Cinta Lara

Cinta Lara
37.Maafkan Mas Istriku


__ADS_3

Ini belum seberapa. Aku harus kuat menjalani semuanya demi Papih. Semoga saja waktu ke waktu. Hari ke hari. Bulan ke bulan Mas Viko bisa menerima aku sebagai Istrinya. Aku harus bisa menjadi Istri yang bisa berguna buat Mas Viko. Aku Harus menjadi istri yang penurut dan sabar dalam menghadapi sikap Mas Viko. Tapi apakah aku bisa? Ntahlah mungkin akan aku coba." Vani sambil melihat kepergian Viko dibalik kaca kamar Viko.


"Sayang kamu tidak apa apakan?" Tanya Bu Ria yang tiba tiba masuk ke dalam kamar.


"Eh Ibu? Saya tidak apa apa kok Bu." Jawab Vani tersenyum.


"Oya mana Viko?" Tanya Bu Ria matanya sambil melihat keberadaan Viko.


"Dia pergi keluar Bu, katanya mau pergi ke rumah sakit menemui Lara." Vani menjelaskannya.


"Terus kenapa kamu tidak ikut bersama Viko?" Tanya Bu Ria.


Vani hanya menggelengkan kepala tanpa bersuara.


"Sabar iya Nak. Mungkin Viko butuh waktu untuk bisa menerimamu. Apalagi sekarang Lara dalam keadaan koma pasti dia lebih memilih fokus sama Lara." Bu Ria seolah olah tahu apa yang terjadi dan tersenyum.


"Iya Bu, Vani ngerti kok." Jawab Vani tesenyum pada Bu Ria yang kini jadi mertuanya.


💞💞💞💞


Rumah Sakit Central

__ADS_1


Mobil Viko pun berhenti disebuah rumah sakit. Setelah memparkirkan mobilnya lalu Viko pun berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Kini di dalam hatinya ada perasaan bersalah. Janji yang dia ucapkan kepada Istrinya terpaksa harus mengingkari janji tersebut. Tapi dia lakukan demi Istrinya juga. Tidak ada pilihan lain untuk menyelamatkan Istri dengan menikahi wanita tersebut karena itulah jalan satu satunya.


"Sayang maafkan Mas sudah berbuat kesalahan besar terhadap kamu. Tapi Mas tidak ada pilihan lain sayang selain harus menikahi dia. Sayang jangan marah iya sayang ini juga demi kebaikan kamu sayang. Walaupun Mas sudah menikah dengan wanita lain tapi Mas berjanji tidak akan menyentuh wanita tersebut karena Mas cuma milik kamu sayang. Dan Mas juga tidak sudi harus satu ranjang dengan wanita yang Mas tidak cintai." Viko yang kini sedang berada diruangan rawat sambil mengusap lembut rambut Istrinya dan tak terasa airmatanya terjatuh.


"Sayang, Mas berharap kamu tidak membenciku bila suatu saat nanti kamu mengetahui semuai ini. Kamu juga tidak boleh berbicara yang tidak tidak iya sayang." Viko menatap istri yang kini masih terbaring koma.


"Sudahlah Nak Viko kamu tidak usah khawatir begitu." Bu Lena tiba tiba datang.


"Eh Ibu, Ayah?" Viko merasa terkejut dengan kehadiran mertuanya.


"Iya Nak apa?" Tanya Bu Ria.


"Tidak apa apa kok. Oya Ibu, Ayah maafinnm Viko iya. Viko tidak bermaksud untuk menduakan Lara. Viko juga tidak tahu harus gimana Bu, Ayah. Cuma itu satu satunya cara agar bisa menyelamatkan Lara. Viko tidak mau Lara di diam saja tanpa ditangani dokter ketika Viko dalam keadaan posisi begini. Maaf iya Bu, Ayah. Semoga kalian tidak membenciku." Viko merasa bersalah.


"Iya Bu. Viko janji setelah Lara sudah sadar dan bangun dari koma nya, Viko akan menceraikan dia." Viko menatap Ibu Lena.


