
Rumah Sakit Inter
Setelah sampai di rumah sakit, Vani pun segera dibawa ke ruangan UGD(Unit Gawat Darurat) oleh beberapa Suster dan Dokter.
"Maaf ya Mas, harap tunggu disini dulu tidak diperbolehkan masuk." Ucap salah seorang suster.
"Baik Suster." Jawab Viko.
"Ayah, Zahra takut Mamih kenapa napa Ayah. Baru juga Zahra kenal setelah tiga hari kepergian Ibu Lara dari rumah. Dia yang selalu ada buat Zahra, selalu membelikan apa yang Zahra pinta bahkan Mamih pun setiap hari suka membelikan boneka buat Zahra hiks.. hiks.. " tangis Zahra seakan akan lupa akan Mamihnya yang mengancam dirinya karena suatu kebaikan Vani dulu terhadap Zahra.
"Kamu yang sabar Sayang, Ayah yakin pasti Mamih kamu akan baik baik saja Sayang." Ucap Viko sambil mencium lembut rambut Zahra dan mencoba menangkan anaknya.
Padahal Viko tahu, Vani melakukan hal seperti itu agar Zahra bisa menerima Vani sebagai Ibu kandungnya, dan terbukti ketika Vani melakukan hal tersebut Zahra dengan pelan pelan bisa mulai menerima Vani.
Setengah jam kemudian...
Seorang Dokter dan Suster pun keluar dari ruangan rawatnya kemudian Viko dan Zahra pun mulai menghampiri Dokter tersebut.
"Gimana Dokter, keadaan Vani sekarang?" Tanya Viko kepada Sang Dokter.
"Beliau baik baik saja kok. Maaf Mas siapanya beliau?" Tanya Dokter terhadap Viko.
__ADS_1
"Saya Suaminya Dokter. Oya Dokter boleh Saya masuk ke dalam?" Tanya Viko.
"Tentu saja boleh. Ya sudah kalau begitu saya permisi Mas." Pamit Dokter Lili.
"Iya silahkan Dok." Jawab Viko.
Lalu dengan segera Viko dan Zahra pun masuk ke dalam ruangan dimana Vani dirawat.
"Mamih?" Ucap Zahra menghampiri Mamihnya.
"Iya Sayang, kenapa?" Tanya Vani terhadap Zahra.
"Tadi Zahra begitu mengkhawatirkan Mamih, takut kenapa napa," ucap Zahra yang kini sedang duduk di atas kursi dekat Mamihnya.
"Iya Mamih." Ucap Zahra sambil tersenyum.
"Oya karena Mamih Kamu sudah baik baik saja, Ayah mau pergi dulu." ucap Viko sambil menatap Zahra.
"Ayah mau pergi kemana?" Tanya Zahra.
"Ayah harus kerja Sayang, jadi Ayah tidak mungkin harus menemani Mamihmu dan Kamu." Ucap Viko sambil mengusap lembut rambut Zahra.
__ADS_1
"Oh gitu ya Ayah. Ya sudah kalau begitu, nanti pulang kerja kesini lagi ya Ayah. Tidak mungkinkan Zahra tidur berdua bersama Mamih di rumah sakit." Ucap Zahra sambil menatap Ayahnya.
"Iya Sayang, nanti Ayah akan kesini lagi kok." Ucap Viko.
"Baiklah kalau begitu Ayah." Ucap Zahra sambil tersenyum.
"Oke, kalau begitu Ayah pergi dulu. Dan kamu Vani, jaga diri baik baik dan jangan lupa minum obatnya." Ucap Viko sambil menatap Vani.
"Iya Mas." Jawab Vani.
Lalu Viko pun pergi meninggalkan Vani dan Zahra menuju mobilnya.
Urusan Vani sudah beres di antarken ke rumah sakit, sekarang aku harus menemui Lara, aku merasa bersalah sama dia karena tadi sudah membentak Lara dan mencuekkan dia tadi gerutu Viko sambil berjalan menjalankan mobilnya menuju apartemen.
1 jam sudah perjalanan menuju Apartemen milik Viko. Dengan segera Viko keluar dari mobilnya berjalan masuk ke dalam apartemen.
"Lara?" Ucap Viko memanggil Istrinya saat sudah memasuki apartemen.
Lara? Kemana kamu Lara? Teriak Viko sambil mencari seluruh ruangan tapi tidak menemukan Lara.
Kemana Lara? Kenapa aku teriak teriak dia tidak menjawab, dan tidak menemukan dia disini? Ah, aku tahu pasti Lara ada di kamar gerutu Viko sambil berjalan menuju kamar. Namun Sayangnya Viko tidak menemukan Lara lalu Viko menatap ada selembar kertas di atas meja, dengan segera Viko mengambilnya dan betapa terkejut dan tidak percaya isi dari kertas tersebut dari Lara.
__ADS_1
Ini tidak boleh terjadi, aku tidak akan membiarkan kamu pergi Lara! Maaf aku tadi sudah membentakmu dan bukan maksud aku tidak mempercayai kamu, tapi aku bingung karena belum tahu bukti mana yang benar dan mana yang salah. Aku harus mencari Lara kemana? Oh iya Aku harus cari Lara ke rumah Lisa, karena waktu itu pun Lara ada di rumah Lisa ucap Viko sambil berjalan memasuki mobilnya untuk ke rumah Lisa.