
"Zahra, kamu kenapa Nak?" Tanya Lara sambil menghampiri Zahra.
"Ibu, Zahra ini lagi sakit Bu." Jawab Zahra sambil menatap Lara.
"Emangnya, kamu lagi sakit apa Nak?" Tanya Lara sambil menjongkokkan tubuhnya sejajar dengan Zahra.
"Kata dokter bilang, kalau Zahra sakit terkena kanker otak Bu. Dan dokter bilang hidup Zahra tidak akan lama lagi hiks hiks." Ucap Zahra sambil menangis.
"Apa benar Bu apa yang dikatakan Zahra, kalau Zahra sakit terkena kanker otak?" Tanya Lara kepada Bu Ria, untuk memastikan omongan Zahra.
"Iya Lara," jawab Bu Ria sambil menganggukan kepala.
"Ya ampun sayang, kasihan sekali dirimu Nak. Kenapa berat sekali ujianmu Nak." Lara sambil memeluk Zahra.
"Ibu.... hiks hiks." Zahra tiba tiba menangis lalu membalas pelukan Ibunya.
"Sayang, kamu jangan menangis. Kamu harus percaya dan yakin, kalau kamu pasti sembuh ya Nak. Dan kamu juga disini, tidak sendiri Nak. Ada Mamihmu, ada Ayahmu, ada Omah juga sayang." Lara sambil mengusap airmata yang menetes dipipi wajah cantik Zahra dan mencoba untuk menenangkan Zahra.
"Iya Bu. Oya Bu, bolehkah Zahra meminta permintaan sama Ibu? Sebelum Zahra tidak ada di dunia ini lagi." Ucap Zahra sambil menatap Ibunya.
"Sstt.... kamu tidak boleh berbicara begitu Nak, Ibu paling benci sama orang yang suka mengeluh dan berkata seperti." Ucap Lara sambil menatap Zahra. "Boleh kok Nak, emangnya kamu mau meminta apa Nak?" Tanya Lara.
"Zahra dengar, katanya Ayah mau menceraikan Mamih ya? Zahra mohon Bu, jangan biarkan mereka berpisah Bu. Apa jadinya Bu, bila Mamih sama Ayah berpisah. Zahra tidak bisa mendapatkan lagi kasih sayang dari Ayah sama Mamih, Bu." Ucap Zahra sambil memohon.
Deg. Lara pun, benar benar bingung harus berkata apa. Haruskah Lara rela untuk membiarkan Vani dan Viko kembali bersatu, demi Zahra yang kini sedang dalam keadaan sakit. Dan benar benar butuh seseorang yang membuat hidupnya menjadi semangat.
"Ibu, kenapa diam saja Bu. Jawab perkataan Zahra Bu, apakah Ibu tidak tega melihat Zahra yang kini sedang sakit harus kehilangan salah satu kedua orangtua Zahra? Mereka adalah penyemangat Zahra Bu." Ucap Zahra.
Kemudian Lara pun menatap Viko, dan bergiliran menatap Zahra sambil menghembuskan napas kasarnya. Begitu berat pilihannya, Zahra tidak tahu harus berkata apa saat melihat Zahra seperti ini.
"Zahra sayang, maaf Ayah tidak bisa. Ayah tetap harus menceraikan Mamihmu. Dan Ayah sama Mamih sama sama tidak bisa bersatu lagi," Ucap Viko sambil menghampiri Zahra.
"Kenapa yah? Kenapa Ayah tetap pingin menceraikan Mamih? Ayah sudah tidak sayang sama Mamih Yah? Apa salah Mamih, sama Ayah?" Tanya Zahra sambil menatap Viko.
__ADS_1
"Maaf sayang, karena Mamihmu begitu sudah banyak membohongi Ayah. Dan asal kamu tahu Nak, kalau kamu itu-" ucapan Viko terputus saat Lara menghampirinya dan menatap tajam dirinya serta menggelengkan kepala.
"Iya Ayah, kalau Zahra kenapa Ayah?" Tanya Zahra merasa penasaran dengan ucapan Viko yang tidak dilanjutkan.
"Maksud Ayahmu, kalau kamu itu harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran sayang." Ucap Lara sambil tersenyum kepada Zahra.
"Apakah betul, yang dikatakan Ibu Ayah?" Tanya Zahra sambil menatap Viko.
"Iya sayang. Ya sudah, sekarang kamu tidur sudah malam sayang." ucap Viko sambil tersenyum kepada Zahra.
