Cinta Lara

Cinta Lara
47. Hari bahagia


__ADS_3

Tujuh bulan kemudian....


Hari ini hari yang sangat special dimana hari ini Lara bertambah usia menjadi 27 tahun. Kini Lara sedang menunggu seseorang yang ditunggunya namun belum muncul juga batang hidungnya. Dia merasa kecewa sama suaminya yang kini tidak ada diacara hari ulang tahunnya. Harusnya ini hari paling bahagia bisa berkumpul bareng suaminya. Tapi entlah Viko berada dimana.


Kini Lara bersama keluarga besar sedang mengadakan syukuran bersama para panti asuhan. Lara berharap dengan mengadakan syukuran ulang tahunnya dengan berbagi rezeki pada anak yatim piatu. Semoga saja bisa disegerakan mendapatkan anak meski Dokter bilang tidak memungkinkan bisa memiliki anak, tapi siapa tahu dengan doa dari orang orang dan para anak yatim piatu bisa segerakan dikabulkan oleh sang Maha kuasa. Tidak ada yang tidak mungkin, jika Allah sudah berkendak. Sesuatu bisa terjadi atas izin-Nya.


Kini acara pun sudah dimulai. Para anak yatim piatu dan beserta dibimbing oleh ustadz Kamil pun segera memajatkan doanya hingga selesai. Lalu satu persatu bingkisan dan beserta uang dibagikan pada para yatim piatu. Mereka begitu bahagia dan senang dapat rezeki dari keluarga Kusumajaya.


"Terima kasih Mbak Lara, sudah berkenan mau berbagi bersama para anak anak," ucap Ustadz Kamil.


"Iya sama sama Ustadz, maaf ya ustadz bingkisan dan uangnya tidak seberapa besarnya." Ucap Lara sambil tersenyum.


"Iya tidak apa apa Mbak Lara. Lagian jangan dilihat  dari berapa berapa besarnya kita ngasih, yang penting kita ikhlas memberikan sesuatu dengan tulus." Ucap Ustadz Kamil.


"Ya Ustadz, lagian saya benar benar ikhlas dan tulus kok." Ucap Lara.


"Syukurlah kalau begitu, semoga saja Allah membalas semua kebaikan Mbak Lara dan keluarganya, terus Allah cepat memberikan momongan buat Mbak Lara. Aamiin ya robballalamin." Ucap Ustadz Kamil.


"Aamiin.. terima kasih ustadz atas doanya. Semoga saja terkabulkan apa yang selama ini saya inginkan," ucap Lara.


"Aamiin Mbak Lara. Jangan putus asa, jangan menyerah ya Mbak. Tetap harus yakin dan berusaha, in sya allah tidak ada yang mungkin bila sudah kehendak-Nya." Ucap Ustadz Kamil sambil tersenyum.


"Iya Ustadz terima kasih ya," ucap Lara membalas senyuman Ustadz tersebut.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi ya semuanya mau pulang ," pamit Ustadz Kamil.


"Iya ustadz silahkan," ucap Lara.


"Assalmualaikum..." ucap Usdazt Kamil.


"Walaikumsalam," jawab Lara dan keluarganya.


Lalu kini hanya tinggal Lara beserta keluarganya.

__ADS_1


"Selamat ya Kak, semoga panjang umur, apa yang diinginkan segera  terkabulkan dan tetap semangat." Ucap Levi sambil memeluk Kakak Iparnya.


"Ya makasih Adik Iparku atas doanya," ucap Lara sambil menguraikan pelukannya.


Lalu satu persatu keluarga pun mengucapkan sambil memeluk Lara.


"Oya Mas Viko kemana ya? Kok belum datang juga," ucap Lara sambil melihat disekelilingnya.


"Tidak tahu Kak Viko kemana ya? Masa Istrinya lagi berbahagia, dia tidak ada sih. Sungguh menyebalkan tuh punya Kakak," gerutu Levi ikut kesal.


"Ya ampun Ibu hampir lupa, tadi Viko menelepon Ibu katanya ada pertemuan Klien keluar kota. Dan kamu tahu siapa Kliennya itu. Dia adalah kedutaan dari malaysia." Ucap Ibu Ria.


"Benarkah itu Bu? Tapi kenapa Mas Viko tidak meneleponku Bu." Ucap Lara merasa kecewa.


"Iya kan lumayan kalau dapat respon dan bekerja sama dengan Pak. Hadijaya bisa tambah berkembang dan makin sukses perusahaan kita. Mungkin Viko terburu buru dan tidak sempat menelepon kamu sayang. Sudahlah sekarang sudah tahu alasannya Viko tidak datang," ucap Bu Ria sambil mengusap lembut rambut Lara.


