Cinta Lara

Cinta Lara
61. Aku harus pergi


__ADS_3

"Sayang, kenapa kamu jadi berbohong dan menuduh Ibu seperti itu? Coba kamu katakan yang jujur Nak kepada Ayahmu, sebenarnya apa yang terjadi barusan." Lara sambil menatap Zahra.


Lalu Zahra pun menundukan kepalanya tanpa menjawab perkataan dari Lara.


"Sudahlah Mas, sekarang sudah tahu kan jawaban dari Zahra tadi apa? Jadi emang Lara lah yang melakukan semua ini. Mentang mentang kamu mau menceraikan aku Mas, sehingga Lara nekat berbuat keji seperti ini." Vani sambil menatap sinis Lara.


"Bohong Mas, itu bohong Mas!! mereka berdua menuduhku Mas. Dan kamu Zahra, kenapa kamu berbohong Nak? Siapa yang sudah mengajari kamu untuk berbohong hah? Ibu selalu mengajari kamu untuk selalu jujur Nak, jadi katakanlah yang sejujurnya atas kejadian ini!!" Bentak Lara merasa emosi dan tidak terima dirinya dituduh.


Lalu Zahra merasa ketakutan dan langsung berjalan ke belakang tubuh Viko.


"Cukup Lara!! Kamu jangan berani bentak bentak Zahra. Dia masih kecil, lihat karena ulahmu barusan Zahra jadi ketakutan. Mentang mentang Zahra anakku jadi sekarang kamu begini hah?" Vani merasa geram.


"Ibu sama anak sama saja, sama sama tukang bohong!! Kasihan sekali anakmu itu masih suci dan polos sudah diajari tentang kebohongan. Bagaimana nasib hidupnya sudah besar bila masih kecil terus dihasut," Lara sambil menatap sinis Vani.


"Jaga ucapan Lara!! Kamu bilang aku dan Zahra berbohong hah? Mana mungkin aku dan Zahra berbohong. Kamu sendiri bilang kalau Zahra tuh masih kecil, pasti jujur tapi emang itu yang tadi katakan olehnya. Sudahlah Lara apa susahnya kamu jujur saja, jangan menutupi kesalahan kamu." Vani mulai meneteskan airmatanya.


"Kalian stoppp, cukup hentikan perdebatan kalian!!" Viko sambil menatap Lara dan Vani bergiliran.

__ADS_1


"Mas pasti percaya kan sama Lara?  Lara tidak mungkin melakukan hal itu kepada Vani meskipun dihatiku ada sedikit kebencian terhadap Vani!" Lara sambil menatap Viko.


Viko pun  hanya diam saja, tidak bisa berkata apa apa dan tidak tahu harus berbuat apa, karena Viko tidak punya bukti yang kuat untuk menyalahkan atas semua kejadian ini semua. Tiba tiba Vani pun pingsan.


"Vani?"


"Mamih?"


Ucap Zahra dan Viko bersamaan merasa terkejut saat Vani pingsan.


"Ck, paling dia cuma pura pura pingsan. Bagus banget akting dia , pakai nuduh segala hingga pingsan," Lara sambil menatap  sinis Vani.


Lara pun lebih memilih diam dari pada harus menjawab perkataan Zahra. Karena Lara berpikir ini pasti ada sesuatu yang tidak beres terhadap Zahra. Lara lebih mengetahui bagaimana sikap Zahra yang sebenarnya, dia polos dan jujur apa adanya.


"Cukup Lara kamu berkata itu!! Jika emang ini semua ulah kamu, Mas sangat merasa kecewa sama kamu. Emang Mas mau menceraikan dia, tapi jangan kamu seenaknya melakukan ini kepada Vani, Lara!!" Bentak Viko terhadap Lara.


"Oh jadi Mas lebih percaya dia, dari pada aku iya hah? Aku pikir Mas bakal berubah dan benar benar percaya sama aku Mas. Lara benar benar kecewa sama kamu Mas!!"  Lara sambil pergi berlalu.

__ADS_1


"Lara, tunggu Lara!!" Teriak Viko mencoba mengejar Lara tapi tangannya ditahan oleh Zahra.


"Ayah, Zahra mohon tolonglah Mamih, dia pingsan dan lihat lukanya mengeluarkan darah Ayah. Tidak tegakah Ayah membiarkan Mamih seperti ini?" Zahra sambil menatap Viko dan memegang tangannya supaya mau menolong Mamihnya.


"Tapi-"


"Ayolah Ayah, Zahra mohon. Bagaimana bila Ayah tidak menolong Mamih terus Mamih meninggal dunia, apa kata orang Ayah? Terus bagaimana nasib Zahra bila hidup tanpa Mamih, Ayah?" Rengek Zahra sambil menangis.


"Baiklah kalau begitu Sayang, kita bawa Mamih kamu ke rumah sakit." Viko sambil mengendong Vani membawanya ke dalam mobil.


Kini Lara pun merasa sakit hati, saat melihat Viko menggendong Vani. Bukan karena cemburu tapi karena Viko lebih percaya Vani dari pada dirinya. Bahkan saat berjalan melewati Lara, Viko pun cuek tidak berkata apa apa lebih fokus terhadap Vani.


maafkan Zahra Ibu, Zahra terpaksa harus berbohong. Karena Mamih tadi mengancam Zahra, makanya Zahra lebih memilih menuruti perkataan Mamih karena takut akan ancamannya batin Zahra saat berjalan melewati Lara dan melihat  Ibunya ada seutas kekecewaan di wajahnya.


Ketika Viko sudah sudah selesai memasukan Vani kedalam mobil miliknya, dan melihat lihat semuanya sudah siap, dengan segera Viko pun menjalankan mobilnya untuk menuju ke rumah sakit.


Arrghhh.... Aku benar benar kecewa dan benci sama kamu Viko!! Baiklah jika memang kamu mau memilih dia, jangan salahkan Aku yang harus pergi dari kehidupanmu!! gerutu Lara saat menatap mobil Viko sudah berlalu pergi meninggalkan Apartemen.

__ADS_1


Lalu Lara pun berjalan menuju kamar, kemudian memasukan semua baju dan barang barang miliknya ke dalam koper. Lara berencana untuk pergi dari apartemen dan tidak ingin melihat lagi orang orang yang telah menyakitinya.


Maafkan Aku Mas harus pergi dari sini, Mas sudah terlalu banyak menorehkan luka untuk Aku, mungkin dengan cara aku pergi semoga kalian bisa bahagia dan tidak akan menyakitiku lagi gerutu Lara sambil berjalan menuju keluar dari apartemen kemudian menelepon seseorang untuk menjemputnya.


__ADS_2