Cinta Lara

Cinta Lara
58. Zahra senang


__ADS_3

Perusahaan  Exc


Disebuah perusahaan, ada seorang wanita cantik sedang duduk dikursi kebesarannya. Dia sedang mengerutuki diri sendiri karena merasa marah terhadap suaminya.


Kenapa sih Mas, dulu kamu berjanji akan menceraikan Lara tapi kenapa sekarang Mas akan menceraikan aku? Segitu besarnya kamu cinta sama Lara sampai kamu mau menuruti kemauan dia. Ingat Lara jika aku tidak bisa mendapatkan cinta Mas Viko maka jangan harap kamu juga bisa mendapatkanya Lara!! Karena aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia dan ingat Mas Viko sampai kapan pun saya tidak akan membiarkan kamu menceraikanku Mas! Lihat saja Lara rencanaku yang akan membuat Mas Viko membencimu hhaaha gerutu Vani pada diri sendiri dan tertawa seketika.


"Mamih?" Ucap Zahra yang kini memasuki ruangan Mamihnya dan berjalan mendekatinya.


"Iya Sayang ada apa?" Tanya Vani lalu memangku anaknya untuk duduk dipahanya.


"Mamih tadi Zahra lihat semua ruangan ruangan disini bagus banget Mih, dan luas ya Mih. Terus hebat Mamih banyak karyawan  yang ikut kerja diperusahaan Mamih." Ucap Zahra sambil menatap Mamihnya.


"Masa sayang? Emangnya kamu lihat ya semuanya ruangan ruangan Mamih disini tadi?" Tanya Vani pada anaknya.


"Tentu saja Mamih. Tadi Zahra jalan jalan diruangan sini bersama Om Diki. Dia membawa Zahra mengelilingi perusahaan ini. Dan Om Diki pun menceritakan bagaimana luar biasanya Mamih sampai bisa membuat perusahaan ini menjadi lebih baik lagi." Ucap Zahra sambil tersenyum.


"Om Diki? Sepertinya Mamih pernah kenal nama orang itu. Sekarang dia kemana sayang?" Tanya Vani.


"Dia sudah pulang Mih, katanya dia harus kerja di cafe Bintang Lima dan Om Diki pun mentitipkan salam buat Mamih." Ucap Zahra.


Deg.


Ternyata benar dia adalah orang yang sangat Vani kenal. Dan Vani merasa harus melakukan sesuatu agar Diki tidak terlalu dekat dan akrab terhadap anaknya.


Kenapa dia datang kehidupan saya lagi? Padahal saya sudah suruh dia agar jangan pernah menemuiku  lagi. Tapi kenapa Diki tidak menghiraukan perkataanku. Lihat saja Diki, aku tidak akan membiarkan kamu masuk ke dalam kehidupanku dan anakku gerutu batin Vani.


"Mih, kenapa Mamih melamun? Lagi mikirin apa sih Mih?" Tanya Zahra menyadarkan lamunan Mamihnya.

__ADS_1


"Eh iya sayang? Enggak kok Mamih cuma lagi mikirin masa depan kamu saja sayang," bohong Vani sambil menatap anaknya.


"Mikirin masa depan Zahra? Loh bukannya mamih sudah mempunyai segalanya jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan Mih." Ucap Zahra sambil menatap Mamihnya.


"Ini masalah antara Mamih dan Ayahmu Nak," ucap Vani.


"Emangnya ada masalah apa Mih?" Tanya Zahra.


"Katanya Ayah kamu akan menceraikan Mamih karena gara gara hasutan Ibu Lara. Coba saja kamu bayangkan Nak, bila Mamih sama Ayahmu bercerai pasti kamu bakal banyak bully an dari teman teman kamu karena tidak memiliki Ayah. Apakah kamu mau?" Tanya Vani.


"Tentu saja Zahra tidak mau, ternyata Ibu Lara jahat sampai begitu teganya mau memisahkan Mamih sama Ayah. Tapi Mamih tidak usah khawatir Zahra akan melakukan sesuatu agar Mamih sama Ayah tidak berpisah justru Ibu Lara lah pasti yang akan diceraikan oleh Ayah." Ucap Zahra sambil menatap Mamihnya


"Benar kah itu?" Tanya Vani tidak percaya sepintar itukah Zahra sampai melakukannya.


