
"Ya sudah yuk kita masuk." ucap Viko lalu yang lainnya pun ikut berjalan mengikuti dan mensejajarkan dengan Viko.
Namun tiba tiba Vani merasa ada sesuatu yang licin ketika berjalan alhasil Vani pun terjatuh.
"Ahhhh... " Teriak Vani.
Dengan sigap Viko pun menolong dan menahan tubuh Vani agar tidak terjatuh. Kini mata mereka saling bertemu sama lain.
Ya ampun kalau dilihat dari dekat dia begitu tampan sekali, saya makin terpesona sama Pak Viko. Jadi susah benar untuk move on. Padahal sudah punya Istri. Jangan salahkan saya iya pak Viko bila saya harus hadir diantara kalian batin Vani.
"Ehmz.. " Viko pun berdehem menyadarkan lamunan Vani.
"Eh maaf Pak dan terima kasih sudah menolong saya pak sehingga saya tidak terjatuh ke bawah." ucap Vani merasa salaht tingkah.
"Iya sama sama. Lain kali kalau jalan hati hati iya Vani." ucap Viko.
"Iya pak Viko, tadi enggak tau kenapa tiba tiba saja jalannya licin begitu. " Ucap Vani.
"Iya sudah yang penting kamu enggak kenapa napa kan? Yuk mari kita duduk!" ajak Viko saat sudah sampai di meja makan.
Lalu mereka pun duduk ditempat kursi yang sudah disediakan.
"Kamu mau pesen Van? Dan Bu sisil pesen apa?" Tanya Viko.
"Apa sajalah Pak, kita samakan sajalah Pak." Ucap Vani.
"Oke baiklah kalau begitu. Saya akan pesenkan makanannya." ucap Viko.
"Pak Viko.. pak!" Ucap Edo.
"Iya apa Do?" Tanya Viko.
"Saya tidak ditawarin makan nih?" Protes Edo.
__ADS_1
"Emangnya kamu mau makan juga?" Tanya Viko.
"Enggak mau makan. Tapi saya mau mau jadi penonton sajalah. Yaelah pak Viko ini, pasti saya kesini mau makan juga gimana sih." Kesal edo.
"Iya sorry .. lagian saya cuma bercanda kok Do. Kamu mau pesen apa?" Tanya Viko.
"Seperti biasa pak makanannya." jawab edo.
"Baiklah kalau begitu." Jawab Viko.
"Pelayan!" Te.riak Viko.
Lalu sang pelayan pun berjalan mendekati Viko.
"Iya Mas mau pesen apa ya?" Tanya Sang pelayan.
"Saya pesen ini empat dan minumnya yang ini iya." Ucap Viko.
"Iya baik Mas. Tunggu sebentar iya mas." Ucap pelayan lalu pergi menuju dapur.
Lalu seorang wanita pun datang menghampiri Viko.
"Pak Viko?" Tanya seseorang.
Karena merasa ada yang memanggilnya lalu viko pun menenggok ke arah sumber suara.
"Eh lisa, iya ada apa Lis?" Tanya Viko.
"Yaelah ada si Lilis kesini, mau ngapain kamu kesini Lis?" Tanya Edo menatap sinis.
"Eh Pak Dodo, nama saya Lisa bukan Lilis iya, enak saja main rubah nama saja." Gerutu Lisa merasa kesal.
"Terus ngapain kamu panggil saya juga Dodo hah?" Ucap Edo menatap tajam Lisa.
__ADS_1
"Habisnya kamu juga sama panggil saya dengan nama sembarangan jadi kita imbas iya." Ucap Lisa tersenyum sinis
"Enggak ada kata imbas imbasan, namanya lilis tetap saja Lilis." ucap Edo.
"Ini orang benar benar nyebelin, aku getok loh pakai gelas." Gerutu Lisa.
"Ih buseet ini cewek galak bener iya. Bener benar cewek preman butik." Celetuk Ucap Edo
"Sudah sudah kalian ini kenapa sih berantem mulu, enggak malu tuh dilihat orang." Ucap Viko.
"Habisnya tuh asisten pak Viko yang cari ribut duluan noh." Ucap Lisa.
"Eh.. " Ucapan Edo tidak dilanjutkan saat Viko menatap tajam.
"Oya Lisa tadi ada apa iya memanggil saya?" Tanya Viko.
"Oya pak, tadi saya cuma mau nanya tentang Mbak Lara aja. Kok kenapa Lara enggak masuk kerja iya?" Dia baik baik saja kan? ucap Lisa.
"Emangnya Lara tidak kabarin kamu gitu?" Tanya Viko.
"Tidak Pak!" jawab Lisa sambil mengelengkan kepala.
"Pantesan saja. Lagian Dia baik baik saja kok. Hanya butuh istirahat saja selama tiga hari." ucap Viko.
"Emangnya Lara sakit Pak? Sampai harus istirahat selama tiga hari." Ucap Lisa
"Lara tidak sakit kok, dia kemarin habis pingsan jadi kata dokter harus istirahat dulu jangan banyak pikiran dan jangan kecapean karena dia lagi hamil anakku." Ucap Viko tersenyum
"Apa lara hamil?" Ucap Vani, Edo dan Lisa bersamaan.
"Iya!" jawab Viko singkat.
"Wah selamat iya pak Viko akhirnya bentar lagi bakal jadi seorang Ayah dan Lara juga bakal jadi Ibu, Lisa jadi ikut bahagia. Moga langgeng sampai akhir hayat dan tidak ada orang tiga alias pelakor! Ucap Lisa sambil menatap sinis Vani.
__ADS_1
"Aamiin.. terima kasih Lisa atas doanya." Ucap Viko.