juga dia bersama laki laki lain sedang menikmati kebebasannya." Gerutu Viko.
"Cukup Viko! Kamu jangan bicara sembarangan. Emang kamu sangat membenci dia, tapi kamu jangan menuduh Vani seperti itu. Lagian apa salahnya sih, kamu anggap Vani sebagai istrimu hah? Lagian kamu lupa ya hah? Disini ada anak kamu, yaitu Zahra." Ucap Bu Ria sambil menatap kesal anaknya.
"Dan asal Ibu tahu, ternyata Zahra bukan anakku Bu!" Ucap Viko.
Plakkk' satu tamparan mengenai pipi kanan Viko, sehingga membekas merah.
__ADS_1
"Cukup Viko, kamu berkata seperti itu. Lagian kamu tega sekali ya, mengatakan kalau Zahra bukan anakmu hah?" Bu Ria sambil menatap anaknya dengan perasaan sangat marah dan kecewa.
"Lagian, memang benar kok Bu, apa yang dikatakan Viko. Kalau Zahra bukan anak Viko Bu."
"Lalu anak siapa, kalau bukan anakmu hah? Kamu kalau bicara jangan tambah ngaco Viko!" Geram Bu Ria, tidak terima cucunya tiba tiba tidak dianggap oleh Ayahnya sendiri.
"Kalau Ibu tidak pecaya, nih buka." Ucap Viko sambil meyodorkan selembar kertas putih.
"Apa ini?" Tanya Bu Ria.
"Itu bukti tes Dna, kalau Zahra bukan anakku Bu." jawab Viko. Lalu dengan segera Bu Ria pun, membuka kertas tersebut.
Betapa terkejutnya Bu Ria, saat mengetahui hasil tes DNA tersebut. Dan tubuh Bu Ria pun merasa lemas tiba tiba.
"Ibu baik baik saja kak?" Tanya Lara saat mertuanya akan terjatuh.
"Iya Lara, baik baik saja kok." Jawab Bu Ria sambil mengusap keningnya yang tiba tiba terasa pusing. "Bagaimana bisa ini seperti ini, Viko? Kalau Zahra bukan anak kamu, terus anak siapa dong?" Tanya Bu Ria.
"Entahlah Bu, Viko juga tidak tahu," jawab Viko.
Kemudian datanglah Vani tiba tiba masuk ke dalam rumah dengan begitu saja. Kemudian Viko menatap Vani, dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
***jangan lupa tinggalkan jejak ya kak, kasih dukungannya dong biar semangat updatenya kak. Terima kasih ya yang sudah membaca karya yang masih receh dan berantakan ini.🙏😙.
*****
Mau promo karya teman saya yang senior, jangan lupa mampir ya kak, dijamin bikin baper dan seru.
Author: ponn ponn
Judul:
Nayra baru saja putus dengan sang pacar justru dipertemukan dengan seorang pria tampan yang menjadi guru baru disekolahnya.
Nayra lama-kelamaan mulai jatuh Cinta dengan sang guru, walau umur mereka bedah jauh, tapi Nayra tidak peduli dengan itu, dia tetap akan terus mengejar Cintanya dengan sang guru tampan tersebut.
__ADS_1
Akankah Cinta Nayra diterima? Atau justru Cintanya tersebut akan bertepuk sebelah tangan.