
"Pak Viko baik baik sajakan?" Tanya Edo yang tiba tiba masuk keruangannya dan merasa khawatir karena dari tadi mendengar teriakan Atasannya dari dalam.
"Gimana ini Do, gawat ini Do." ucap Viko benar benar panik.
"Maksud Pak Viko apa ya? Maksudnya gawat apa Pak?" Tanya Edo benar benar tidak mengerti.
"Lara Do, Lara sudah... " ucapan Viko tergantung dan merasa berat untuk mengucapkan.
"Emangnya Lara kenapa Pak? Apa yang terjadi dengan Lara Pak?" Tanya Edo ikut merasa panik.
"Lara sudah mengetahui semuanya Do kalau Saya sama Vani sudah menikah Do." ucap Viko.
"Loh kok bisa Pak? Emangnya siapa yang sudah memberitahu semua ini Pak?" Tanya Edo.
"Lara bilang Vani yang memberi tahunya Do. Sekarang apa yang harus saya lakukan Do? barusan Lara datang kesini dia marah besar dan merasa kecewa Do," ucap Viko merasa bersalah.
"Maaf Pak, saya tidak bisa ikut campur dalam masalah ini. Lagi pula saya juga tidak tahu apa yang harus dilakukan Pak. Cuma saran saya sekarang Pak Viko temui Lara minta maaf sama dia dan jelaskan alasan pak Viko menikah lagi dengan Vani Pak, semoga saja nanti Lara bisa menerima semuanya setelah tahu apa yang menyebabkan Pak Viko menikah lagi." ucap Edo.
"Iya apa yang dikatakan kamu benar Do, saya harus segera temui Lara lagi dan menjelaskannya alasan semua ini tapi sebelum itu saya harus menemui Vani dulu karena dia sudah seenaknya melanggar perjanjian yang kita buat." ucap Viko sambil mengepalkan kedua tangannya.
Lalu Viko pun berjalan menuju parkiran mobil dan pergi meninggalkan perusahaan tersebut.
.
.
"Vani kamu dimana Vani?" Tanya Viko yang kini sudah sampai dirumah kediaman Vani.
"Mas Viko? Tenyata kamu datang kesini juga ya Mas." ucap Vani mendekati Suaminya dan merasa senang Viko datang ke rumahnya.
"Apa yang sudah kamu katakan sama Lara hah?" tanya Viko sambil menatap Vani.
"Maksud Mas apa ya? Emangnya apa yang terjadi dengan Lara Mas?" tanya Vani merasa tidak mengerti.
__ADS_1
"Kamu jangan pura pura tidak tahu Vani! Saya yakin ini semua karena ulahmu kan hah? Saya sudah bilang sama kamu Vani, tunggu satu minggu untuk mempersiapkan berbicara dengan Lara tapi kenapa kamu malah menunggu waktu tidak tepat hah?" Viko merasa geram lalu mencekik leher Vani.
"Mas lepasin sakit tahu. Aku berani sumpah bukan saya yang membocorkan semua ini Mas!" ucap Vani sambil menahan tangan Viko yang mencekik lehernya.
"Terus kalau bukan kamu siapa lagi hah?" ucap Viko sambil melepaskan tangannya yang tadi mencengkram leher Vani.
Uhuk. . uhuk Vani pun terbatuk.
"Aku juga tidak tahu Mas! Aku juga tadi terkejut ketika saya main ke rumah kamu tiba tiba Lara membawa buku pernikahan kita dan langsung menanyakan sama aku Mas." ucap Vani sambil mengusap lehernya yang sakit.
"Kamu benar benar tidak bohongkan Vani?" Tanya Viko.
"Buat apa Mas Aku bohong! Lagian Aku sudah sepakat untuk menunggu satu minggu sesuai ucapanmu." Ucap Vani.
Arrgh.... Teriak Viko lalu membanting barang yanga ada di meja tersebut.
"Terus apa yang kamu jawab ketika Lara bertanya hah?" ucap Viko.
"Terus apa yang harus kita lakukan Vani?" ucap Viko merasa lelah lalu duduk dikursi tamu dengan memijit kepalanya yang benar benar pusing.
"Sudahlah Mas terima saja kenyataannya. Percuma saja kita pandai menyimpan kebohongan pasti akan terbongkar juga Mas seperti yang terjadi yang sekarang Mas." Ucap Vani mencoba menenangkan suaminya.