"Jangan bicara seperti itu Nak. Biarkanlah dia tetap menjadi Istrimu. Berbuat adilah sama dia dengan memberikan dia nafkah lahir dan batin Nak. Jangan pernah sekali kali kamu ingin bercerai sama dia, karena begitu besar dia dan keluarganya membantu kita Nak. Kita berhutang budi sama keluarga Pak Rudy Mahardhika." Ucap Bu Lena.


"Loh Ibu tahu dia? Tapi Bu Viko tidak mau menyakiti Lara. Viko dulu sudah berjanji sama Lara, jadi tidak mungkin Viko mengingkari janji tersebut Bu." Viko menatap Bu Lena dan Ayah Toni.


" Tentu saja Lara akan sakit hati jika tahu ini. Tapi semuanya itu sudah terjadi Nak. Sudahlah Nak jalanin sajalah Nak. Terimalah dia sebagai Istrimu. Semoga saja nanti Lara akan menerimanya dan mengerti kenapa kamu melakukan semua ini. " Bu Lena

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Viko akan berusaha menerima Vani sebagai Istri Viko meski dengan terpaksa Bu. Tapi Viko mungkin bisa memberikan dia lahir tapi maaf Viko tidak bisa memberikan dia nafkah batin. Hanya dengan Lara lah Viko bisa melakukannya. Wanita yang sangat Viko cintai dam sayangi." Viko sambil menatap Istrinya yang cantik dan tumbuh nya yang mulai kurus.


Kemudia Ayah Viko dan Ibu Lena pun tersenyum mendengar perkataan Viko. Mereka tidak menyangka Viko begitu besar sangat mencintai dan menyayangi putriya. Lara sangat beruntung mempunyai suami seperti Viko. Tapi sayangnya mereka sedikit kecewa dengan Viko yang harus menikah lagi dengan wanita lain. Tapi mereka juga harus menerima semua ini demi Viko dan Lara juga.


"Sudahlah Nak sekarang kamu pulang kerumah, kasihan istrimu disana menunggumu." Bu Lena menatapa Viko.


"Tidak Bu, Viko tidak mau pulang Bu. Biarkan saja Viko disini menjaga dan menemani Lara Bu." Viko menatap Istrinya.


"Tidak Nak, kamu harus pulang. Biarkan Ibu sama Ayah yang menjaga Lara. Kamu tidak boleh egois Nak, kamu harus bisa berbuat adil Nak." Ucap Bu Lena.


"Tapi Bu, Viko butuh waktu untuk menerima Vani menjadi Istri Viko. Tidak semudah yang Ibu bayangkan langsung menerima begitu saja sama orang yang Viko tidak cintai dan sayangi Bu." Viko menatap Bu Lena.


"Iya sayang, Ibu tahu apa yang kamu rasakan. Tapi cobalah mengerti perasaan Istri barumu itu. Kalian baru saja menikah, kamu sudah meninggalkan istrimu begitu saja." Bu Lena merasa kesal dengan sikap Viko.


"Tapi Bu..? Baikah kalau begitu." Viko memilih mengalah saat Ayah Toni menatap tajam dirinya.


"Ya sudah sayang, Mas pergi dulu sayang. Maafkan Mas tidak bisa menjagamu dan berada disisimu sayang. Semoga cepat sembuh sayang dan kita bisa kumpul bersama lagi iya sayang. Dan kamu ingat sayang jangan berpikir macam macam Mas tidak akan melakukan apapun kok kepada Vani." Viko seolah olah berbincang dengan Lara lalu mengecup lembut kening Istrinya.


"Ya sudah Bu, Ayah. Viko permisi dulu, kalau ada apa apa dengan Lara hubungi Viko iya Bu." Viko.


"Iya Nak, pasti bakal Ibu akan hubungi kamu kok. Kamu tidak perlu khawatir dan cemas disini Lara bersama kita." Ucap Bu Lena menatap Viko.

__ADS_1


"Iya Bu, terima kasih iya Bu." Jawab Viko. Lalu mencium punggung tangan Bu Lena dan Ayah Toni. Lalu Viko pun pergi ke parkiran mobil dan pergi dari rumh sakit tersebut dengan perasaan dan pikiran yang kacau.


__ADS_2