
"Ya sudah ayo kita kesana." Ucap Mang ujang.
Lalu mereka bertiga pun berjalan dan berlari menuju tempat Lara berada.
Astagfiruloh.... " Ayo Pak Eman kita bawa Non Lara secepatnya ke rumah sakit." Ucap Mang Ujang berlari bersama Pak Eman.
Kemudian mereka membawa Lara ke dalam mobil untuk menuju rumah sakit.
"Gimana Mang Ujang ini, Den Viko sudah beberap kali ditelepon kok tidak dijawab mulu." Ucap Bi Inah merasa panik. Lalu mencoba kembali menghubujngi Den Viko.
Non Lara harus kuat iya Non. Harus bisa bertahan sebentar lagi sampai rumah sakit Non. Ucap Mang Ujang berbicara terhadap Lara, seolah olah dia mendengarkannya.
"Gimana Bi Inah, masih belum di angkat juga sama Mas Viko?" Tanya Mang Ujang.
"Belum Mang Ujang, aduh Den Viko kemana sih? Kok tidak di angkat mulu teleponnya." Gerutu Bi Inah.
"Tapi saya pernah dengar tuh, kalau kata orang biasanya kalau para pemimpin suka ada mee ... me.. me.. apa ya lupa lagi, me.."
"Meeting!" Ucap Bi Inah dan Mang Ujang bersamaan.
"Nah itu yang saya maksud, meeting." Ucap pak Eman.
"Iya juga ya, siapa tahu deh bentar lagi beres meetingnya Den Viko." Bi Inah.
Kini Mereka pun sudah sampai di rumah sakit. Lalu Mang Ujang dan Pak Eman segera membawa Lara keluar dan membawa ke dalam rumah sakit.
__ADS_1
💞💞💞
PT. hoga
"Karena rapat kita sudah selesai, maka semuanya boleh bubar dan kembali bekerja." Ucap Viko lalu menutup berkas berkas dan laptopnya.
Lalu satu persatu mulai meninggalkan ruangan rapat. Kini hanya ada Viko dan Edo.
"Oya pak, nanti pukul 09.30 wib ada pertemuan bersama Klien." Ucap Edo.
"Oke baiklah kalau begitu." Jawab Viko sambil melihat jam tangannya.
Lalu mereka berjalan menuju ruangannya kerja dan meninggalkan ruangan rapat.
"Tidak ada Do. Kamu kerjakan saja seperti biasa." Ucap Viko.
"Baik Pak." Jawab Edo.
Kini Viko sedang duduk dikursi kebesarannya. Lalu melihat handphone, betapa terkejutnya melihat panggilan dari Bi Inah sampai puluhan kali.
Ada apa iya Bi Inah telepon tumben banget? Semoga saja tidak ada sesuatu yang terjadi. Ucap Viko mencoba berpikir positif. Namun tiba tiba ada panggilan masuk dari Bi Inah, kemudian Viko langsung mengangkatnya.
"Iya hallo Bi inah, ada apa iya Bi?" Tanya Viko.
"Ini Den Viko soal Non Lara Den!" Ucap Bi Inah dari sebrang sana.
__ADS_1
"Iya Bi, Lara kenapa Bi? Apa yang terjadi sama Lara Bi?" Tanya Viko merasa cemas akan sesuatu terjadi padanya.
"Non Lara.. ?" Ucapan Bi Inah tergantung dan tidak tahu kenapa sulit untuk menjelaskannya.
"Hallo Bi, Lara kenapa Bi? Jawab Bi Inah jangan buat saya khawatir!" Ucap Viko merasa kesal.
"Non Lara masuk rumah sakit Den!" Ucap Bi inah dengan hati hati.
"A-apa?" Ucap Viko terkejut lalu merasa lemah dan melepaskan handphone tersebut.
"Pak Viko kenapa pak? Baik baik saja kan?" Tanya Edo menghampiri Viko dan mengambil handphone milik Viko.
"Saya baik baik saja kok." Jawab Viko. Lalu mengambil handphone miliknya masih tersambung dengan Bi Inah.
"Halo Bi, sekarang berada dirumah sakit mana? Sekarang juga saya kesana." Ucap Viko lalu mematikan sambungan teleponnya.
"Pak Viko mau kemana? Bukannya sebentar lagi ada pertemuan bersama klien." Ucap Edo saat melihat pimpinannya membereskan berkas berkas dan merapihkan bajunya.
"Cancel saja dulu. Bilang diundurkan untuk pertemuannya!" Ucap Viko.
"Tapi Pak .."
"Tidak ada tapi tapian, karena ada urusan yang lebih penting. Sekarang juga saya harus menemui Lara di rumah sakit." Ucap Viko sambil berlalu pergi meninggalkan ruangan kerja dan menuju parkiran mobil.
Apa di bilang katanya Istrinya masuk rumah sakit? Emang ada apa dengan Lara? Gerutu Edo merasa penasaran apa yang terjadi dengan Lara.
__ADS_1