
Rumah Sakit Central
Sayang bangunlah sebentar saja, lihat suamimu ini sayang. Hidupku merasa hancur dan tidak tentu tujuan. Bagaikan angin yang hilang begitu saja. Andai saja sekarang kamu bangun dan sadar pasti Mas bakal semangat lagi, karena kamulah satu satunya semangat dalam kehidupanku dan orang yang selalu menghiburku ketika keluh kesah menimpaku." Viko sambil mencium punggung tangan Istrinya dan tidak terasa airmatanya jatuh begitu saja.
"Sabar ya Nak Viko," ucap Bu Lena menenangkan menantunya dan mengusap lembut punggungnya.
"Iya Bu, maafin Viko ya Bu. Sumpah Viko tidak ingin kejadian ini terjadi, tapi Viko tidak punya pilihan lain Bu, Viko terpaksa menikahi Vani," ucap Viko merasa sangat bersalah sambil menatap Bu Leni.
"Iya Nak, Ibu mengerti Kok. Sudahlah Nak jangan merasa bersalah begitu." Ucap Bu Lena sambil menatap Viko kembali.
"Terima kasih ya Bu, sudah mengerti keadaan Viko. Saya harap nanti kalau Lara sudah sadar, jangan beri tahu dia dulu ya Bu biar saya saja menjelaskan semuanya pada Lara." Ucap Viko.
"Iya Nak," Jawab Bu Lena sambil menganggukan kepala.
Lalu Viko pun mencium kening Istrinya.
"Cepat sadar ya sayang dari komanya, Mas sudah kangen canda dan tawamu sayang." Ucap Viko sambil tersenyum dan menatap Istrinya yang masih berbaring dengan selang infusnya.
Namun tiba tiba dengan perlahan lahan tangan Lara bergerak.
"Sayang, kamu sudah sadar sayang? Bu, lihat tangan Lara bergerak Bu." Ucap Viko dengan penuh kebahagian lalu mencium kening Istrinya.
"Iya Nak, ayo panggil Dokter Nak. Kasih tahu mereka kalau Lara sudah sadar." Ucap Bu Lena sama bahagianya saat melihat Lara sudah sadar.
"Baik Bu," Jawab Viko lalu memencet tombol merah tiga kali.
Sepuluh menit kemudian..
Dokter dan Suster yang menangani Lara pun kini memasuki ruangan yang ditempati Lara.
"Maaf Pak, Bu bisakah meninggalkan kami sebentar? Saya mau memeriksa keadaan beliau dulu," ucap Sang Dokter.
"Baik Dok," ucap Viko. Lalu berjalan keluar dari ruangannya bersama Bu Lena.
"Alhamdulilah Bu, Lara sudah sadar Bu. Viko tidak menyangka Lara akan sadar. Viko sangat bahagia," Ucap Viko sambil memeluk Ibu mertuanya.
"Iya Nak, sama Ibu juga bahagia anak Ibu sudah sadar," Bu Lena tersenyum lalu menguraikan pelukannya.
__ADS_1
"Ya sudah Bu, Viko mau telepon Ibu dulu dan kasih kabar bahagia buat mereka," ucap Viko.
"Iya Nak," Jawab Bu Lena.
Lalu Viko pun mengambil handphone dari saku celananya dan langsung menelepon keluarganya.
"Gimana Nak, sudah ditelepon keluarga kamu?" Tanya Bu Lena.
"Sudah Bu. Mereka lagi siap siap mau kesini," Ucap Viko sambil tersenyum.
"Ya syukur kalau begitu," ucap Bu Lena.
"Iya Bu. Oya kok lama banget tuh Dokter periksa Laranya ya Bu, sudah kangen nih pingin ketemu sama Istri tercinta," ucap Viko.
"Sabarlah Nak. Lagian bukan asal cuma periksa doang Nak, kan Lara masih baru sadar dari komanya." Ucap Bu Lena.
"Benar juga ya Bu," ucap Viko cengengesan.
Lalu Bu Lena pun hanya mengelengkan kepala dan tersenyum pada Viko.
