
Sejak kepergian cinta,duniaku terasa makin sempit,sementara silva terus mendekatiku dan memberiku perhatian yg lebih yg sebenarnya tak kusukai.
"Udah makan ya ra?", tanya silva
"Udah tadi dirumah,aku sedang kurang nafsu makan sil", ucapku.
Tak kupedulikan keberadaan silva yg duduk didepanku,aku tetap sibuk memproses beberapa berkas yg masuk bulan ini.
"Busyet,angka kriminal meningkat sekali", ucapku dalam hati.
"Kamu memikirkan cinta ya ra?", tanya silva
Aneh juga cewek ini,yg tetap dipikirkanlah,namanya juga cinta,pikirku.
"Hmmm sedikit", ucapku santai
Melihat kecuekan ku silva beranjak dari tempat duduknya dan masuk di ruangannya.
"Cinta pindah kemana ya", ucapku dalam hati.
Lalu kututup laptopku,aku ingin pulang rebahan dirumah dan menikmati kopi hitam,lumayan sedikit menghilangkan rasa mumetku.
"Haiii", terdengar suara cewek menyapaku dengan suara cempreng.
"Siapa?", tanyaku.
Tak ada jawaban,aku menengok keluar kamar kostanku,gak ada siapa siapa,malah kelihatan sangat sepi,karena ini jam kerja dan jam sekolah,hanya aku yg pulang duluan.
"Astagaa", jantungku hampir copot
Boneka pemberian cinta kok bisa ada duduk manis diatas kasurku.
"Hei boneka cinta,apa kamu yg menegurku?", tanyaku seperti orang sinting.
"Loh,kok diam ditanya malah diam begitu,dasar kamu ngambekan seperti cinta", ucapku.sambil kucubit hidung boneka cinta itu
Boneka cinta kucubit,seperti hilang kesadaranku,boneka ini mengingatkanku tentang cinta yg berwajah barbie dan sangat cantik,kulitnya putih bagai pualam.
Sungguh aku terpikat padamu
Yg bertakhta di sukmaku
Kau yg pergi meninggalkan duka lara
Dan menyisakan luka hati yg teramat dalam.
Hehehe,aku tertawa sendiri,kok tiba tiba aku jadi puitis begini.
Tok tok tok
"Lara buka pintunya saya silva", ucap silva dari luar
yg dengan tujuan apa lagi kesini,membuatku jadi resah saja.
"Masuk silva,pintunya gak dikunci kok", ucap ku
Silva ternyata membawakanku nasi bungkus
"Saya cuma mau antar ini ra",ucapnya
Lalu pergi lagi.
__ADS_1
**************
"Bu Cinta,kenapa anda menolak memberi pelajaran agama islam ke murid?", tanya kepala sekolah,saat memanggilku keruang kepala sekolah
"Saya tidak menolaknya bu,cuma saya heran dengan identitas dan kondisi kampung disini yg sangat tidak sesuai", ujarku
"Maksudnya ibu cinta,tidak sesuai gimana?", tanya ibu kepsek lagi.
"Untuk apa memberi pelajaran agama islam bu,sementara mereka menolak islam dengan terang terangan,karena menolak didirikannya mesjid,dan menolak diadakannya pengajian,saya merasa itu cukup alasan buat saya bu", ucapku membela diri.
"Tidak seharusnya bu cinta melakukan hal itu,biarlah pelajaran itu tetap dijalankan,ini perintah atasan", ucap ibu kepsek.
"Iya bu kalau begitu,saya hanya menjalankan perintah saja", ucapku.
Aku disini memberi 3 mata pelajaran sekaligus,yaitu Fisika, Matematika dan PAI yg menjadi kesukaanku.
"Kamu islam,kenapa tidak bisa mengaji", ucapku pada seorang murid yg terbata bata mengeja lafalan al qur an.
"Kami memang tidak pernah diajarkan bu", ucap anak itu
"Kamu islam kan,orang tuamu sholat tidak?", tanyaku tegas
"Identitas kami memang islam sebagai formalitas,orang tuaku tidak pernah sholat,karena mereka punya cara tersendiriuntuk mendekatkan diri ke ilahi",ucap anak itu
Yg membuatku terasa mau marah,tapi mengingat kedudukanku disini,juga dari ceritanya bu fera,ku hanya menggelengkan kepala.
"Mengajari anak anak itu tentang islam,seperti mengisi air di botol kosong", ucapku pada bu fera.
Bu fera tersenyum dan memegang pundakku.
"Orang sabar disayang tuhan bu cinta", ucap bu fera.
***********
Kukirimkan pesan yg mungkin sudah beribu tibu,tapi tidak pernah terbaca.
