Cinta Lara

Cinta Lara
39. Kejadian Yang Tidak Di inginkan


__ADS_3

"Sayang?" Ucap Viko sambil menatap wanita tersebut yang kini ada didepannya.


"Iya Mas," Jawab Vani.


"Maafkan Mas ya sayang, sudah menyakitimu. Mas benar benar minta maaf sayang." Ucap Viko sambil memeluk Vani.


"Iya tidak apa apa kok Mas. Mas jangan terlalu bersalah begitu Mas." Ucap Vani membalas pelukan suaminya.


"Makasih sayang sudah memaafkan Mas. Mas benar benar tidak tahu harus berkata apa lagi sayang. Dan Mas sangat bersyukur kamu sudah bangun dari komanya yang begitu panjang. Dan kamu tahu tidak sayang? Mas sangat rindu dirimu sayang, Mas sangat kangen dirimu yang selalu menemani Mas tidur dan selalu menyiapkan keperluan Mas. Mas sangat beruntung memilikimu Lara." Ucap Viko sambil mengecup bibir mungil tersebut.


Deg


Hati Vani pun merasa sakit, dia pikir Viko sudah bisa memaafkan dirinya dan mau menerimanya sebagai Istri keduanya. Tapi apa yang dipikirkannya ternyata salah, Viko mungkin menganggap  dirinya kalau Vani itu Lara karena masih dalam pengaruh alkohol.


Saya merasa kecewa Mas, saya kira Mas sudah mau menerima saya. Tapi saya salah menduga ternyata Mas menganggap saya itu Lara. Sebegitu besarkah kamu Mas mencintai Lara? Batin Vani.


"Maaf Mas saya ini bukan..." Vani tidak melanjutkan bicaranya lalu melepaskan tangan Viko yang menggenggam tangan dirinya.


"Bukan apa sayang?" Tanya Viko.


"Saya bukan Lara, saya ini Vani Mas." Jawab Vani.


"Kenapa kamu menyebut wanita itu sayang? Kamu itu Lara kok, bukan Vani. Mas tidak salah kok melihat kamu, kalau kamu itu benar benar Lara sayang." Viko menatap Vani seperti persis bahwa dirinya Lara. Lalu Viko pun menarik Vani dan menindihnya sehingga kini berada di posisi Vani dibawah dan Viko di atas.


"Mas mau ngapain saya?" Tanya Vani.


"Sudah sayang, jangan banyak tanya. Mas sangat menginginkanmu. Mas benar benar sudah tidak tahan dan tidak kuat ingin bercinta denganmu sayang." Ucap Viko lalu menci*m lembut bibir Vani.


"Hentikan Mas! Jangan lakukan ini Mas\, nanti Mas akan menyesalinya. Kalau saya ini bukan- Humpp..." Vani tidak bicara lagi saat bibirnya di cium kembali oleh Viko. Namun Vani yang awalnya memberontak\, kini harus menyerah dan terpaksa melayaninya. Lalu Vani pun membalas setiap ci*man yang dikasih Viko kemudian saling ******* satu sama lain\, dan kini mereka pun terbakar gairah cinta yang tidak bisa ditahan lagi. Lalu dengan segera Viko pun membukakan semua baju Vani hingga tidak tersisa sehelai pun benang yang menempelnya dan kini Vani dengan tubuh polosnya. Karena sudah tidak tahan lagi\, Viko pun segera melakukan penyatuannya.


"Aww, Mas sakit, pelan pelan Mas." Ucap Vani mencoba menahan rasa sakitnya.

__ADS_1


"Loh kenapa sakit sayang? Mas terlalu kasar ya sayang? Oya Mas lupa kalau kamu kan baru saja bangun dari komanya. Maafkan Mas sayang, Mas akan melakukaknnya dengan pelan sayang, coba kamu ikuti Mas, tarik napas biar tidak terlalu sakit." Ucap Viko.


Lalu Vani pun menuruti perkataan Viko.


"Gimana tidak sudah sakit lagi sayang?" Tanya Viko.


Vani pun hanya menggelengkan kepala tanpa menjawab perkataan dari suaminya. Lalu Viko pun dengan semangat melakukannya sehingga kini mereka berdua sedang menikmati indahnya surga dunia.


Keesokan harinya....


Vani pun terbangun dari tidurnya, dia merasakan sangat sakit diarea intinya. Lalu menatap wajah tampan suaminya yang kini masih tertidur. Lalu Vani pun tersenyum kemudian tiba tiba meneteskan airmatanya.


Tiba tiba Viko pun membukakan matanya, dengan sigap Vani pun tidur kembali.