Dua jam sudah Viko dan Bu Lena menunggu Dokter keluar, ada rasa cemas, khawatir dan bahagia yang mereka rasakan. Lalu keluarga Viko pun kebetulan baru saja datang dan tiba tiba Dokter yang memeriksa Lara pun keluar dari ruanganya.
Lalu Dokter pun hanya diam saja, hanya menatap Viko dan yang lainnya dengan tatapan susah diartikan.
"Dia.."
"Dia kenapa Dok? Lara baik baik sajakan?" Tanya Viko dengan cemas.
"Iya dia baik baik saja kok, namun dia masih syok dengan perihal bayinya yang sudah tidak ada," ucap Drs. Zee menjelaskan.
"Oh gitu Dokter, bolehkah saya masuk ke dalam?" Tanya Viko.
"Iya boleh kok Pak," jawab Drs. Zee.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi," ucap Drs. Zee lalu pergi meninggalkan Viko dan keluarganya.
Lalu Viko pun segera memasuki ruangannya dan kini melihat Istrinya dengan mata yang sembab karena habis menangis.
__ADS_1
"Sayang, kamu baik baik sajakan?" Tanya Viko lalu memeluk Istrinya.
"Mas, bayiku Mas? Dia masih ada kan Mas? Apa yang dikatakan Dokter itu bohongkan Mas?" Ucap Lara sambil menangis.
Namun Viko hanya diam saja, tanpa menjawab pertanyaan Istrinya.
"Mas kenapa diam saja! Ayo Mas jawab kalau bayi di dalam perutku baik baik saja kan dan masih hidupkan Mas?" Ucap Lara sambil menangis.
"Sayang kamu harus kuat, kamu yang sabar ya sayang. Mungkin ini cobaan buat pernikahan kita sayang," Viko makin erat memeluk istrinya lalu mencium pucuk rambutnya.
"Jadi apa yang dikatakan Dokter benar Mas, kalau saya.... tidakkkkkk Mas, tidak mungkin, ini tidak boleh terjadi hiks... hiks." Lara makin menangis sejadi jadinya.
Tak terasa Viko pun ikut menitiskan airmatanya. Dia merasa sangat sakit dan begitu kasihan melihat Istrinya yang menderita ketika mengetahui kehilangan bayinya.
"Sudah sayang, kamu ikhlas sayang. Bayi kita sudah tenang disurga. Dia pasti merasa bersyukur pada kamu karena dia pernah ada dirahimmu walaupun cuma sebentar." Ucap Viko menguraikan pelukannya dan menghapus airmata Istrinya.
"Hiks.. hiks.. maafkan saya Mas, tidak bisa menjaga anak kita dengan baik," ucap Lara sambil menundukan kepalanya dan merasa bersalah.
"Sudah sayang, jangan merasa bersalah begitu. Mungkin ini sudah takdir yang harus kita jalani," ucap Viko menenangkan Istrinya.
"Makasih ya Mas, sudah ngertiin Lara." Ucap Lara.
"Iya sayang, ya sudah sekarang kamu tenangkan diri kamu dan jangan banyak pikiran iya sayang," ucap Viko sambil mengusap lembut rambut Istrinya.
Lalu Lara pun hanya menganggukan kepala.
"Oya Mas, dia siapa?" Tanya Lara saat melihat wanita yang tidak dikenalinya.
Lalu semuanya menatap wanita yang di maksud Lara.
"Dia... Oya masa kamu lupa sayang, dia kan rekan bisnis kerja Mas yang waktu itu ada rapat pertemuan terus makan siang bareng direstoran sayang, masih ingatkan?" Ucap Viko.
Lalu Lara pun berpikir sebentar...
"Oya Mas, Lara inget sekarang. Dia kan Vani iya namanya?" Tanya Lara.
Lalu Viko pun hanya menganggukan kepala.
__ADS_1
Seluruh keluarga yang ada disana pun merasa kasihan terhadap Lara, bagaimana jadinya jika mengetahui kalau Vani itu Istrinya Viko.