Cinta Lara

Cinta Lara
86. Waktu yang tepat.


__ADS_3

Restoran.


setelah sampai di restoran, dengan segera Lara, Viko dan Zahra turun dari mobilnya.


"Ayo sayang, kita turun." Ajak Viko.


"Baik Ayah." jawab Zahra.


Kemudian mereka pun, keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam restoran. Setelah itu mencari tempat duduk.


"Oya kamu pesan apa sayang?" tanya Viko.


"Apa sajalah Mas." jawab Lara.


"Baiklah kalau begitu. Saya akan pesan makanan yang sangat special buat kalian." ucap Viko.


"Baiklah Mas."


"Pelayan...." panggil Viko.


Kemudian seorang pelayan pun berjalan menghampiri Viko.


"Iya Mas, ada apa. Dan mau pesan apa Mas?" tanya seorang pelayan.


"Saya mau pesan makanan ini ya, tiga. Serta minumannya yang ini." jawab Viko sambil menunjuk buku menu tersebut.


"Baiklah Mas kalau begitu. Tunggu bentar ya Mas." ucap Sang pelayan.


"Iya." jawab Viko.


Kemudian sang pelayan pun pergi dari hadapan mereka dan berjalan menuju dapur, untuk menyiapkan pesanan makanannya.

__ADS_1


"Eh Ibu lihat, itu ada Om andri lagi mau ke sini." Zahra sambil menunjuk satu tangan jarinya ke arah orang tersebut. "Om Andri...." panggil Zahra.


Karena merasa ada yang memanggil, kemudian Andri pun menatap ke arah suara.


"Eh Zahra?" Andri sambil melambaikan tangannya.


'kebetulan saya bisa langsung ketemu sama mereka. Dan saya akan kasih tahu mereka, kalau Zahra itu anakku. Juga untuk sementara aku ingin tinggal bersama Zahra disana, lumayanlah bisa mendekati Lara terus.' batin Andri sambil tersenyum penuh arti.


Kemudian Andri pun berjalan menghampiri Zahra.


"Hei sayang, ternyata kamu ada disini juga?" tanya Andri.


"Iya Om. Zahra lagi mau makan siang sama Ibu dan Ayah." jawab Zahra.


"Oh. Selamat siang Lara, kita ketemu lagi disini." ucap Andri sambil tersenyum kepada Lara.


Kemudian, Viko pun langsung menatap Andri dan Lara secara bergiliran.


"Tentu saja, kita saling mengenal. Soalnya, dia itu-" ucapan Andri terputus saat tiba tiba Lara memotong pembicaraannya.


"Dia adalah teman saya waktu semasa kuliah Mas." Jawab Lara memotong pembicaraan Andri.


"Oh, begitu ya. Jadi kalian teman semasa kuliah tuh." ucap Viko.


"Iya pak, kita teman semasa kuliah hehe." Andri cengengesan dan sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal. Di dalam hati ada perasaan kecewa terhadap Lara. Bagaimana tidak, ternyata Lara tidak jujur kalau Andri masa lalunya.


"Jangan panggil saya Pak, panggil saja Viko." protes Viko.


"Baiklah Pak, eh maksudnya Viko. Oya boleh saya bergabung dengan kalian?" Andri sambil menatap Viko dan Lara secara bergantian.


"Tentu saja boleh kok Om. Iya kan Ibu, Ayah?" ucap Zahra.

__ADS_1


"Iya tentu saja boleh sayang." jawab Viko sambil tersenyum kepada Zahra.


"Tuh kan, Ayah saja sudah menyetujui nya Om."


"Baiklah Om duduk disini dan gabung bersama kamu, Zahra cantik." Andri sambil duduk di samping Zahra.


"Oya, kayaknya kamu kenal dekat banget sama Zahra ya. Sudahlah lamakah kalian saling mengenal?" Tanya Viko sambil menatap Andri.


"Ya lumayan sih. Kebetulan juga, ada yang ingin saya bicarakan sama kalian." ucap Andri.


"Emangnya mau berbicara apa? katakanlah sekarang." Viko sambil menatap Andri.


"Oke. Tapi sebelumnya pasti kalian tahu, kalau Zahra bukan anak dari Viko kan?" tanya Zahra.


Lara pun sangat terkejut saat Andri mengatakan itu. Bagaimana bisa Andri mengetahuinya. Berbeda dengan Viko, dia bersikap santai seolah olah sudah tahu.


"Bagaimana kamu bisa tahu, kalau Zahra bukan anak dari Mas Viko?" Tanya Lara.


"Tentu saja, saya tahu. Karena sayalah Ayah dari Zahra." ucap Andri sambil menatap Zahra yang kini sedang asyik, main game di handphonenya.


"A-apa?" Lara merasa terkejut, dengan perkataan Andri.


****sekalian mau promosiin punya teman saya. Jangan lupa mampir dan di jamin bikin seru dan baper.


 Sinopsis novel.


Mempunyai cita-cita menjadi istri seorang CEO adalah mimpi sebagian besar seorang wanita, apalagi jika wanita tersebut seorang penulis novel online, pasti khayalannya melampaui batas wajar.


Shasa, itulah nama seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun yang memiliki cita-cita aneh—ia ingin nasibnya seperti salah satu tokoh film Hollywood yang memiliki suami seorang pemilik perusahaan besar, bahkan Shasa rela menolak lamaran dari anak pak lurah hanya karena cita-cita yang aneh. Akankah harapan Shasa terpenuhi? Mungkinkah Shasa menjadi istri seorang CEO muda seperti cita-citanya selama ini?


__ADS_1


__ADS_2