Cinta Lara

Cinta Lara
Hati yang lara


__ADS_3

"Ibu Cinta ya?", tanya laki laki itu,saat pintu kubuka.


"Iya,ada yg bisa saya bantu", sahutku,memicingkan mata melihat orang yg sama sekali belum pernah kulihat ini


"Teman Ibu mengalami kecelakaan tunggal,kondisinya kritis,ia tadi sempat menyebut nama ibu", katanya.


Bagai tersambar petir di siang bolong,.mendengar berita itu.


"Laraa", gumamku,mulutku mengangah masih belum percaya.


"Ya lara kritis bu,mari ikut saya", ucap utusan itu,ia rupanya datang menjemputku.


"Saya ganti baju dulu ya".


"Silahkan bu,jangan lama lama,kondisinya dalam keadaan sangat parah", ucapnya sekali lagi.


Saya hanya memakai sweater dan jilbab yg langsung kupasang,dan membawa tad saja,langsung mengikuti pemuda itu,yg tak berbicara lagi.dalam perjalananpun tak ada sepatah kata yg kami lontarkan,mungkin karena tenggelam dalam alam pikiran masing masing.


"Ambulancenya sudah siap berangkat bu,silahkan ibu temui mereka", ucap pemuda yg menyetir mobil ini,saat kami tiba di TKP.


Segera saya turun mendatangi kerumunan itu.


"Laraa", jeritku,saat kulihat sudah di naikkan di ambulance,tak sadarkan diri.


"Bagus", gumamku

__ADS_1


Bagus juga terluka parah dan terbating di dekatnya lara.


"Bu Cinta ya?", tanya seorang tim medis.


"Iya bu,saya cinta", sahutku.


"Ibu ikut ya,mengantar.kami khawatir terjafi sesuatu,dan ibulah satu satunya keluarga yg kami", tutur petugas medis itu.


Tanpa bicara,saya segera naik di ambulance,duduk di kepala lara yg tak sadarkan diri.


Sirine ambulance meraung raung,dan melaju secepat kilat diantara pegunungan menuju pusat kota kabupaten.


"Alhamdulillah kita sampai juga ya bu", ucap salah satu perawat dari puskesmas,yg tak henti hentinya tersenyum padaku.


Lara dan bagus,langsung dimasukkan ke UGD untuk mendapatkan perawatan intensif.


"Sebentar saya hubungi keluarga mereka ya,saya hanya temannya", jawabku.


Tak susah menghubungi keluarga mereka,karena posisi mereka sebagai abdi negara.


"Pasien,harus dirujuk ke makassar bu,pihak rumah sakit sudah tak mampu menanganinya", kata seorang dokter yg mendatangiku.


"Iya dokter silahkan", ucapku


Sehubungan dengan kondisi lara dan bagus yg makin parah,hari itu juga dirujuk ke Rumah sakit Wahidin sudirohusodo makassar,terpaksa saya tidak nengikuti lagi,karna tugas yg tak bisa kutinggal,juga orang tua lara di makassar sudah dihubungi.

__ADS_1


Ambulance yg membawa lara dan bagus,meraung raung meninggalkan kota ini,terbersit rasa haru di dadaku,saat mereka sudah meninggalkan tempat ini.


"Bu Cinta,mari kuantar pulang", ucap pemuda yg kemarin menjemputku.


Ia membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkanku naik.


"Terima kasih ya,maaf sudah merepotkan", ucapku.


Ia hanya tersenyum,dan menyalakan mesin mobilnya


"Semoga mereka selamat bu", kata si pemuda tersebut.


"Iya", sahutku singkat.


Pemuda tersebut bercerita,jika daerah tempst mereka kecelakaan memang masuk zona berbahaya.mana pak bagus,sangat kencang mengemudikan mobil,hingga tak sadar terpental dan jatuh ke jurang.


Saya hanya menyimak cerita pemuda ini,yang selalu melirikku.hingga tak terasa sudah sampai di desa tempatku mengabdi.


"Terima kasih ya", ucapku pada pemuda itu.


"Iya bu,sama sama", lalu ia melajukan dengan kencang mobilnya.


Ku teringat lagi kak lara,yg kemarin ttak sadarkan diri,kepalanya diperban,wajahnya tak nampak lagi karena bersimbah darah.


Ku merasa berdosa padanya,tak menghiraukannya selama disini,tapi bagaimana bisa ku penuhi permintaannya,sedangkan hatiku masih mencintainya.

__ADS_1


Kak lara yg kutinggalkan karena kecemburuanku pada silva,ternyata hanya cemburu buta.lara tak berhubungan dengan gadis itu,lara masih mencintaiku,tapi karena sahabatnya yg begitu mencintaiku,ia rela kehilangan aku,yg membuatku menjadi marah dan mengusirnya.


"Kak lara,semoga kau baik baik saja disana", ucapku dalam hati.


__ADS_2