
Keesokan harinya.
"Pagi sayang .... " ucap Viko, yang baru saja selesai memakai bajunya dan sambil menatap istrinya yang baru saja bangun tidur.
"Loh Mas, sudah rapih dan wangi benar nih. Emangnya ini jam berapa sih?" tanya Lara sambil menatap suaminya.
"Sudah jam setengah 7 pagi sayang, makanya Mas sudah rapi kayak gini, dan siap-siap mau berangkat ke kantor," ucap Viko.
"Apa jam setengah tujuh?(sambil menatap jam ding-ding). Kenapa Mas tega sekali, tidak membangunkan istrimu dan malah membiarkan istrimu terbangun kesiangan. Jahat sekali Mas Viko ini," gerutu Lara merasa kesal.
"Habisnya kamu itu tidurnya nyenyak sekali. Makanya Mas tidak mau sampai membangunkan kamu, karena tidak tega. Jadi Mas biarkan kamu terbangun sendiri," ucap Viko yang kini sedang duduk di ranjang di samping istrinya.
"Emm gitu ya Mas. Habisnya aku lelah banget Mas karena ulahmu semalam," ucap Lara sambil membayangkan saat suaminya melakukan pergumulan panas entah sudah berapa kali melakukannya.
"Tapi kamu juga, bukannya menikmatinya juga kan? Hayo, jujur saja."
"Iss apaan sih Mas, kalau itu mah jangan di tanyakan lagi hehe," ucap Lara cengengesan kemudian tangannya merangkulkan ke lengan suaminya dan kepalanya menyandarkan ke pundak suaminya.
"Tumben banget nih manja ya punya istri? Biasanya nih kalau lagi manja, pasti ada sesuatu yang di inginkan," sindir Viko sambil menatap istrinya.
"So tahu Mas ini ya. Oya Mas, sebenarnya ada sesuatu yang ingin Lara katakan sebenarnya pada Mas," ucap Lara masih menyenderkan kepalanya ke pundak Viko.
"Apa sayang, katakanlah."
"Tapi Mas janji ya, jangan marah," ucap Lara sambil menatap suaminya.
"Iya Mas janji, enggak bakal marah kok sayang," ucap Viko sambil mengusap lembut rambut istrinya.
__ADS_1
"Sebenarnya saya ingin mengatakan kalau sebenarnya, Andri itu ...," Lara sengaja menggantung ucapannya, karena merasa begitu berat mengatakannya. Kemudian menatap suaminya.
"Iya sayang, kalau sebenarnya Andru kenapa?" tanya Viko sambil mengerutkan keningnya, karena merasa penasaran dengan ucapan istrinya yang menggantung.
"Tetapi Mas janji ya jangan marah," ucap Lara sekali lagi.
"Iya sayang, Mas tadi sudah berjanji tidak bakal marah kok. Sekarang katakanlah, kalau Andri sebenarnya apa?" tanya Viko sambil menatap istrinya.
"Kalau Andri itu masa lalu saya Mas," ucap Lara dengan gugup.
"Terus?"
"Saya berharap, kamu nanti jangan salah paham. Lagian saya tidak punya perasaan apa-apa sama Andri kok Mas sumpah, lagian di hatiku sekarang hanya ada kamu seorang Mas. Hatiku sudah sangat sayang dan cinta sama kamu Mas," ucap Lara sambil memegang tangan suaminya, untuk meyakinkan ucapan dirinya.
"Gombal ya punya istri sekarang," Viko sambil memijit hidung istrinya.
"Ih Mas, sakit tahu. Lagian saya enggak gombal Mas. Serius Mas," ucap Lara.
"Tentu saja, Mas harus percaya sama Lara! Lagian di hati Lara itu cuma ada kamu Mas," ucap Lara.
"Baguslah kalau begitu. Terima kasih sayang." Viko sambil mencium lembut rambut istrinya.
"Loh Mas, kenapa Mas tidak marah atau terkejut Mas, saat Lara mengatakan yang sebenarnya kalau Andri itu siapa?" tanya Lara merasa ada yang aneh.
"Sebenarnya Mas sudah tahu, kalau kamu adalah masa lalu Andri. Mas waktu itu tidak sengaja mendengar ucapan Andri dan Vani, saat mengatakan kalau kamu masa lalunya. Awalnya Mas terkejut juga dan pingin ngusir mereka. Tetapi Mas sadar disini ada Zahra, orangtua kandungnya. Makanya Mas tidak boleh egois. Nanti kalau Zahra sudah tahu dan menerima mereka sebagai orangtuanya maka terpaksa mereka keluar dari rumah ini," ucap Viko sambil tersenyum kepads istrinya, "Mas sangat berterima kasih sama kamu, akhirnya kamu mau jujur mengatakan semuanya. Mas pikir kamu bakal menyembunyikan rahasia ini! Tadinya Mas mau marah sama kamu kalau kamu tidak jujur."
"Maafkan Lara ya Mas," Lara sambil memeluk suaminya.
__ADS_1
"Iya sayang, Mas berharap nanti kamu jangan seperti ini lagi. Apa salahnya kan, bersikap jujur?" ucap Viko sambil menguraikan pelukannya.
"Iya Mas, Lara janji tidak akan begini lagi dan akan selalu jujur," ucap Lara sambil menatap suaminya.
"Baguslah, kalau begitu. Ya sudah, sekarang mandi dulu sana, atau mau sama Mas di temani?" ucap Viko sambil menatap istrinya.
"Ih apaan sih Mas, lagian Mas sudah mandi dan rapih kayak gini. Masa mau mandi lagi, sudah ah mending Lara mau mandi dulu," Lara sambil beranjak dari kasur dan pergi menuju bathroom.
Viko pun hanya tersenyum saat menatap istrinya yang kini berjalan menuju bathroom.
#yuk mampir di karya temanku ini yang super keren dan bikin baper.
Napen: PenulisRatceh
Judul karya: petaka KARENA PERJODOHAN
Pernikahan yang Airin Pranata jalani tak pernah membuatnya bahagia. Sifat Julian yang dingin, angkuh, bahkan acuh tak acuh kerap kali membawa kepedihan, keretakan, dan kesakitan bagi benak Airin.
Di tengah keterpurukan yang tidak ada jalan keluarnya, Airin hanya bisa mengatakan kalimat, "aku baik-baik saja," untuk menguatkan hati wanita malang tersebut.
Hingga Airin mendengar percakapan Julian yang mengatakan, "Buat rongsokan itu jatuh cinta dalam waktu 30 hari. Jika kau berhasil, aku akan menceraikannya dan memberikannya padamu."
Bagai dihujam ribuan pisau tak kasat mata, rasa sakit langsung menyerang dada Airin.
Apakah Airin mampu membisikkan kalimat "aku baik-baik saja" pada dirinya sendiri?
__ADS_1
Jika Julian memintanya mencintai laki-laki lain, apa Airin akan memilih mempertahankan rumah tangganya? Atau
Melangkah untuk menempuh kehidupan baru?