
"Kenapa istriku, kaget iya hah?" Tanya Viko sambil mengusap lembut Lara.
"Mas Viko maunya apa sih hah? Kenapa Mas Viko melakukan cara seperti ini?" Lara sambil menatap tajam suaminya.
"Iya karena ini satu satunya cara agar kamu tetap terus bersama sama saya. Lagian percuma kalau saya tidak memakai cara seperti ini, pasti kamu bakal tidak mau bersama saya, Lara sayang. Dan aku tahu kamu sengaja pergi ke luar negeri untuk menghindariku kan hah?" Viko merasa kecewa dan marah besar saat Lara mencoba melarikan diri ke luar negeri. Apalagi kini Lara sedang mengandung anaknya.
"Emangnya salah bila saya menghindari kamu, Mas? Lagian saya sudah muak melihat wajahmu Mas. Lagian juga kenapa Mas Viko masih perhatian sama saya hah?" Geram Lara merasa kesal.
"Karena diperutmu ada anakku Lara! Jadi saya tidak mau sampai terjadi sama anakku dan terutama kamu sayang." Ucap Viko.
"Ck, kamu bilang anakmu? saya tidak salah dengarkan hah. Bukannya kamu tadi tidak mengakuinya dan malah menuduhku kalau anak yang ada dikandunganku anak pak Raffi." Lara mencoba menahan airmatanya yang mulai memanas.
"Maafkan aku sayang, tadi aku benar benar emosi. Dan maafkan aku bukannya tidak mengakui kalau di dalam kandunganku anakku Lara." Viko mencoba memeluk Lara tapi sayangnya Lara malah menghempaskan tangan suaminya dengan kasar.
"Cukup Mas, jangan dekati saya Mas!" Ucap Lara sambil menghempaskan tangan suaminya yang mau menyentuhnya.
"Kamu itu kenapa sih Lara? Ini suamimu loh Lara, jadi tidak salahkan suamimu ini pingin memelukmu." Viko sambil menatap Lara.
__ADS_1
"Tapi saya tidak mau disentuh oleh kamu Mas." Ucap Lara.
"Lara, kamu maunya apa sih sekarang hah? Mas jadi serba salah jika kamu berubah jadi begini Lara!" Viko sambil memijit kepalanya yang pusing.
"Saya mau kita cerai Mas!" Ucap Lara.
"Apa, kamu bilang, kamu mau cerai hah? Kamu itu benar benar gila ya Lara. Harusnya pakai tuh otakmu, emangnya kamu mau melahirkan anak tanpa seorang Ayah hah?" Tanya Viko.
"Tapi itu lebih baik Mas bagi saya, dari pada harus bertahan tapi saya menderita Mas!" Lara tiba tiba mengeluarkan airmatanya membasahi pipinya.
"Iya, emang akui emang kamu itu baik. Tapi kenapa ketika dihadapan Vani selalu menyalahkan saya, seolah olah saya itu pembawa sial, salah terus Mas, bahkan Mas selalu percaya terhadap Vani dari saya." Lara.
"Tapi sayang, waktu itu-" ucapan Viko menggantung saat Lara memotong pembicaraannya.
"Sudahlah Mas. Tidak perlu dijelasin lagi Mas, lagian semuanya sudah jelas kok Mas." Lara.
"Lara, kamu itu dengarkan dulu saya bicara dong." Geram Viko.
__ADS_1
"Tidak perlu di bahas Mas, lagian saya sudah tahu semuanya Mas. Dan saya akan segera secepatnya menceraikan kamu Mas." Ucap Lara sambil mengusap airmatanya yang mengalir.
"Coba saja kalau bisa Lara sayang, lagian percuma kamu menceraikan aku, itu tidak akan bisa Lara. Apalagi kamu sedang mengandung anakku, sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan kamu Lara! Sudahlah aku tidak mau berdebat lagi dengan kamu Lara, aku mending keluar saja dari kamar." Viko sambil berjalan keluar dan tiba tiba dengan segera mengunci pintu kamar Lara.
Apa yang sedang dilakukan oleh Mas Viko? Jangan jangan Mas Viko, mengunci kamar ini lagi ucap Lara sambil berjalan menuju pintu kamar. Dengan segera mencoba gagang pintu tapi benar saja dugaan Lara, kalau Viko mengunci kamarnya.
Mas buka pintunya Mas? Kenapa Mas malah mengunci pintunya Mas? Mas.. Lara mohon buka pintunya Mas hiks hiks ucap Lara sambil menangis dan duduk di dibawah lantai pintu.
Kenapa nasib pernikahanku seperti ini? Ada saja waktu bisa berputar kembali, maka saya tidak sudi, mas Viko jadi suami. Arghh... Mas Viko, kamu jahat Mas hiks.. hiks.. Teriak Lara merasa kesal dengan sikap suaminya dan sambil menangis terus menerus.
.
.
💞💞
jangan lupa kasih like dan comennya kak dan terima kasih yang sudah mampir kekarya saya yang masih berantakan ini🙏
__ADS_1