
Nayna mengatakan apa yang ia rasa ,ia khawatir pada Arga,Fadlan paham apa yang di sampai kan Nayna,dengan pelan ia menuju balkon dan membuka pintu yang tertutup itu dengan pelan,saat terbuka betapa terkejutnya ia melihat seorang wanita yang sudah setengah telanjang dan Arga yang tidak memakai baju lagi,hanya celana panjang yang sedikit terbuka di atas nya,dengan berani Fadlan berjalan menghampiri mereka dan menghentikan aksi tak senonoh itu.
Arga terlihat memejamkan mata karena mendapat kan serangan dari Jesika,ia mencoba menahan tak membalas perlakuan Jesika.
"Tuan..?" Panggil Fadlan.
Arga membuka mata dan tersenyum mendapati Fadlan di depan nya.
"To...Lo....ng a..ku...!" Ucap Arga terbata.
Lain hal nya dengan Jesika yang terkejut dan menutup tubuh nya dengan baju milik nya,ia lari menuju kamar.
Fadlan membantu Arga bangun dan memakai kan Arga kemeja.
Dengan membopong tubuh Arga yang lemah,Fadlan menelpon dokter pribadi keluarga Hendrawan.
Arga di larikan ke rumah sakit xx milik keluarga nya,dengan pengawalan ketat ,Arga di bawa ke ruang pribadi nya tanpa sepengetahuan orang lain melalui jalan rahasia di belakang rumah sakit.
"Apa yang terjadi pada nya..?"Tanya dokter Rara yang sedang memeriksa Arga,keringat dingin terus bercucuran.
Fadlan menjelaskan kronologi nya sebelum mereka tiba di rumah sakit ini,kemudian dokter itu paham kemungkinan Arga di jebak dengan memasukkan obat perangsang ke minuman nya.
"Saya akan membantu mengurangi efek nya ,tapi tidak bisa total menghilangkan reaksi obat itu.!" Jelas dokter Rara.
"Tolong jangan beri tau dulu tuan dan nyonya besar,kita tunggu tuan mudah sadar dulu...!" Jelas Fadlan.
Dokter Rara mengangguk paham.
Di kantor Nayna mendapat kabar kalau dia harus pulang dulu sendiri dengan di jemput sopir pa Hendrawan.
Nayna menurut perintah yang di berikan Arga lewat Fadlan,ia tak tau apa yang terjadi sebenarnya,karena Arga tak ingin Nayna khawatir.
Setelah 3 jam menjalani perawatan,Arga mulai sadar,namun tubuh nya masih terasa hangat ,mungkin dari efek obat yang di berikan Dicky masih bekerja .
"Aku akan pulang sekarang,aku takut Nayna dan orang rumah khawatir jika aku belum pulang ..!" Ucap Arga pada asisten nya.
Fadlan mengangguk paham pada permintaan Arga,ia membantu Arga merapikan diri.
__ADS_1
"Tuan,di leher mu ada beberapa bekas wanita sialan itu, bagaimana jika Nona muda melihat nya..?" Tanya Fadlan yang membantu Arga memakai kan baju,karena memang kondisi Arga sedikit lemah sekarang.
"Aku bisa mengatasi nya , sekarang bawa aku keluar dari sini dulu..!" Pinta Arga.
Fadlan mengangguk paham dan membawa Arga keluar melalui jalan rahasia yang hanya di ketahui para petinggi di rumah sakit itu saat dalam keadaan darurat yang tak perlu di ketahui dunia luar.
Saat tiba di mobil nya,Fadlan mulai mengemudi dan memperhatikan Arga yang sedang sibuk sejak tadi di belakang mengoleskan sesuatu ke leher nya.
Arga ingat menyimpan Cream wajah Nayna di mobil nya,cream itu biasa di gunakan Nayna untuk menutupi bekas ulah Arga .
"Aku akan memberikan pelajaran pada wanita sialan itu,brengsek..!" Umpat Arga .
Tidak perlu lama untuk sampai di rumah besar milik Arga,ia turun dari mobil dengan di bantu Fadlan.
