
"Iya sayang, lagian dia teman Ibu kok." Ucap Lara.
"Oya, masa Bu?" Tanya Zahra merasa tidak percaya.
"Iya. Emangnya kenapa Sayang?" Tanya Lara.
"Tidak ada apa apa Bu. Tapi Zahra benar tidak menyangka Ibu bisa berteman dengan pemilik sekolahan ini." Ucap Lara.
"Apa? Pemilik sekolahan ini?" Lara merasa terkejut dan tidak percaya.
"Iya Bu. Masa Ibu tidak tahu sih katanya dia teman Ibu. Oya Bu tahu tidak tadi Bapak itu juga nyuruh Zahra memperkenalkan diri terus dikasih asesoris deh semuanya teman teman Zahra juga." Ucap Zahra merasa senang.
"Benarkah?" Tanya Lara.
"Iya Bu." Jawab Zahra.
Lalu mobil yang menjemput Lara dan Zahra pun sudah datang.
"Ya sudah yuk kita masuk sayang." Ucap Lara pada anakknya.
"Iya Bu." Jawab Zahra.
Lalu mereka pun masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan sekolah Taman Kanak Kanak Intan Husada dan berjalan menuju rumahnya untuk pulang.
.
.
Pt. Higo Kusumajaya
"Mas aku benar benar tidak tahan lagi harus hidup tanpa anak aku Mas. Lagian kenapa sih Mas tidak jujur saja pada Lara hah?" Ucap Vani sambil menatap tajam Viko.
"Tunggu sajalah waktu yang tepat untuk berbicara dengan Lara. Lagian tidak mungkin aku memisahkan Zahra dengan Lara, dia begitu sama sama bahagia sebagai Ibu." Ucap Viko.
"Mas itu benar benar egois ya lebih mementingkan Lara dari pada aku hah? Mas bilang menunggu waktu yang tepat hah? Sampai kapan Mas." Ucap Vani merasa emosi.
"Vani kamu itu apa apaan sih teriak teriak begitu ini dikantor bukan dirumah!" Ucap Viko merasa geram.
__ADS_1
"Aku tidak peduli ini dirumah atau pun di kantor yang penting aku mau kembalikan anakku dan ceraikan Lara!" Ucap Vani.
"Oke aku akan kembalikan anakmu tapi maaf aku tidak bisa menceraikan dia!" Ucap Viko menatap Vani.
"Kamu itu benar benar ya Viko! Oke baiklah kalau begitu. Tapi aku mau ketika anakku kembali izinkan aku untuk tinggal bersama kalian." Ucap Vani.
"Tidak bisa!" Ucap Viko.
"Loh kenapa Mas? Aku ini Istri kamu Mas. Dan aku tidak mungkin membiarkan anakku hidup tanpa Ayahnya Mas." Ucap Lara menatap Viko.
"Karena aku tidak mungkin membiarkan kalian serumah, karena tidak mau terjadi apa apa yang membuat hubungan kalian dan aku berantakan karena ada kecemburuan." Ucap Viko.
"Terus kamu mau membiarkan anak kamu sedih karena jauh dari Ayahnya dan Lara. Karena aku yakin tidak segampang itu Zahra bisa menerimaku dan menganggapku sebagai Ibu kandungnya Mas. Dan Mas tega ya bila melihat Lara sedih karena kehilangan anak adopsinya hah?" Ucap Vani menatap Viko.
Lalu Viko pun hanya diam saja dan berpikir sejenak tanpa menjawab perkataan Vani.
"Oke baiklah kalau begitu. Tapi aku butuh satu minggu untuk menjelaskan semuanya kepada Lara dan aku akan mengabari kamu jika Lara sudah menerima kamu." Ucap Viko.
"Baiklah kalau begitu Mas. Saya tunggu kabarmu lagi. Ya sudah saya permisi Mas karena ada urusan yang harus aku kerjakan." Ucap Vani.
"Heem." Jawab Viko.
Argggh...
Apa yang harus aku perbuat? Tidak mungkinkan aku berkata jujur kepada Lara kalau aku sudah menikah lagi dan anak yang di adopsinya adalah anak Vani. Pasti aku yakin Lara bakal kecewa dan tidak akan menerimaku lagi. Aku belum siap harus kehilangan dia. Lagian dia bagiku Istri yang begitu sempurna karena sikap dan prilakunya.
Arrgh.... teriak Viko benar benar stresss.
"Pak Viko baik baik sajakan?" Tanya Edo yang tiba tiba masuk dan mendapati Atasannya berteriak.
"Entahlah Do, saya benar benar stres dan tidak tahu harus berbuat apalagi." Ucap Viko benar benar pasrah.