Aduh pusing sekali kepalaku ini, apa yang terjadi dengan semalam? Viko sambil memijit kepalanya. Kemudian menatap seluruh isi ruangan kamar dan betapa terkejutnya saat menatap wanita yang ada disampingnya.


Aarghht..... Tidak!!!! Teriak Viko dengan emosi memuncak saat melihat dirinya dan wanita tersebut dalam keadaan polos tanpa sehelai benang.


Lalu tiba tiba Vani pun terbangun dari tidurnya.


"Ada apa Mas, Kok berteriak?" Ucap Vani merasa cemas.


"Apa yang sudah kamu lakukan sama saya hah? Jangan bilang kalau kita sudah... " Viko menatap tajam dan tidak bisa melanjutkan bicaranya, dia benar benar tidak mampu untuk menjelaskannya.


"Emang iya, kita sudah melakukannya. Kamu lihat bercak darah dibawah kasur itu berarti tanda nya emang sudah melakukannya. Terima kasih atas malam pertamanya walaupun itu menyakitkan bagiku." Vani tersenyum sinis lalu bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju kamar mandi.


"Shitt\, ******. Ini tidak mungkin\, ini tidak mungkin. Seharusnya ini tidak boleh terjadi\, Arrghhhtt.... Prang." Teriak Viko sambil memecahkan pot bunga yang ada dikamar.


Andai saja saya tidak mabuk, tidak meminum bir mungkin tidak akan seperti ini. Arrght.. Maafkan Mas sayang, lagi lagi Mas mengingkari janji Mas. Ucap Viko tidak terasa meneteskan airmatanya.


Lalu dikamar mandi, kini Vani hanya menangisi seorang diri dan betapa sakitnya saat mendengar umpatan dari suaminya. Vani juga tidak bisa berbuat apa apa, hanya bisa meratapi diri sendiri.

__ADS_1


Sampai kapan Mas bisa menerimaku sebagai istrimu? Tidak bisakah kamu mengerti saja perasaan saya sekali saja? Saya juga terpaksa harus menikah denganmu hiks, hiks, tangis Vani dalam bathroom.


1 jam kemudian..


Kini mereka sedang berada di meja makan. Suasanya terasa mencekam tidak ada yang berbicara satu sama lain. Apalagi setelah kejadian malam tadi membuat Viko dan Vani menjadi pura pura tidak kenal. Bahkan setelah menikah pun Viko kini menjadi pendingin dan pemarah pada Vani.


"Selamat pagi semuanya?" Sapa Levi yang tiba tiba datang.


"Eh Nak sudah pulang ternyata. Gimana dinas diluar kotanya lancar?" Tanya Bu Ria menatap putri bungsunya.


"Alhamduliah Bu lancar kok. Huh ternyata cape juga ya Bu kerja itu." Ucap Levi sambil mengeluarkan napas kasarnya dan duduk dikursi makan.


"Emangnya kamu pikir kerja itu tidak cape apa hah? Itulah yang kakak kamu rasakan selama bekerja pasti cape, makanya  kamu harus sayang sama kakak yang bekerja demi keluarga kita." Ucap Bu Ria tersenyum pada putrinya.


"Iya ya Bu. Tapi walaupun Levi cape tetap semangat kok Bu, apalagi ditemani sama cowok ganteng disamping Levi kan tambah semangat Bu." Ucap Levi sambil tersenyum.


"Dasar anak Ibu ini ya. Pasti selalu  bilang semangat kalau ada cowok tampan disisinya." Bu Ria sambil menggelengkan kepala.


"Iya dong Bu. Apalagi bagi Levi kalau ada cowok ganteng di samping kan itu vitamin mata buat Levi hehe." Ucap Levi cengengesan.


"Ada ada saja kamu ini ya Levi." Ucap Bu Ria.


"Oya kok dari tadi kak Viko diam saja sih, tidak... eh tunggu dulu!" Levi baru menyadari ada wanita yang tidak dikenalnya ikut makan bersama.


"Apa Nak?" Tanya Bu Ria.


"Dia siapa Bu?" Tanya Levi sambil menatap wanita tersebut.


Lalu Bu Ria pun diam sesaat, menatap Viko dan Vani yang sedang fokus  sarapan pagi tanpa ada yang bertegur sapa sama sekali.


"Dia adalah Vani Nak, dia Istrinya Kak Viko." Jawab Bu Ria dengan nada melemah.

__ADS_1


"A-apa? Istri Kak Viko?" Levi merasa terkejut.


__ADS_2