"Tubuh tuan sangat panas,anda harus segera melakukan apa yang di katakan oleh dokter Rara,jika tidak maka akan terjadi hal fatal..!" Ucap Fadlan pada Arga yang tengah di bantu nya berjalan.
"Apa yg terjadi ..?" Tanya Bu Marsya yang panik melihat Arga yang pucat .
"aku tak apa,hanya sedikit demam saja..!" Ucap Arga berbohong.
Bu Marsya yang panik saat merasa tubuh Arga yang sangat panas,menghebohkan seisi rumah.
"Kakak...apa yang terjadi..?" Tanya Nayna yang berjongkok di depan Arga.
"Kakak hanya sedikit demam dan lelah..!" Jawab Arga .
Bu Marsya menyuruh Nayna membawa Arga ke kamar untuk beristirahat.
Sampai di kamar,Arga langsung berbaring di ranjang,ia membuka kaos dan celana panjang nya.
"Apa yang kakak lakukan..?" Tanya Nayna yang heran saat menghampiri Arga membawa handuk kecil dan baskom kecil untuk mengompres Arga.
"Maaf kan kakak...!" Ucap Arga ,kemudian menarik Nayna mendekat dan langsung memeluk Nayna dengan erat , menyusuri leher jenjang milk Nayna.
"Kak,nanti saja,kakak sedang sakit harus istirahat dulu..!" Ucap Nayna yang paham akan keinginan Arga.
Namun Arga masih tidak melepaskan Nayna ,ia masih melakukan keinginan yang sudah di tahan nya sejak tadi.
__ADS_1
Arga mulai membuka kaos yang di gunakan Nayna,melakukan sedikit kasar,hingga tak jarang Nayna merintih kesakitan.
Setelah hampir 3 jam berlalu,Arga melihat Nayna yang tertidur kelelahan,ia merasa kasian pada Nayna,namun efek obat yang terjadi pada nya membuat nya tak ingin berhenti.
"maafkan kakak..!" Bisik Arga yang mendapat kan anggukan dari Nayna,ia menyelimuti tubuh Nayna yang polos dengan selimut tebal,kemudian berlalu menuju kamar mandi untuk mengguyur tubuh nya .
Di kamar mandi,Arga mengguyur tubuh nya dengan air dingin.
"Habis kau Jesika,akan ku buat kau menyesal,dan Dicky ,lelaki brengsek itu tak akan ku lepas kan..!" Umpat Arga,ia bersyukur saat di hotel masih bisa menahan efek obat itu meski di berikan rangsangan oleh Jesika dengan menjamah tubuh nya,meski begitu tetap saja ia begitu marah karena Jesika meninggalkan beberapa tanda di leher nya.
Di hotel
"bagaimana jika Arga melaporkan kita ke polisi..?" Tanya Jesika yang panik .
"Tenang lah,itu tidak akan terjadi,dia tak mungkin melakukan hal bodoh yang akan membuat nama keluarga nya tercemar..!" Jawab Dicky dengan santai.
"Lagian kamar ini tak terpasang CCTV,ini kamar VVIP,aku sudah mengecek semua nya,dia tak memiliki bukti apa pun untuk menyeret kita ..!" Jelas Dicky menenangkan Jesika yang terlihat khawatir.
"Lalu bagaimana dengan kerja sama kalian,apa ini akan mempengaruhi..?" Tanya Jesika kembali.
"Kau tidak perlu memikirkan itu,aku sudah mengatur semua nya, sekarang istirahat lah,ini sudah malam..!" Ucap Dicky.
Sebelum pergi ,Jesika menatap pada amplop coklat di depan Dicky.
Mata Jesika membulat sempurna saat melihat isi foto di dalam nya,foto yang memperlihatkan Arga dan diri nya sedang bergelut di sofa balkon.
"Itu untuk mu..!" Ucap Dicky.
Dengan senang Jesika menerima itu,ia mencium pipi kiri Dicky.
"Terimakasih kakak..!" Ucap Jesika dengan senang kemudian berlari ke kamar membawa amplop itu .
🌹🌹🌹🌹
Selamat beraktifitas semua
Jangan lupa like nya
__ADS_1
Mampir juga ke cerita aku yang lain
Wasiat Terakhir