"Tapi Saya belum siap harus kehilangan dia Vani! Dan Lara juga berkata akan segera mempercepat perceraianya dan tidak terima dengan semua yang terjadi." Ucap Viko tidak terasa airmatanya jatuh.
"Tapi bukannya itu bagus Mas kalau Lara menceraikanmu jadi kita bisa hidup bersama tanpa ada penganggu dan bisa bahagia dengan hadirnya Zahra kembali kepada orang tua kandungnya bukan." Ucap Vani sambil tersenyum.
"Kamu itu gil*a ya Vani. Kamu senang iya bilang Lara menceraikan saya gitu hah? Tapi sayangnya Saya tidak akan membiarkan itu terjadi. Dia harus tetap jadi Istriku!" ucap Viko sambil berlalu pergi dari rumah kediaman Vani.
*Flask back Off.
"Akhirnya kita sudah sampai rumah juga ya Bu," ucap Zahra.
"Iya sayang, sini bajunya Ibu ganti dulu sebelum mau main nanti kotor Sayang." ucap Lara sambil membuka baju seragam sekolah Zahra.
__ADS_1
"Iya Bu. Oya Bu tadi Bu guru bilang katanya besok harus bawa Akte kelahiran dan kartu keluarga untuk menyesuaikan data Zahra Bu," Ucap Zahra.
"Baiklah kalau begitu Sayang. Nanti Ibu cariin dulu berkas berkasnya," Ucap Lara yang kini sudah selesai mengantikan baju anaknya.
"Ya sudah Bu, Zahra mau main dulu ya bersama Bi Inah," ucap Zahra.
"Ya sudah sana tapi ingat jangan nakal dan bila Bi Inah sedang kerja jangan ganggu dia ya zahra." ucap Lara sambil tersenyum pada anaknya.
"Baik Bu," ucap Zahra lalu pergi meninggalkan Lara.
Oya iya saya harus mencari berkas berkas yang dibutuhkan Zahra tadi." Lara sambil mencari berkas tersebut.
Akhirnya ketemu juga Akte kelahiran Zahra dan Kartu keluarganya. Oya itukan buku pernikan kita? kenapa Mas Viko disimpan dibawah baju ya." Lara sambil mengambil buku pernikahan tersebut lalu membukannya.
Deg.
Lara pun merasa tidak percaya apa yang dilihatnya. Dia merasa tidak berdaya dan jantungnya melemah dan serasa berhenti seketika.
Ini tidak mungkin terjadi. Semoga saja ini hanya mimpi dengan adanya buku nikah ini tapi ini nyata kok. Kenapa sih Mas Viko berbohong dan tidak jujur selama ini hah? Kalau dia sudah menikah lagi dengan Vani! Saya tidak akan menerima Vani sebagai Istri kedua dan saya juga tidak sudi harus di madu. Saya akan menceraikan Mas Viko secepatnya karena selama ini dia membohongiku dan tidak jujur hiks.. hiks." Lara menangis sejadi jadinya. Dia merasa kecewa dan tidak menyangka kalau suaminya menghianatinya dan tidak berkata jujur selama ini.
"Kak Lara kenapa? Ada apa Kak? Apa yang terjadi Kak?" Tanya Levi dengan berbagai pertanyaan dan tiba tiba masuk kedalam kamar Kakaknya karena panik mendengar tangisan Kakak iparanya.
"Kamu lihat apa ini Lev?" Tanya Lara.
"Itukan buku pernikahan Kak. Emangnya ada apa dengan buku pernikahan ini Kak?" ucap Levi sambil mengambil buku pernikahannya dari tangan Lara.
"Coba lihat saja sama kamu Levi buka bukunya." ucap Lara. Lalu dengan segera Levi pun membukakan buku tersebut karena penasaran.
Deg.
Levi pun sama merasa terkejut ternyata ini ada buku nikah milik Vani dan Viko. Kenapa bisa buku tersebut sampai tahu Kakak iparnya. Padahal semua keluarga sepakat untuk menutupi dan tidak memberi tahu dulu kepada Lara. Tapi apalah nasi sudah menjadi bubur mungkin semuanya harus siap siap menerima kemarahan Lara karena sudah menutupi semua ini.
"Levi kenapa kamu diam saja dan merasa tidak khawatir? Atau jangan jangan kamu sudah tahu ya kalau Kakakmu menikah dengan Vani?" Tanya Lara merasa curiga karena Levi hanya diam saja tanpa ada ekspresi khawatir.
__ADS_1