
Ting... ting.. ting suara bell pintu pertanda ada orang yang ingin menemui lalu Lara pun terbangun dari tidurnya.
Aduh lelah sekali tubuhku ini, lalu menatap suaminya yang masih tertidur lelap. Dengan segera Lara pun bangun dari atas kasur lalu memunguti bajunya yang berantakan dibawah lantai atas pergumulan panas mereka kemudian memakaikan bajunya kembali karena kebetulan bajunya belum dibawa masih dirumah Lisa.
Ting.. ting.. ting.. suara bell pintu kembali berbunyi
"Iya sebentar," ucap Lara sambil membenarkan selimutnya ke tubuh suaminya lalu berjalan menuju gerbang pintu.
"Maaf Lara saya menganggu ya." Ucap Lisa yang kini sudah berada di apartemennya bersama Edo.
"Enggak Kok Lisa, ayo kita masuk ke dalam." Ajak Lara sambil menatap Lisa dan Edo.
Kemudian mereka pun berjalan memasuki ballroom.
"Oya nih Lara pakaian dan barang barangnya sudah saya masukin ke dalam koper," ucap Lisa sambil menatap Lara.
"Oh iya terima kasih Lisa." Ucap Lara sambil menatap Lisa.
"Iya Lara." Jawab Lisa sambil tersenyum.
"Oya kamu mau minum Lisa? Biar saya ambilin dulu airminumnya." Tanya Lara.
"Enggak usah, biar saya ambil saja sendiri Lara. Oya dapur yang mana?" Tanya Lisa.
"Disana." Jawab Lara sambil menunjuk dapur tersebut.
"Oke, baiklah." Ucap Lisa sambil berjalan menuju dapur.
"Oya Lisa tolong sekalian ambil untukku," teriak Edo.
"Iss.. dasar itu orang hanya bisa menyeruruh saja." Gerutu Lisa yang kini sudah berada di dapur lalu mengambil airminum untuknya dan Edo. Kemudian berjalan menuju ballroom.
"Nih airminumnya," ucap Lisa sambil menyodorkan minumannya untuk Edo.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Edo sambil menatap Lisa.
"Heem," jawab Lisa datar.
"Menyebalkan sekali, kalau tidak ikhlas ngapain harus membawakan aku minuman hah." Ucap Edo menatap sebal Lisa.
"Kalau bicara itu tolong jangan seenaknya. Dengar ya kalau saya enggak ikhlas ngapain juga saya membawa minum untukmu hah?" Ucap Lisa menatap sebal Edo.
"Ya habisnya saya ucapin terima kasih malam menjawab dengan datar." Ucap Edo menatap tajam Lisa.
"Lagian saya berbicara datar bukan berarti saya enggak ihklas Do. Emangnya keikhlasan dapat dilihat dengan wajah datar iya hah?" Tanya Lisa menatap tajam balik Edo.
"I-iya enggak juga sih. Tapi wajah kamu tuh beda kelihatannya." Ucap Edo menatap sinis Lisa.
"Beda? Mak-."
"Aduh Aduh... Kalian ini kenapa sih berantem mulu, kayak kucing sama tikus saja dari awal ketemu sampai sekarang hah." Ucap Viko yang tiba tiba kini berjalan menuju ballroom.
"Eh Mas Viko, ternyata sudah bangun Mas?" Tanya Lara sambil menatap suaminya yang kini sedang berjalan menghampirinya.
"Maaf Pak Viko, sudah mengganggu tidur siang Anda, gara gara akibat ulah Lisa jadi pak Viko terbangun." Ucap Edo sambil menatap sinis Lisa.
"Iss .. ini orang main tuduh sembarangan saja ya hah? Lagian ini semua kamu yang duluan mulai!!" Geram Lisa sambil menatap tajam Edo.
"Sudahlah berdamai kenapa sih, nanti saya nikahin nih kalian berdua biar tambah rame diranjang," ucap Viko sambi menatap Lisa dan Edo bergiliran.
"Ih apaan sih Pak Viko kalau bicara ngawur deh, lagian mana mau saya sama Asisten Pak Viko yang kurang waras itu." Ucap Lisa sambil menatap tajam Edo.
"Emangnya saya juga mau apa sama kamu hah? Ngaca dulu tuh kalau bicara itu ya." Ucap Edo tidak kalah menatap tajan Lisa.
"Sudah kalian ini kenapa sih, tidak berhenti dari tadi adu mulut mulu pusing nih kepala saya," ucap Lara sambil memijit kepalanya yang tidak pusing.
"Maaf Lara hehe," ucap Lisa dan Edo bersamaan.
__ADS_1
"Iss dasar kok bisa samaan gitu bicaranya," gerutu Lisa.
Ting.. ting.. ting... tanda bell pintu berbunyi pertanda ada seseorang yang akan menemui.
"Siapa ya dia Mas?" Tanya Lara kepada suaminya.
"Tidak tahu sayang, coba kamu buka pintunya mungkin saja ada orang yang tersesat ke apartemen kita." Jawab Viko sambil menatap Istrinya.
"Baiklah Mas," jawab Lara sambil berjalan menuju gerbang pintu lalu membukakan pintu tersebut saat sudah di depan pintu.
"Maaf Mbak, saya kesini cuma mau nganterin pesanan makanan Mbak," ucap kurir pengantar makanan.
"Pesanan makanan? Emangnya siapa yang pesan yang Pak?" Tanya Lara karena dirinya merasa tidak memesankan makanan.
"Disini atas nama Viko Kusumujaya Mbak, apa mungkin Mbak kenal?" Tanya kurir tersebut.
"Oh itu kan nama Suamiku pak, maaf ya." Ucap Lara merasa malu.
"Iya tidak apa apa Mbak, ini Mbak makanannya." ucap Kurir tersebut sambil menyodorkan pesanannya.
"Iya terima kasih ya pak," ucap Lara.
"Iya Mbak, kalau begitu saya permisi Mbak," ucap Kurir tersebut sambil berlalu pergi meninggalkan apartemennya.
Kenapa Mas Viko tidak bilang kalau dia memesankan makanannya, kan tadi hampir sama kurirnya karena saya merasa tidak memesannya huh gerutu Lara sambil menghembuskan napas kasarnya.
"Siapa sayang tadi?" Tanya Viko kepada Istrinya saat sudah berada di ballroom.
"Tukang kurir Mas, kenapa Mas tidak bilang kalau Mas memesankan makanannya." Ucap Lara sambil menyodorkan makanan pesannya.
"Ya ampun Mas lupa Sayang hehe,, sudahlah jangan marah gitu dong. Sekarang buka makanannya kita makan bareng bareng!" Ajak Viko.
"Baiklah Mas," ucap Lara sambil membuka pesanan makanan yang tadi pesan suaminya.
__ADS_1
Lalu mereka pun menikmati makanannya sambil berbincang bincang tentang masa kecilnya.