"Cinta,tega betul dirimu meninggalkanku disini", ucapku
Kutatap foto foto cinta yg masih tersimpan di ponselku,membuat kerinduanku makin mendalam.
"Pak laraa".
Ku simpan ponselku dan menatap seorang gadis,berambut pendek yg berwajah cantik,membuatku tersentak
"Cinta!", ucapku setengah terkejut,wajah ini cerminan masa remaja cinta yg imut imut.
"Bukan pak,saya kaila", ucap gadis itu.
"Duduklah", ucapku
"Terima kasih pak,maaf jika saya mengganggu", ucapnya lagi.
"Ya tidak apa apa,katakanlah apa maksud nona kesini?", tanyaku sambil menyelidiki keadaannya yg awut awutan.
Gadis ini kemudian berdiri,sepertinya ia akan memanggil seseorang,tak lama datang gadis itu ditemani seorang laki laki tua yg mungkin bapaknya.
"Silahkan duduk pak", ucapku
Merekapun duduk,dan kupersilahkan bicara.
"Anak saya ini pak diperkosa oleh seorang anak polisi,hingga saat mengadu tak ada yg pedulikan kami malah kami dituntut balik pencemaran nama baik", ucap si bapak itu,air matanya mengalir,tubuhnya terguncang seperti menahan tangis yg meledak.
__ADS_1
"Jika anak bapak betul betul diperkosa,tolong kumpulkan buktinya ya dan tulis identitas anak bapak disini,juga yg telah memperkosa anak bapak,data datanya diisi ya", ucapku
Timbul rasa kasihanku pada Bapak dan anaknya ini,mereka sepertinya dari keuarga tak mampu.sekali lagi datang klien yg sangat membutuhkan pertolonganku.
"Tolong ya pak", ucap bapak itu menyalamiku
"Insya Allah pak", ucapku
Kubaca data data yg ia tulis,ternyata ia masih Siswi SLTA kelas 1,dan pemerkosanya bernama Ardien dan Hendra,keduanya anak polisi yg cukup berpengaruh di kota ini,pantas saja,kaila dan bapaknya sangat ketakutan.
"Pak lara,tadi didatangin orang tuanya kaila ya?", tanya pak rapid temanku.
"Iya pak,kenapa emang?", tanyaku penasaran.
"Pak lara mending tidak usah proses kasusnya,sangat berbahaya!!", ucapnya
"Kok harus begitu pak,bukannya kita harud menegakkan hukum", ucapku.
Aku merasa tidak sefaham pak rafid,keadilan harus tetap ditegakkan tanpa harus pandang bulu.
"Bapaknya anak itu sangat berpengaruh disini pak,saya takut terjadi sesuatu dengan pak lara", ucap pak rafid
"Jangan khawatir pak,Allah selalu dekat dengan penegak hukum yg berdiri diatas keadilan", ucapku.
Walau hatiku sebenarnya merasa was was juga,mereka polisi yg besar kekuasaannya disini,bahkan memegang kendali preman
********
Hukum rupanya masih banyak yg permainkan dengan uang,tapi tidak dengan diriku yg tak mau menukar keadilan dengan uang
Seperti biasa,aku selalu turun lapangan dengan memakai baju lusuh,aku menenteng gitar sambil bernyanyi dekat tempat tongkrongan ardien dan hendra.
Kebetulan suaraku memang sangat bagus dan lihai main gitar.
"Eeh,teman kesini gabung", teriak mereka
Sayapun segera kesitu dan mengenalkan diri,ternyata betul,andian dan hendra yg ada diantara mereka.
"Anak baru ya?", tanya mereka
"Iya,saya dari toraja,kesini mau cari kerjaan", ucapku berbohong.
"Tamatan apa?", tanya hendra
"Cuma tamatan SMA ji", ucapku dalam logat daerah setempat.
"Mau kah kerja di toko?", tanya hendra
Aku mengiyakan saja,padahal tujuanku ingin menelusuri kasus kaila,tak apa lah,nongkrong demi bisa memecahkan kasus.
Aku terus memetik gitar sambil menuping pembicaraan mereka.
"Dengar dengar kaila,melapor ke kejaksaan langsung ya?", tanya salah satu diantara mereka.
"Siapa yg bilang?", tanya hendra
"Disitu kan ada konconya bapakku,pak Rafid namanya",ucap ardien
"Astaga,jadi pak rafid juga salah satu diantara penegak hukum yg jahil itu,ini tak boleh dibiarkan", bathinku.
Aku harus lebih hati hati,ternyata sangat sulit menemukan teman yg jujur di dunia ini.
__ADS_1