
Ini tidak boleh terjadi, ya tidak boleh terjadi! Tapi saya bisa apa ini sudah terjadi semuanya. Arghhhh... kamu harus sabar Viko, tidak boleh frustasi kayak gini. Andai saja waktu itu saya tidak mabuk pasti tidak akan seperti kejadiannya. Terus saya harusĀ gimana dong? Benar benar membuatku jadi bingung." Gerutu Viko pada diri sendiri dan merasa tidak percaya kejadian waktu itu bisa membuat Vani sampai hamil.
Argghh... teriak Viko sambil melemparkan buku buku kerja yang ada di mejanya.
"Pak Viko kenapa? Baik baik saja kan Pak?" Tanya Edo yang tiba tiba saja masuk ke dalam ruangan.
Namun Viko pun hanya diam saja tanpa menjawab perkataan Edo. lalu memejamkan matanya sebentar.
"Do apa yang akan kamu lakukan bila seseorang yang kita tidak cintai malah hamil?" Tanya Viko pada Edo.
"Pak Viko ini pertanyaannya lucu sekali Pak. Mana mungkin orang yang tidak kita cintai bisa hamil Pak. Lagian kita mencintainya jadi tidak mungkin bisa menyentuh sama sekali terhadap orang itu," jawab Edo.
"Do saya ini serius nanya loh. Kamu jangan menganggap saya lagi bercanda." Kesal Viko sambil menatap Viko.
"Ya ampun Pak Viko ini ya. Lagian saya juga serius jawabnya Pak. Coba saja Pak Viko banyangin nih misalnya nih Pak Viko benar benar sayang dan cintai sama Lara jadi pasti akan melakukan apapun demi dia. Beda kan sama si Vani tidak mungkin Pak Viko bisa menyentuhnya apa lagi melakukan hubungan suami Istri karena Pak Viko tidak punya perasaan apa apa sama dia," ucap Edo menjelaskan.
"Naha itu dia justru sebaliknya Do. Saya benar benar pusing dan frustasi Do. Apa yang harus saya lakukan?" Tanya Viko berharap Edo mendapat solusinya.
"Maksud Pak Viko apaan sih , sungguh saya tidak mengerti Pak." Ucap Edo benar benar tidak mengerti.
"Vani Do, Vani... " ucapan Viko tidak dilanjutkan dia merasa berat untuk mengatakannya.
__ADS_1
"Maksud Pak Viko, emangnya Vani kenapa?" Tanya Edo semakin penasaran.
"Vani hamil Do," ucap Viko.
"Apa? Kok bisa? Jadian kalian sudah melakukan hubungan Suami Istri?" Tanya Edo benar benar tidak percaya.
"Iya Do. Itu juga karena tidak sengaja. Lagian waktu itu saya keadaan mabuk," ucap Viko merasa kecewa dengan sikapnya sendiri.
"Bagaimana ceritanya Pak Viko sampai bisa begitu hah? Coba jelasin apa yang terjadi waktu itu." Ucap Edo.
Lalu Viko pun menceritakan tentang kejadian waktu itu secara detail kepada Edo. Dan Edo pun merasa terkejut dan tidak percaya apa yang di ucapkan oleh Viko.
"Ternyata begitu tuh Pak Viko ceritanya. Hebat benar cuma sekali melakukannya sudah membuat Vani hamil," sindir Edo.
"Sory Pak Viko hehe... kalau sudah gini ya ribet Pak urusannnya. Vani lagi hamil mengandung anak Pak Viko. Sedangkan Lara orang yang Pak Viko sangat cintai dan sayangi. Jadi tidak ada pilihan lain dong Pak mempertahankan dua wanita tersebut." Ucap Edo.
"Entahlah Do, saya juga merasa pusing apa yang harus saya lakukan," ucap Viko sambil memijit kepalanya yang pusing.
"Ya sudah harus gimana lagi dong Pak. Lagian anak yang dikandung Vani pasti sudah anak Pak Viko. Kasihan kan bila jadinya lahir kedunia anak tersebut tanpa ada seorang Ayah." Ucap Edo.
"Saya benar benar pusing Do." Ucap Viko entah apa yang harus dilakukan.
__ADS_1
"Sabar ya Pak Viko. Mungkin ini cobaan rumah tanggamu bersama Lara." Ucap Edo merasa tidak tega.
Lalu Viko pun hanya menganggukan kepala.
"Oya saya baru ingat Do. Kan Lara mengingingkan untuk mengadopsi seorang anak. Saya akan meminta Vani untuk menyerahkan anak yang ada dikandung Vani kepada Lara agar Lara bisa mengurusnya. Dan saya tidak akan jauh dari anak saya dan juga Lara." Ucap Viko sambil tersenyum dan merasa lega.
"Seriusan Lara mau mengadopsi anak?" Tanya Edo merasa tidak percaya.
"Heem Do. Dia yang meminta sendiri. Maka untuk itu setelah anak saya lahir dia harus tinggal sama Lara dan saya." Ucap Viko.
"Terus bagaimana dengan Vani? Pak Viko mau menceraikan di begitu?" Tanya Edo.
"Tentu saja tidak Do. Saya tidak mungkin menceraikan dia sebelum saya melunasi semua hutang dan pinjaman yang pernah keluarga Vani kasih. Kecuali Lara sudah ikhlas dan menerima Vani sebagai Istri kedua saya maka saya akan mempertahankan dia. Saya tidak mungkin memisahkan anak bersama Ibunya. Lagian rencana itu saya lakukan agar Lara tidak curiga dan bisa menerima apa yang terjadi sebenarnya." Ucap Viko.
"Terserah Pak Viko saja. Jika memang itu yang terbaik buat Pak Viko. Tapi ingat jangan menyesal dengan kepututusan yang sudah Pak Viko tindak. Dan selalu bijaklah Pak dalam menyelesaiakan masalah." Ucap Edo memberi saran.
"Oke siaplah kalau begitu." Ucap Viko.
"Oya Pak Viko sekarang ada pertemuan rapat sangat penting. Saya harap Pak Viko bisa hadir dalam rapat tersebut." Ucap Edo.
"Oke, baikalah kalau begitu kita berangkat sekarang." Ucao Viko.
__ADS_1
"Baik Pak," jawab Edo sambil menganggukan kepala.
Lalu Viko dan Edo pun pergi berjalan menuju ruangan rapat. Dan kini sang Office Boy pun datang untuk membereskan ruangan Viko yang berantakan karena ulah sikap Viko.