
Hoamm... jam berapa nih? Lara yang tiba tiba terbangun dari tidurnya. Lalu melihat jam dindingnya menunjukan pukul 06.30 wib.
Aduh aku kesiangan bangun tidurnya nih. Ini semua gara gara Mas Viko nih, tadi sudah bangun subuh, sudah shalat eh dia malah meminta lagi. Dia bilang adik kecilnya merasa sakit pingin ditengok, sungguh alasan yang tidak masuk akal sama sekali jadi aku kesiangan bangun tidurnya karena lelah gerutu Lara sambil menatap suaminya yang masih tertidur.
Lara sangat bahagia, kini suaminya menjadi orang yang suka posesife dan manja tidak seperti biasanya. Dia selalu bilang puluhan kali kata i love you pada dirinya. Bahkan tidur pun Viko selalu memeluk erat Istrinya seolah olah tidak mau jauh dan tidak mau pisah. Lara pun sempat curiga dengan perubahan sikap suaminya. Tapi Lara selalu berpikir positip mungkin suaminya berubah karena kejadian dirinya sampai masuk rumah sakit hingga koma.
Lalu Lara pun bangkit dari tempat tidurnya dengan tubuh polos tanpa benang sehelai pun. Namun tiba tiba tangannya ditarik oleh suaminya saat hendak melangkah.
"Sayang kamu mau kemana?" Tanya Viko sambil menarik tangan Istrinya. Dan kini berada posisi Lara di atas dan Viko di bawah.
"Mas, Lara mau mandi. Lepasin Mas Lara cape Mas dan lelah jika harus melakukannya lagi." Ucap Lara memohon karena benar benar lelah.
"Lagian siapa yang mau melakukannya lagi sayang? Mas juga sama lelah." Ucap Viko lalu menci*m lembut bibir Lara.
"Terus Mas mau ngapain dong sampai narik tangan Lara hingga begini?" tanya Lara sambil menaikan satu alisnya.
"Mas kangen saja sayang sama kamu. Entah kenapa Mas tidak ingin jauh jauh dari kamu. Dan Mas sangat rindu sentuhanmu." Ucap Viko sambil menatap Istrinya lalu memeluk erat Istrinya.
"Mas sudah lepasin dong Mas. Ini sudah pagi. Mas juga harus berangkat kerja sekarang, nanti kesiangan Mas," ucap Lara menatap suaminya.
"Sebentar saja sayang, kasih Mas lima menit saja," ucap Viko lalu Lara pun menuruti kemauan suaminya. Kini mereka pun saling berpelukan.
"Oya Mas, boleh saya bertanya?" Tanya Lara.
"Tentu saja boleh sayang. Emangnya mau bertanya apa?" Tanya Viko sambil memejamkan matanya.
"Mas baik baik sajakan?" Tanya Lara dengan hati hati.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang? Lagian Mas baik baik saja kok sayang." Jawab Viko.
"Tidak Mas, Lara cuma bertanya saja. Lagian Mas sekarang... " Lara tidak melanjutkan ucapannya.
"Sekarang apa sayang?" Tanya Viko sambil mengerutkan keningnya.
"Eh tidak kok Mas. Oya Mas ini sudah lima menit nih, Lara gerah mau mandi." Ucap Lara.
"Serius mau mandi?" Tanya Viko.
"Ya seriuslah Mas, Masa bohongan Mas. Lagian nih badanku terasa gerah banget karena ulahmu," ucap Lara menatap suaminya.
__ADS_1
"Tapi kamu menikmatinya ya kan?" Tanya Viko sambil menaikan satu alisnya.
"Apaan sih Mas ah, sudah ah Lara mau mandi nih. Dan Mas juga harus berangkat kerja juga." Ucap Lara.
"Oke baiklah kalau begitu," ucap Viko sambil memangku tubuh Lara.
"Eh Mas Viko mau ngapain?" Ucap Lara saat Viko memangkunya.
"Sudah diam saja. Kita mandi bareng bersama," ucap Viko.
"Tapi Mas...."
"Sudah jangan protes!" Ucap Viko dengan segera membawa istri ke dalam bathroom. Kini mereka pun sedang melakukan mandi di dalam bathroom bersama.
Satu jam kemudian...
