
Pt. Higa Kusumajaya.
Viko pun kini sudah sampai diruangan kerjanya. Dia berjalan menuju kursi kebesarannya lalu duduk dan memijit kepalanya yang pusing.
"Pak Viko baik baik saja kan?" Tanya Edo yang tiba tiba datang dan melihat Atasannya seperti kurang baik.
"Baik kok Do, tapi tidak tahu kenapa kepalaku pusing sekali Do." Ucap Viko yang kini sedang menundukan kepalanya dan memijit kepalanya yang pusing.
"Mungkin Pak Viko banyak pikiran kali sehingga membuat kepala Pak Viko pusing," ucap Edo.
"Iya apa yang kamu katakan benar, semalaman saya hampir tidak tidur karena menghawatirkann Istriku sampai sekarang belum ditemukan dan belum pulang juga, ntah harus kemana lagi saya mencari Do," ucap Viko sambil menatap Edo.
"Terus apa yang akan pak Viko lakukan selanjutnya?" Tanya Edo.
"Entahla Do, sekarang yang saya pikirkan adalah Lara pulang, sumpah hidupku rapuh tanpa dia Do. Sekarang Lara lagi apa ya?" Tanya Viko sambil menatap photo Lara yang ada ditempat kerja.
"Pak Viko yang sabar ya, semoga saja sekarang Lara segera pulang ke rumah," ucap Edo sambil menatap Viko. Edo merasa kasihan sama Viko sudah beberapa hari ini dia lebih banyak melamun ditambah lagi penampilannya yang kusut tidak seperti biasanya.
"Iya Do," ucap Viko dengan datar.
"Oya Pak sekarang ada pertemun penting bersama perusahaan Pt. Eksajaya, dia berharap katanya Pak Viko untuk tidak mengundur ngundurkan lagi pertemuannya bila terjadi lagi maka dengan segera dia akan membatalkan kerjasamanya dengan Pak Viko," ucap Edo.
Lalu Viko pun hanya diam saja tanpa menjawab perkataan Edo dan berpikir sejenak.
"Baiklah kalau begitu Do, lagian pt. Eksajaya adalah perusahaan terpenting dan sangat berpengaruh buat kita siapa tahu perusahaan kita semakin maju lagi dan berkembang pesat. Dan saya akan bayar semua saham Vani yang telah membantu saya waktu itu agar nanti bila Lara meminta untuk menceraikan Vani akupun siap melakukannya demi dia tanpa harus rasa bersalah karena berhutang budi sama Vani." Ucap Viko sambil tersenyum sinis.
"Lalu bagaimana dengan Zahra Pak Viko? Bukankah seusia dia harus banyak perhatian dari orangtuanya dan kasihankan bila nanti Pak Viko sama Vani bercerai, Zahralah yang akan jadi korbannya." Ucap Edo berhati hati.
"Itulah Do yang saya pikirkan, saya tidak tega melihat Zahra bila harus jadi korban keegoisan orangtua. Tapi disisi lain pun saya bingung Do, karena hatiku hanya menginginkan Lara Do, dia selalu membuat hidupku berarti Do." Ucap Viko sambil memijit kepalanya yang pusing.
Edo pun tidak tahu harus berkata apa, karena itu urusan pribadi Viko jadi tidak mungkin dia ikut campur dalam masalah tersebut.
"Ya sudah yuk Do, kita berangkat sekarang!!" Ajak Viko.
"Baik Pak," jawab Edo.
__ADS_1
Lalu mereka pun berjalan menuju parkiran mobil dan pergi meninggalkan perusahaan tersebut untuk menuju suatu tempat pertemuan dengan Klien.
.
.
Di tempat lain,
"Maaf ya lisa, aku sudah merepotkanmu?" Tanya Lara.
"Tidak kok Lara, kamu tidak merepotkanku kok," jawab Lisa.
"Makasih ya Lisa, kamu sudah mengizinkan aku tinggal disini dan bila hati dan pikiranku sudah siap untuk bertemu dengan Mas Viko pasti saya bakal pergi dari sini kok," ucap Lara sambil tersenyum dan kini sedang memasak untuk makan siang.
"Kok bilang gitu sih, lagian kamu mau tinggal selamanya disini juga enggak apa apa kok Lara dengan senang hati," ucap Lisa.
"Benarkah?" Tanya Lara.
"Iya Lara, lagian aku disini tinggal sendiriankan kalau Ibu dan Bapak masih hidup mungkin tidak bakal sendirian dirumah," ucap Lisa.
"Iya tidak apa apa kok Lara, lagian aku mengerti kok," ucap Lisa memotong pembicaraan Lara.
"Oya nanti siang kita ke Mall yuk Lisa, kita jalan jalan refreshinglah jenuh nih diem mulu dirumah," ucap Lara.
"Boleh tapi..." ucapan Lisa sengaja digantung.
"Tapi kenapa Lis?" Tanya Lara merasa penasaran.
"Aku enggak punya uang tinggal sedikit lagi hehe," ucap Lisa cengengesan.
"Ya ampun Lisa kirain aku tuh apaan, santai sajalah nanti aku traktirin deh," ucap Lara sambil menatap Lisa.
"Seriusan nih, saya mau ditarktirin nih?" Tanya Lisa.
"Iya serius Lisa, sejak kapan aku pernah bohong sama kamu hah?" Ucap Lara menatap Lisa.
__ADS_1
"Iya juga sih, lagian emang benar Kak Lara tidak pernah berbohong," ucap Lisa.
"Ya sudah nih makan siang dulu, sudah siap nih," ucap Lara sambil menghidangkan makanannya di meja makan.
"Oke siaplah," jawab Lisa.
Lalu Lara dan Lisa pun kini sedang menikmati makan siangnya.
"Oya Lara, kamu yakin mau menceraikan Pak Viko?" Tanya Lisa.
"Iya aku yakin kok meski pun sebenarnya berat buat melepaskan dia tapi gimana lagi aku tidak sudi bila harus berbagi," ucap Lara sambil menguyah makanannya.
"Terus bagaimana dengan Zahra?" Tanya Lisa.
"Bagaimana apanya Lis? Lagian aku yakin dia sudah tahu siapa Ibu kandung sebenarnya dan aku pun yakin pasti Zahra sudah menerima Vani sebagai Ibunya. Dan pasti dia sekarang tinggal bersama dengan Mas Viko," Ucap Lara dengan ekspersi kekecewaan.
"Yang sabar ya Lara, bila itu keputusanmu semoga saja mendapatkan pria yang lebih baik dari Pak Viko." Ucap Lisa sambil menatap Lara.
"Iya semoga saja tidak seperti pria brengsek itu." Ucap Lara.
"I-iya," ucap Lisa dengan bicara kaku.
"Sudah selesaikah makannya Lis?" Tanya Lara yang sudah selesai makannya.
"Sudah kok Lara, mau berangkat sekarang?" Tanya Lisa.
"Boleh," jawab Lara.
"Ya sudah yuk kita berangkat sekarang sudah tidak sabar nih ditraktirin sama Ibu Bos," ucap Lisa.
"Mmzz.. sampai begitu semangatnya iya," ucap Lara sambil menatap Lisa.
"Tentu saja semangatlah kalau ada orang ngasih rezeki mah," ucap Lisa sambil menaikan dua alisnya.
"Huh dasaar.." ucap Lara.
__ADS_1
Lalu mereka pun berjalan menuju mobil dan kini mereka pun sudah berada di dalam mobil untuk pergi berangkat ke Mall.