"Oya saya lihat tadi ada Vani ya kesini Pak?" Tanya Edo.
"Iya Do. Dan kamu tahu dia meminta saya menceraikan Lara dan mengembalikan anaknya Do. Dia itu benar gil* ya." Ucap Viko.
"Wah gimana dong Pak Viko. Terus apa yang akan Pak Viko lakukan dong?" Tanya Edo.
__ADS_1
"Entahlah Do, saya benar benar pusing apa yang harus lakukan. Bila saya jujur sekarang saya belum siap kehilangan Lara Do ." Ucap Viko sambil memijit kepalanya yang tidak pusing.
"Yang sabar dan kuat ya pak Viko. semoga saja semuanya dapat diselesaikan dengan baik ya Pak." ucap Edo.
"Ya makasih Do." Ucap Viko sebentar memejamkan matanya.
Lalu Edo pun meninggalkan Atasannya setelah selesai memberikan berkas berkas tersebut. Edo pikir Viko membutuhkan waktu sejenak untuk menghilangkan beban pikiran yang terjadi.
"Mas apakah benar kalau Mas sudah menikah lagi?" Ucap Lara yang tiba tiba datang dan menatap tajam Viko.
"Maksud kamu apa sayang?" Tanya Viko merasa bingung.
"Mas jangan pura pura bohong dan jangan pura pura bego Mas. Jujur saja Mas kalau Mas menikah lagi kan hah?" Tanya Lara.
"Sayang maksud kamu apa sih Mas sungguh tidak mengerti?" Ucap Viko lalu berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Istrinya.
"Mas bilang tidak mengerti hah? Mas apa salahnya sih Mas kasih tahu saya dan jujur sama saya dari awal Mas? Mungkin aku akan merelakan kalian untuk hidup bersama apalagi dengan hadirnya Zahra Mas." Ucap Lara tidak terasa airmatanya menetes membasahi wajah cantiknya.
"Kenapa kamu bilang gitu Sayang. Lagian kata siapa Mas menikah lagi dengan Vani? Mungkin ada orang yang iri dengan keharmonisan kita sehingga mereka memfitnah Mas sayang." Ucap Viko.
"Terus Saya harus percaya gitu sama Mas hah? Dan mereka Mas bilang sudah memfitnah Mas gitu? Terus apa nih buktinya Mas hah?" Geram Lara dan merasa kecewa dengan suaminya lalu memberikan bukti buku nikah milik Viko dan Vani.
Deg..
Jantung Viko terasa berhenti begitu saja. Sesak tiba tiba dan tubuhnya melemah jatuh kebawah. Merasa tidak percaya secepat itukah Vani memberi tahu Lara dan mengingkari perjanjiannya.
"Jadi apa yang dikatakan Vani benar Mas? Kalau Mas menikah lagi dengan dia hah?" Ucap Lara sambil menatap Suaminya dan menitiskan airmatanya.
"Maafkan Mas sayang, Maafkan Mas sudah membohongi kamu dan tidak jujur sama kamu Sayang." Ucap Viko dengan suara sendu sedih lalu memeluk Istrinya.
"Lagian kenapa sih Mas, tidak pernah jujur dari awal Mas? Saya juga berhak tahu Mas atas semua ini Mas!" Bentak Lara sambil menginbaskan pelukan suaminya dengan kasar.
"Sayang memang Mas bersalah sama kamu. Tapi Mas mohon jangan membenci Mas sayang dan jangan pergi meninggalkan Mas." Ucap Viko berusaha mendekati Istrinya.
"Cukup sudah Mas!! Sudahlah Mas mungkin pernikahan kita tidak bisa dipertahankan lagi. Lagi pula Mas berhak bahagia bersama Vani dan Zahra Mas, sedangkan saya apa Mas? wanita yang mandul dan selalu menyusahkan kamu." Ucap Lara dengan sesegukan.
"Sayang kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Dan kamu harus tahu kamulah wanita satu satunya yang Mas cintai dan sayangi Lara." Ucap Viko menatap Istrinya.
__ADS_1
"Janjimu palsu Mas. Kalau emang iya Mas cinta dan Sayang sama Lara kenapa kamu menikah lagi hah? Sudahlah Mas saya harus pergi sekarang juga dan Saya akan secepatnya urus perceraian kita!" Ucap Lara sambil berjalan keluar dan menghapus airmatanya.
"Ini tidak boleh terjadi Lara!!! Sampai kapan pun Mas tidak akan menceraikan kamu Lara!!" Aarggghh... teriak Viko merasa marah dan geram tidak terima keputusan Lara.