
"Ayo kita ikuti mobil itu Do!! Dia itu sebenarnya kenapa sih Do, ketemu sama suaminya sendiri malah kabur kayak lihat apa gitu," gerutu Viko merasa kecewa lalu memasuki mobil.
"Sabar Pak Viko mungkin Lara belum siap untuk bertemu dengan pak Viko. Lara pasti butuh waktu untuk menerima semua ini." Ucap Edo.
"Padahal saya kangen dan rindu sama Lara Do. Ya sudah kita potong jalan sana siapa tahu kita duluan yang sampai," jawab Viko.
"Baik Pak," jawab Edo.
Lalu mobil Viko pun menjalankannya berlainan arah. Dia berharap bisa bertemu dengan Istrinya. Namun tiba tiba...
'Sttiittttt... mobil Viko dan Lara pun tepat berhenti berhadapan .
"Shitt***** \, gimana ini Lis\, mobil Mas Viko menghadang kita!!" Tanya Lara merasa kesal.
"Lisa juga tidak tahu harus apa yang dilakukan, mungkin kita tidak bisa Lari dari mereka Lara!!" Ucap Lisa.
"Arrgh.... " teriak Lara merasa kesal.
Tok.. tok.. tok .. suara mengetuk pintu kaca mobil.
"Lara tolong buka pintunya Lara!!" Teriak Viko sambil mengetuk pintu kaca mobil.
"Gimana dong Lara, kita tidak mungkin menghindar dari Pak Viko." Ucap Lisa merasa gelisah.
"Kamu yang sabar ya Lisa, kamu tidak usah khawatir dan Saya yakin semuanya akan baik baik saja Lisa," ucap Lara mencoba menenangkan sahabatnya.
"Baiklah kalau begitu," jawab Lisa.
"Lara tolong buka pintunya, ini suami kamu bukan orang lain Lara!!" Teriak Viko masih mengetuk pintu kaca mobil.
Lalu tiba tiba Lara pun keluar dari mobilnya, dia memilih menyerah.
"Lara!!" Teriak Viko sambil memeluk Istrinya.
"Lara kamu kemana saja sayang? Mas sangat mengkhawatirkanmu dan merindukanmu sayang, kenapa kamu tidak pulang pulang ke rumah." Tanya Viko ada rasa bahagia dan cemas.
"Ck, kenapa kamu peduli banget saya hah?" Tanya Lara sambil menguraikan pelukannya dan menatap sinis suaminya.
"Tentu saja sayang, saya peduli sama kamu karena kamu Istriku," ucap Viko kembali memeluk Lara namun sayangnya pelukannya dihempaskan kasar oleh Lara.
__ADS_1
"Bukannya Mas sudah bahagia bersama Vani dan anakmu terus ngapain kamu masih mengharapkanku hah?" Tanya Lara dengan menahan airmatanya yang memanas.
"Apa yang kamu ucapkan itu tidak benar Lara!! Mas tidak pernah bahagia bersama Vani, karena hati Mas cuma ada kamu Lara." Ucap Viko sambil menatap Lara.
"Tidak mungkin Mas tidak bahagia, karena disana ada anak kamu Mas!!" Ucap Lara tidak terasa airmatanya terjatuh.
"Lara, kamu dengerin saya Lara!! Walaupun disana ada anak Mas, bukan berarti Mas bahagia bersama Vani. Lagian pernikahan saya dan Vani bukan karena saling mencintai tapi karena paksaan." ucap Viko mencoba menjelaskannya.
"Terus saya harus percaya begitu saja iya hah?" Tanya Lara menatap sinis suaminya.
"Tentu saja kamu harus percaya sama Mas, dan kamu tahu kejadian itulah yang membuat Mas jadi lupa sampai menyentuhnya." Ucap Viko sambil memegang tangan Lara.
"Maksudnya kejadian apa hah?" Tanya Lara.
"Iya kejadian yang membuat Vani sampai hamil karena kesalahan waktu di cafe dan kamu tahu waktu itu saya stress karena jujur waktu itu sangat berat buat menikah lagi dan saya pun sudah tahu resikonya bakal seperti ini Lara." Lalu Viko pun menceritakan waktu kejadian itu sampai melakukan hubungan suami Istri hingga selesai.
"Terus kenapa kamu harus menyesali semua itu hah? Bukannya dia sudah sah menjadi Istri kamu dan seharusnya kamu memberikan dia nafkah batin dan lahir juga dong," ucap Lara sambil mengusap airmatanya.
"Tapi saya tidak mencintai dia Lara. Saya sudah katakan sama kamu berapa kali kalau saya dan-"
"Sudah cukup Mas!! Lebih baik Mas pulang kasihan anakmu nanti mencarimu," ucap Lara.
"Oke, saya akan pulang tapi harus pulang dengan kamu!!" Ucap Viko sambil menatap Lara.
