Cinta Lara

Cinta Lara
70.Sekedar bertanya


__ADS_3

"Oya Vi, bolehkah saya bertanya?" Ucap Raffi.


"Tentu saja boleh. Emangnya mau bertanya apa Pak?" Tanya Levi.


"Apakah kakak iparmu ada dalam masalah dengan kakakmu?" Tanya Raffi.


Lalu Levi pun tidak menjawab pertanyaan Raffi. Levi hanya menatap sekilas Raffi.


"Eh maaf ya Levi, saya tidak bermaksud untuk ikut campur kok. Cuma menanyakan saja hehe." Ucap Raffi merasa tidak enak hati dan sambil menggaruk tekuk leher yang gatal.


"Ya tidak apa apa kok pak. Emang iya pak, hubungan kak Lara sama kak Viko sedang tidak baik baik saja. Ini semuanya juga karena salah kak Vani juga yang hadir dalam kehidupan mereka." Ucap Levi.


"Maksudnya, Kakakmu menikah lagi gitu?" Tanya Viko dengan hati hati.


"Iya Pak." Jawab Levi sambil menganggukan kepala.


"Ya ampun kasihan sekali Lara. Kenapa bisa suaminya memadukan Lara. Andai saja Lara menikah denganku, mungkin Lara tidak akan merasakan sakit begini." Ucap Raffi dengan berbicara dan pandangannya menatap kedepan.


"Apa Pak, barusan bicara pak?" Tanya Levi karena Raffi dengan suara pelan sehingga tidak kedengaran.


"Eh Levi, cuma bilang kasihan saja sama Lara. Kenapa bisa kakakmu itu menikah lagi. Kan pasti sangat menyakitkan buat Lara." Ucap Raffi berbohong.


"Entahlah Pak, saya juga tidak mau terlalu ikut campur rumah tangga mereka." Ucap Levi.

__ADS_1


"Ya itu lebih bagus begitu sih. Ya sudah sekarang kita kembali lagi kekantor Levi." Ucap Raffi sambil mengendarai mobilnya menuju perusahaan miliknya.


"Iya baik Pak." Jawab Levi.


.


.


Di tempat lain.


"Ayah?" Panggil Zahra yang kini tiba tiba memasuki ruangan kerja.


"Zahra? Kamu lagi ngapain disini Nak?" tanya Viko.


"Terus kamu kesini sama siapa Nak?" Tanya Viko.


"Sama Mamih, Ayah." Zahra.


"Mamih? Bukannya Mamihmu lagi kerja juga?" Tanya Viko.


"Iya memang tadi Mamih lagi sibuk kerja, tapi Zahra meminta Mamih agar bisa makan bertiga Ayah. Sudah lama kita tidak makan lagi bersama, Zahra rindu kebersamaan itu Yah." Ucap Zahra yang kini sedang duduk dipangkuan Viko.


"Selamat siang semuanya." Ucap Vani yang tiba tiba memasuki ruangan Viko.

__ADS_1


"Siang juga Mamih. Tadi Ayah nanyain Mamih tuh, eh kebetulan panjang umur Mamih datang." Ucap Zahra sambil menatap Vani.


"Iyakah begitu Mas?" Tanya Vani.


"Ya." Jawab Viko datar.


Karena merasa hubungan  Mamihnya dan Ayahnya sedang tidak baik baik saja, dengan segera Zahra pun mengajak Ayahnya untuk makan siang bersama.


"Ya sudah Ayah, Mamih, kita makan siang." ucap Zahra sambil menatap Vani dan Viko.


"Baiklah ayo sayang, lagian Mamih juga lapar nih pingin makan." Ucap Vani.


"Ya sudah, ayo kita berangkat." Ajak Zahra.


Lalu Zahra, Viko dan Vani pun, dengan segera berjalan meninggalkan ruangan kerjanya dan pergi menuju mobil.


"Ayah kalau jalan tuh gandengan tangannya sama Mamih biar romantis." Ucap Zahra sambil menyatukan tangan Viko dan Vani.


Dengan terpaksa Viko pun menuruti kemauan Zahra. Dan berpura pura bersikap manis didepan Zahra.


Sebenarnya hubungan Viko dan Vani kini sedang keadaan tidak baik, setelah Viko mencurigai kalau Zahra bukan anaknya. Bagaimana tidak, seseorang selalu menemani Zahra dan selalu membawakan makanan untuk Zahra hampir tiap hari dan suka membawa jalan jalan.


aku akan buktikan semuanya Vani, dan aku yakin kalau Zahra bukan anakku. Dan jika benar begitu, maka bersiap siaplah aku akan usir kamu dari rumahku batin Viko sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2