"Yuk Mas, kita ke bawah. Mari kita sarapan pagi dulu." Ucap Lara yang kini sudah beres merapihkan dan mengancingkan baju suaminya.
"Ya sudah yuk sayang." Ucap Viko sambil merangkul pundak istrinya.
Lalu mereka berdua pun berjalan kemeja makan untuk sarapan pagi.
"Loh mereka pada kemana Bi? Kenapa mereka tidak sarapan pagi?" Tanya Viko saat Bi Inah sedang menaruh makanan sarapan paginya untuk mereka.
"Oya Bi? Kenapa kita mereka tidak nungguin kita untuk sarapan bersama?" Gerutu Viko.
"Lagian Mas, mau nungguin kita sarapan gimana? Ini sudah siang nih jam 07.15 wib. Habisnya lama kalau nungguin Mas." Ucap Lara.
"Eh ya juga sayang hehe," Viko sambil cengengesan.
"Ya sudah makan dulu Mas, mumpung masih hangat nih," ucap Lara yang sudah beres mengalaskan sarapan pagi untuk suaminya.
"Ya sayang, terima kasih." Ucap Viko sambil tersenyum.
"Sama sama Mas." Jawab Lara. Lalu mereka pun menikmati sarapan paginya hingga selesai.
"Ya sudah Mas berangkat kerja dulu ya sayang." Ucap Viko.
"Iya Mas, hati hati di jalannya Mas." Ucap Lara.
__ADS_1
"Iya sayang," jawab Viko.
Lalu Lara pun mencium punggung tangan suaminya, kemudian Viko pun mencium lembut pucuk rambut Istrinya. Lalu Viko pun pergi meninggalkan Lara dan berangkat menuju perusahaannya untuk bekerja.
.
.
Pt. Higa kusumujaya
Kini Viko pun sudah sampai diperusahaannya. Dan kini sedang duduk dikursi kebesarannya.
"Oya Pak, ini ada berkas berkas yang harus di tanda tangani." Ucap Edo sang Asisten lalu sambil menyodorkan berkas tersebut.
"Baik Do." Jawab Viko, lalu membuka berkas tersebut dan membacanya kemudian mendatangani berkas tersebut.
Tiba tiba ada seorang wanita datang menghampiri Viko.
"Vani?" Ucap Viko merasa terkejut dengan kedatangan Vani yang tiba tiba datang tanpa mengabarinya dulu.
"Iya kenapa Mas?" Tanya Vani sambil menatap Viko sekaligus suaminya itu.
"Kamu mau ngapain kesini hah?" Tanya Viko.
"Loh emangnya kenapa Mas? salah ya bila seorang Istri datang menemui suaminya. Lagian saya kesini ingin memberikan kabar gembiran Mas," ucap Vani.
"Kabar gembira? Ck, emang kabar gembira apaan hah?" Tanya Viko sambil menatap sinis Vani.
"Ini Mas," ucap Vani sambil menyodorkan barang tersebut.
Lalu Viko pun membuka barang yang di kasih Vani. Dan betapa terkejutnya saat mengetahui isi barang tersebut.
"Ini tidak mungkin, ini tidak mungkinkan Vani?" Tanya Viko merasa tidak percaya apa yang dilihatnya dan tidak terima dengan barang tersebut.
"Ck, mana mungkin aku berbohong Mas. Ini memang jelas nyata seperti kamu lihat." Ucap Vani menatap sinis suaminya.
"Enggak mungkin Van, aku yakin ini hanya akal akalan kamu kan? Tidak mungkin secepat itu kamu bisa begitu," ucap Vika benar benar tidak terima jika benar.
"Kamu pikir aku perempuan murahan hah? Kamu bisa lihatkan waktu malam itu ada bercak darah. Dan jelas apa yang dikandunganku adalah anakmu Mas," ucap Vani sambil menatap tajam Viko.
__ADS_1
"Arghht.... tidak mungkin!!!" Teriak Viko benar benar tidak terima.
"Ingat aku berharap Mas bisa menjadi Ayah yang baik dan bertanggung jawab untuk anakku," ucap Vani menatap tajam dan tersenyum sinis. Kemudian pergi meninggalkan suaminya dan berjalan menuju parkiran mobil untuk pulang.