"Baiklah Ayah. Ya sudah kalau gitu, Zahra mau tidur dulu ya Mamih, Omah." Ucap Zahra.
"Iya sayang." Jawab Vani.
"Ingat Ayah, Ibu, permintaan Zahra ya." Zahra.
Kemudian Zahra pun, pergi berlalu berjalan menuju kamarnya dan di antar oleh Bi Sri.
"Sudahlah Vani, tidak perlu lagi dibahas lagi. Dan asal kamu tahu, aku akan tetap menceraikanmu! Ayo sayang, kita tidur sudah malam." Ajak Viko sambil merangkul pundak istrinya lalu pergi meninggal Vani dan Bu Ria untuk ke bedroom.
"Bu...." panggil Vani kepada Bu Ria.
"Maaf Nak, Ibu tidak bisa ikut campur lagi. Biarkan ini masalahmu dan Viko. Ya sudah Ibu pamit mau tidur dulu." Bu Ria sambil berlalu pergi meninggalkan Vani sendirian.
Ahhh.... teriak Vani. 'Kenapa ini bisa terjadi seperti ini? Aku yakin, ini pasti si Andri yang kasih tahu semuanya. Dasar kurang ajar kamu, Andri bajingan! Ahhh.... teriak Vani benar benar kesal dan marah.
.
.
"Sayang, kenapa kamu mencegah aku untuk tetap merahasiakan Zahra kalau dia bukan anakku." Ucap Viko yang kini sedang berada di bedroom sedang mengganti bajunya.
"Tapi ini bukan saat yang tepat Mas untuk memberitahu Zahra. Apalagi Zahra lagi sakit, aku tidak mau membuat Zahra jadi down dan tidak ada semangat untuk sembuh Mas." Ucap Lara yang kini sedang ada dijendela bedroom dan pandangannya menatap keluar.
__ADS_1
"Tapi sampai kapan kita akan merahasiakannya?" Tanya Viko sambil berjalan menghampiri Lara.
"Sampai kita menemukan siapa Ayah kandung Zahra. Dan setelah itu, kita bawa dia kesini dan biarkan Ayahnya yang menjelaskannya Mas. " ucap Lara.
"Baiklah kalau begitu sayang. Lagian ini sudah malam, tidur yuk. Kita tenggokin baby kita." Ucap Viko yang kini sedang memeluk Lara dari belakang.
"Ih apaan sih Mas." Ucap Lara menjadi salah tingkah.
"Sudahlah sayang, ayo! Sudah lama kita tidak menikmati surga dunia," ucap Viko sambil mengendong istrinya menuju ranjang, lalu menidurkannya dengan secara perlahan lahan.
"Tunggu Mas!" Ucap Lara.
"Kenapa lagi sayang? Mas sudah tidak tahan lagi." Viko yang kini sudah membuka bajunya.
"Matiin lampunya Mas. Kasihan para readars lagi puasa lho, nanti mereka batal ikut haredang kalau lihat kita diatas ranjang.😂"
"Eh iya lupa sayang," ucap Viko dengan segera mematikan lampu kamarnya dan kini mereka sedang menikmati surga dunia.
**jangan lupa kasih likenya kak dan tinggalkan jejaknya😍😘.
***
sekalian mau promo lagi nih, punya teman saya yang ceritanya tidak kalah seru dan bikin baper. Yuk kepoin karyanya.
Judul : Ibu Izinkan Aku Bahagia
Napen : Sutihat Basti Wibowo
Ditinggalkan oleh sang Ayah dengan dalih mencari pekerjaan di usianya yang baru 2 tahun, membuat Ananda Shaka yang kini telah berusia 6 tahun memendam kerinduan yang mendalam pada sang Ayah. Setiap hari dalam angan Shaka adalah serba Ayahnya. Keinginan Shaka untuk bertemu sang Ayah menorehkan pilu dalam dada sang Ibu.
Di tengah deruan rasa rindunya pada sang Ayah, tanpa sepengetahannya ternyata sang Ayah telah menceraikan Ibunya lewat sepucuk surat yang dikirimkan melalui sahabat Ayahnya. Kenyataan pahit itu membuat sang Ibu tak berdaya. Di sisi lain sang Ayah berpesan agar Shaka tidak mencari dan menemuinya lagi.
Akankah kerinduan Shaka pada sang Ayah berakhir dengan sebuah pertemuan atau mungkin tidak ???
__ADS_1