"Iya benar juga," ucap Lara sambil tersenyum meski sedikit kecewa.


Lalu Levi pun menatap sinis dan merasakan ada sesuatu yang terjadi antara Kakaknya dan Ibunya.


.


.


Kini dirumah sakit ada pasangan suami Istri yang sedang berbahagia menunggu kelahiran anaknya. Dia selalu setia menemani Istrinya sampai akhirnya seorang bayi pun lahir ke dalam dunia.


Oek.. Oek.. oek.. suara bayi tangisan yang baru saja lahir.


"Sayang bayi kita sudah lahir sayang dengan selamat." Ucap Viko sambil mencium lembut Istrinya.


"Iya Mas, alhamduliah ya Mas sekarang kita sudah jadi orangtua buat anak kita." Ucap Vani tersenyum pada suaminya.


"Iya sayang. Terima kasih ya sayang sudah memberikan anak bfffuat Mas. Lengkap sudah kebahagiaan kita dengan lahirnya anak kita," ucap Viko kembali mencium lembut rambut Istrinya dan bayi mungil ya kini berada dipangkuan Vani.

__ADS_1


"Iya Mas. Oya gimana sudah berubah pikiran Mas untuk menceraikan Lara?" Tanya Vani sambil menatap suaminya.


"Maksud kamu apa berbicara begitu? Lagian sampai kapan pun saya tidak akan menceraikan Lara. Dia adalah cinta pertama dan orang yang paling Mas cintai dan sayangi." Ucap Viko sambil menatap Vani.


"Mas ini benar benar egois ya. Kita sudah memiliki anak Mas. Sedangkan Lara? Apa yang bisa dipertahan dengan dia. Wanita mandul yang tidak mungkin memiliki anak." Ucap Vani sambil berbicara sinis.


"Kamu jangan kurang ajar ya sama Lara! Sekali lagi kamu berbicara gitu Mas tidak akan segan segan menceraikan kamu." Ucap Viko menatap tajam Vani.


"Coba saja ceraikan saya Mas. Jangan harap Mas bisa ketemu dengan anakmu. Sampai kapanpun aku tidak sudi bila anakku bertemu denganmu." Ucap Vani menatap tajam balik suaminya.


"Kamu!" Tangannya tertahan ketika menatap bayi mungil yang kini sedang disusui Ibunya.


"Apa Mas? Apa hah? Mau tampar iya? Tampar saja Mas?" Ucap Vani semakin marah lalu menitiskan airmatanya.


Karena tidak tega melihat Vani menangis, apalagi yang kini sedang menyusui bayi mungil tersebut. Lalu Viko pun memeluk Vani.


"Maafkan Mas sayang. Mas benar benar tidak bermaksud begitu. Tapi cobalah kamu ngertiin Mas sekali saja. Mas tidak mungkin menceraikan dia, itu sungguh mustahil dan berat sayang," ucap Viko sambil mencium lembut rambut Vani.


"Lalu sampai kapan Mas akan menceritakan semuanya pada Lara Mas? Tidak mungkin kan Mas selamanya menyembunyikan pernikahan kita Mas?" Ucap Vani.


"Sabar sayang. Kita menunggu waktu yang tepat untuk berbicara sama Lara. Dan dia sangat menginginkan mengadopsi anak bagaimana jika anak kita Lara yang rawat. Lagian dia belum tahu kan anak itu anak siapa kan? Jadi biar nanti kalau Lara tahu anak ya dirawat anak kita. Jadi dia bisa menerima kita berdua sayang. Gimana?" Tanya Viko.


Vani pun hanya diam sejenak tanpa menjawab perkataan Viko.


"Oke baiklah kalau begitu Mas. Lagi pula saya sibuk ngurus pekerjaan dan kamu juga kan? Ada baiknya juga Lara yang rawat." Ucap Vani.


"Iya sayang," Viko sambil tersenyum.


Lalu kini meraka pun merasa bahagia dengan kehadiran anaknya. Dan dengan rencana mereka yang akan dijalankan nanti.


.


.

__ADS_1


Awalnya Viko tidak mau menerima Vani sebagai Istrinya. Bahkan dia sempat cuek dan tidak pernah memperdulikan Vani sama sekali. Ketika suatu kejadian terjadi pada Vani dan mengetahui alasan pasti Vani juga menerima pernikahan dengan Viko. Lalu Viko pun mulai luluh dan menerima secara perlahan Vani sebagai Istrinya dan juga waktu itu juga Vano sedang berbadan dua. Hingga akhirnya Viko benar benar sudah dengan yakin Vani sebagai Istri keduanya. Dan kinilah mereka bertambah bahagia setelah lahirnya seorang anak dari mereka.


__ADS_2