
"Apa dia Istrinya Kak Viko Bu? Yang benar saja Bu." Ucap Levi merasa tidak percaya.
"Iya Nak. Kemarin mereka baru saja menikah Levi." Jawab Bu Ria.
"Terus bagaimana dengan Kak Lara? Kalian menikah saat Kak Lara sedang koma, kalian sebenarnya punya hati nurani tidak sih hah?" Levi menatap tajam Viko dan Vani bergiliran.
"Levi jaga bicaramu!! Kamu jangan bicara begitu kepada kakakmu dan kakak Iparmu." Bentak Bu Ria merasa kesal dengan sikap Levi.
"Apa Ibu bilang dia kakak Ipar Levi? Lagian Levi tidak sudi mempunyai kakak Ipar seperti dia. Wanita yang sudah merebut suaminya Kak Lara alias pelakor!" Levi sambil menatap tajam kakak Iparnya.
"Maaf, apa yang kamu katakan itu salah. Saya ini bukan pelakor. Saya terpaksa menikah dengan Kakakmu karena paksaan Papihku." Ucap Vani sambil menatap tidak suka Levi.
"Terus kenapa kamu mau begitu saja menerima permintaan Papihmu hah? Anak sama Ayah sama saja. Sama sama mendukung buat bisa merebut suami orang," Levi tersenyum sinis.
"Levi jaga sikapmu! jangan suka bicara sembarangan. Lagian kamu tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi, jadi
Jangan kurang ajar kamu." Bentak Bu Ria sambil menatap tajam putrinya.
"Kenapa sih Bu hah? Kenapa Ibu memilih wanita pelakor itu. Tidak pernah kalian bayangkan kalau saya ada diposisu Kak Lara pasti bakal sakit banget kalau mengetahui tentang semua ini. Mana kalian menikah ketika dalamnkeadaan koma, kalian jahat tahu tidak. Kalian tidak punya hati, aku benci kalian semua!" Levi sambil bangkit dari kursi makannya dan berjalan melangkah ke kamarnya.
"Leviiii!! Ck, itu anak benar benar sudah salah paham ya dengan semuai ini." Gerutu Bu Ria.
"Saya permisi dulu, harus berangkat kerja sekarang!" Ucap Viko dengan datar lalu berjalan menuju parkiran mobil.
__ADS_1
"Sayang kamu tidak apa apakan Nak? Maafkan Viko ya Nak, masih bersikap dingin padamu. Dan juga Maafkan Levi tadi sudah berbicara yang tidak tidak sayang. Dia sudah salah dengan semua ini." Bu Ria sambil bangkit dari kursi makannya lalu memeluk Vani.
"Iya tidak apa apa kok Bu. LagiannVani pasti mengerti kok gimana kalau berada diposisi mereka." Vani mencoba tersenyum dan menahan airmatanya yang memerah.
"Engkau begitu mulia banget hatimu Nak, mau memaafkan mereka." Ucap Bu Ria samb menguraikan pelukannya dan menatap wajah cantik Vani.
"Itu harus Bu. Kita harus saling memaafkan apalagi Levi adalah adikku dan Viko juga suamiku. Jadi tidak ada salahnya memaafkan mereka. Ya sudah Bu, saya permisi mau ke kamar dulu." Ucap Vani.
"Iya silahkan Nak." Jawab Bu Ria.
Lalu Vani pun berjalan menuju kamarnya dan Bu Ria pun hanya menatap punggung Vani yang berjalan menuju kamarnya ada rasa bersalah dihatinya dan tidak tega melihatnya.
Hiks.. hiks .. airmata Vani pun mulai mulai terjatuh. Airmata yang tadi dia tahan pun tidak bisa dibendung lagi. Kini Vani pun hanya menangisi seorang diri.
.
.
Pt. Higa Kusumajaya
"Oya Do, gimana keadaan perusahaan kita sekarang?" Tanya Viko yang kini sedang duduk dikursi kebesarannya.
"Sejak kita mendapat bantuan dan kerja saja dari Pt. Exc, perusahaan kita semakin membaik. Sudah berjalan lancar seperti semula. Bahkan sekarang banyak perusahaan lain yang menginginkan kerjasama dengan perusahaan kita Pak." Jawab Edo. Dialah yang menggantikan posisi dan menghandle semua pekerjaan Viko selama dua bulan lebih.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu." Ucap Viko sambil memejamkan matanya.
"Iya. Oya Pak, apakah semuanya baik baik saja?" Tanya Edo tanpa basa basi. Dan merasa kasihan melihat tuannya dengan wajahnya yang kelihatan kusut.
"Entahlah Do, tapi yang pasti saya merasa pusing menjalani kehidupan yang sekarang." Jawab Viko masih memejamkan matanya.
"Yang sabar ya Pak Viko. Semoga saja setelah Lara sadar dari koma nya, dia bisa menerima dan mengerti dengan apa yang terjadi sekarang." Edo mencoba menenangkan Viko.
"Iya Do, terima kasih." Ucap Viko lalu membukakan matanya dan berdiri dari kursinya.
"Loh Pak Viko mau kemana?" Tanya Edo saat melihat tuannya memakaikan jasnya kembali.
"Saya harus ke rumah sakit untuk menemui Istriku." Ucap Viko.
"Loh tapi Pak sekarang ada rapat penting yang harus kita hadiri." Ucap Edo menatap Viko.
"Kamu saja yang menggantikan posisiku dan handle semua pekerjaaku." Ucap Viko.
"Tapi pak.."
"Sudah jangan banyak protes. Sekarang juga saya harus segera ke rumah sakit. Oya ajak Bu. Tantri untuk menemani rapatmu," Ucap Viko sambil melangkah pergi.
"Baiklah kalau begitu. Semoga Pak Viko lebih kuat dan sabar bila nanti Istrinya sudah bangun dari komanya dan juga sebaliknya dengan Lara." Edo sambil menatap jauh punggung tuannya.
__ADS_1
Lalu Viko pun pergi meninggalkan perusahaannya dan berjalan menuju rumah sakit.