"Emang iya Mas gila karena kamu Lara!! Terus Mas harus gimana supaya kamu mau pulang kerumah? Apa perlu Mas usir Vani dan Zahra dari rumah biar kamu mau pulang ke rumah? Kalau emang begitu Mas akan lakukan Lara." Ucap Viko.
"Jangan lakukan itu Mas! Kasihan Zahra di masih kecil dan belum tahu apa apa. Jangan biarkan Zahra jadi korban karena keegoisan orangtua." Ucap Lara sambil menatap Viko.
"Terus apa yang harus saya lakukan supaya kamu pulang ke rumah hah?" Tanya Viko.
"Entahlah Mas tapi saya benar benar tidak bisa pulang kerumah! Sebenarnya hatiku menolak Mas kamu menikah lagi dengan wanita lain. Saya tidak mau kalau harus berbagi Mas hiks .. hiks." Lara kembali menangis lagi.
"Sayang maafkan Mas, sebenarnya Mas terpaksa menduakan kamu karena keadaan kondisi Mas waktu itu lagi darurat dan hanya ingin menyelamatkan kamu sayang. Lagian Edo dan Lisa sudah tahu kok," ucap Viko sambil memeluk istrinya.
"Terus apa yang akan kamu lakukan Mas sekarang? Mas mau mempertahankan Vani dan Saya iya Mas? Aku tidak mau Mas hiks.. hiks.." ucap Lara sambil memukul dada bidang suaminya.
"Sayang kamu harus tenang sayang! Lagian juga Mas bingung bila harus menceraikan Vani disana ada Zahra, tidak mungkin karena keegoisan Mas, Zahra jadi korbannya." Ucap Viko.
"Ya sudah kalau begitu pergilah dari sini, dan kembalilah pada Vani. Ceraikan saya Mas." Ucap Lara sambil menangis dan melangkah pergi.
__ADS_1
"Tunggu Lara!! Kenapa kamu berbicara seperti itu hah? Lagian saya lebih baik menceraikan Vani dari pada harus kehilanganmu," ucap Viko sambil memeluk Lara dari belakang.
"Lalu bagaimana dengan Zahra Mas?" Tanya Lara.
"Kamu tidak usah khawatir tentang Zahra sayang, Mas akan mencoba menjelaskan kepada Zahra secara perlahan lahan antara hubungan Mas, kamu dan Vani. Mas yakin Zahra pasti ngerti kok, apalagi dia dari kecil sudah lama dengan kamu jadi tidak ada salahnya dia ikut bersama kita." Ucap Viko sambil menatap Lara.
"Tapi Mas, Lara tidak tega bila Mas menceraikan Vani, dia orang yang sudah menolong Mas dan saya. Tapi Lara menolak harus berbagi." Ucap Lara merasa bingung.
"Kamu tidak perlu khawatir Lara, Mas akan mengembalikan saham yang pernah Vani berikan kepada Mas dan agar nanti kita tidak pernah merasa hutang budi terhadap Vani. Karena Mas merasa aneh, dia mau membantu Mas tapi harus menikahi Vani." Ucap Viko menenangkan Istrinya.
"Baiklah kalau begitu Mas," jawab Lara.
"Tapi tunggu waktu satu minggu untuk menceraikan Vani, karena Zahra sekarang lagi mulai menerima Vani sebagai Ibunya. Terus sekarang kamu mau pulang kemana?" Tanya Viko.
"Entahlah Mas mungkin pulang kerumah Lisa lagi." Jawab Lara.
"Tidak boleh!! Kita akan tinggal di apartement, mulai sekarang juga kamu harus pulang ke apartement," ucap Viko sambil menatap Istrinya.
"Baiklah kalau begitu Mas," jawab Lara.
"Oke sayang. Ya sudah kita pulang kepala Mas sedikit pusing dan pingin beristirahat." Ajak Viko.
"Baiklah Mas, tapi Lara mau ke rumah Lisa dulu untuk mengambil baju baju dulu," ucap Viko.
"Tidak usah biar Edo yang mengambilkan baju baju kamu bersama temanmu itu," ucap Viko.
"Iya benar Lara!!" Ucap Edo dan Lisa bersamaan.
"Iss.. dasar," ucap Lisa menatap sinis Edo.
"Apa hah?" Tanya Edo menatap sinis balik Lisa.
Namun Lisa pun memilih untuk tidak menanggapi perkataan Edo karena tidak akan selesai urusannya.
"Apa yang dikatakan Pak Viko benar Lara biar saya dan Edo mengambil barang barangnya." Ucap Lisa sambil menatap Lara dan Viko.
"Baiklah kalau begitu. Maaf Lisa, saya sudah merepotkanmu." Ucap Lara.
"Tidak kok Lara." Jawab Lisa.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu kita pulang." Ajak Viko.
Lalu Lara dan Viko pun pergi berjalan menuju apartemen sedangkan Lisa dan Edo menuju rumah Lisa untuk mengambil barang barang kepunyaan Lara.