"Tentu saja benar, Zahra akan melakukan apapun agar Mamih sama Ayah tetap bersama," ucap Zahra tersenyum.


"Iya Mih," jawab Zahra.


Bagus sayang, inilah yang Mamih mau agar kamu bisa membuat Ayahmu tidak menceraikan Mamih tapi justru Lara lah yang seharusnya begitu. Tidak sia sia juga punya anak batin Vani lalu menguraikan pelukannya dan tersenyum pada anaknya.


"Oya sayang, kita makan yuk ke restoran dari tadi kamu belum makan." Ajak Vani.


"Boleh Mamih, ya sudah yuk Mih." Ucap Zahra.


Lalu Vani pun menurunkan anaknya yang tadi duduk dipahanya. Kini mereka pun berjalan menuju mobil untuk pergi kesuatu tempat.


.

__ADS_1


.


Apartemen


Kini Lara danViko pun sudah berada di sebuah apartemen. Mereka berencana untuk tinggal di apartemen untuk sementara.


"Oya Mas mau minum?" Tanya Lara pada suaminya yang kini langsung berbaring di atas kasur.


"Iya sayang," ucap Viko sambil menatap Istrinya.


"Baiklah kalau begitu Mas," jawab Lara sambil berjalan ke dapur untuk mengambil air minumnya.


"Ini Mas, minum dulu." Ucap Lara sambil menyodorkan minumannya kepada suaminya. Lalu Viko pun bangun dan duduk diatas kasur.


"Terima kasih sayang," ucap Viko sambil menyodorkan gelas kosong yang sudah diminum kepada Istrinya.


"Iya Mas, oya Mas lagi sakit ya?" Tanya Lara karena melihat muka suaminya begitu pucat.


"Tidak kok sayang, Mas cuma sedikit pusing saja. Dan kamu tahu apa yang membuat Mas begini karena kamu sayang." Ucap Fattan sambil menatap Istrinya.


"Karena saya? Loh emangnya apa yang sudah saya lakukan sama Mas." Tanya Lara lalu duduk disamping suaminya.


"Kamu lupa ya sayang, karena kamu sudah membuat Mas khawatir karena tidak pulang ke rumah. Sehingga Mas hampir suka tidur kemalaman bahkan sampai tidak bisa tidur jadi beginilah akibatnya pusing," ucap Viko menatap Istrinya.


"Maafkan Lara Mas sudah membuat kamu begini," ucap Lara sambil menundukan kepalanya karena merasa bersalah.


"Tidak sayang, ini semua karena salah Mas yang sudah menyakitimu," ucap Viko sambil menarik tubuh Istrinya ke atas kasur sehingga kini Lara berada dibawah dan Viko diatas. Lalu kini mata mereka saling bertemu dan kemudian Viko pun mulai mendekatkan wajahnya menghampiri wajah Istrinya.

__ADS_1


"Mas apa yang akan-" ucapan Lara tergantung saat tiba tiba Viko menc*ium lembut bib*r Istrinya. Di dalam hatinya Viko merasa bahagia karena bisa menyentuhnya kembali bib*r manis miliknya Istrinya yang dulu sudah mencandu baginya. Namun ketika permasalahan datang dia pun tidak pernah bisa lagi menyentuhnya. Lalu dengan sigap Viko pun ******* bib*r Istrinya saat Lara merespon setiap sentuhan yang Viko sentuh. Lara pun sebenarnya menginginkan setelah lama mereka tidak melakukannya. Setelah menikmati ci*mannya kini mereka pun terbakar hasrat yang tinggi dan panas di seluruh tubuhnya. Dengan segera Viko pun melepaskan bajunya hingga polos tanpa benang kemudian membuka baju milik Istrinya satu persatu kini mereka pun sama sama polos tanpa ada satu benang yang menempel dengan segera Viko pun melakukan penyatuannya dan kini mereka sedang menikmati surga dunia. Entah berapa kali mereka melakukannya sehingga membuat mereka kelelahan hingga akhirnya mereka tertidur dengan keadaan tubuh mereka polos.


__ADS_2