Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
Bab 12 ~ Rival ~


__ADS_3

Siswa siswi yang mendengar teriakan Erica langsung berbisik-bisik. Entah apa yang mereka bicarakan. Mikho langsung memandang tajam ke arah Erica. Mikho memiliki pemikiran, apa pun yang menjadi perhatian Erica efeknya pasti akan buruk. Gadis itu bisa berimajinasi macam-macam terhadap suatu kejadian dan semua itu berdampak buruk bagi orang-orang yang dibicarakannya.


Mendapat tatapan mata seperti itu dari Mikho, apakah akan menghentikannya. Tidak! Terbukti Beberapa gadis yang dekat dengannya langsung berasumsi macam-macam. Ada yang berkata Celine sengaja tersesat agar di cari Mikho karena janji laki-laki itu. Ada yang menduga gadis itu pura-pura tak bisa napas. Ada yang mengatakan itu rencana Celine dan anggota sispala serta asumsi-asumsi lain yang sebagian besar menjelekkan Celine.


Mikho sangat takut gadis itu akan mendengar obrolan-obrolan gadis-gadis tukang gosip itu. Mereka adalah anak-anak IPA yang semakin hari semakin membenci anak IPS yang menurutnya hanya cari perhatian Mikho saja.


Apa yang akan terjadi kalau ada yang tahu perbuatanku. Ya ampun, yang kena imbas dan pandangan jelek pasti Celine lagi. Aku harus minta maaf padanya, tapi kapan? Di mana? Dalam tenda? Bisa-bisa ada yang dengar dan mereka semakin bergosip. Di ruang terbuka? Lebih bahaya lagi. Angin aja bisa mengirim pesan buat mereka. Lalu kapan aku akan bicara dengannya. Duduk didekatnya aja aku takut akan digosipkan. Cuma ketahuan CPR doang? Apa lagi kalau ketahuan aku mencumbunya. Oh ya ampun, jerit hati Mikho.


Celine telah istirahat di tenda, Tiara keluar dari situ. Mikho langsung mendatanginya untuk bertanya keadaan gadis yang disukainya itu.


"Bagaimana keadaannya? Apa sudah lebih tenang?" tanya Mikho penasaran.


"Entahlah Mik, dia masih tak mau bicara, selalu menangis. Mik, aku ingin tahu apa yang terjadi. Saat kamu temukan, keadaan dia bagaimana? Apa dia terlihat terguncang dan pakaiannya …" tanya Tiara terpotong dan seperti mengarah kalau Celine mengalami pelecehan.


"Nggak! Nggak! Nggak ada hal seperti itu. Maksudmu dia diperkosa begitu?" bisik Mikho di telinga Tiara.


Gadis itu mengangguk. "Nggak! Dia dalam keadaan berpakaian dan telah … sebenarnya saat aku menemukannya dia telah berhenti bernapas dan denyut nadinya juga berhenti–"


"Apa? Dia ... dia tak bernapas? Dia bisa mati," ucap Tiara yang belum mengetahui gosip heboh Mikho memberikan nafas buatan pada Celine. 


"Untung saja aku cepat menemukannya, aku lakukan CPR padanya dan sekarang telah timbul gosip kalau aku dan dia berciuman," jelas Mikho.

__ADS_1


Tiara tercenung mendengar kata-kata terakhir Mikho. Lalu buru-buru mengalihkan ke arah lain. Mikho dan Celine berciuman? Tidak hanya anak IPA yang akan panas membayangkannya, Tiara pun iri mendengarnya.


"Mereka itu nggak tahu pertolongan pertama pada orang yang henti napas itu adalah CPR?" tanya Tiara.


"Tanyakan sama Erica, dia yang heboh saat mendengar aku melakukan napas buatan mouth to mouth pada Celine," jawab Mikho.


Mouth to mouth? Oh ya ampun, batin Tiara.


"Dia itu anak IPA atau nggak sih? Dikiranya kasih nafas buatan itu sama dengan ciuman?" tanya Tiara yang menggerutu.


Sebuah gerutuan yang timbul dari hati Tiara. Sejujurnya dia sendiri merasa iri dengan apa yang didapatkan Celine. Menatap bibir manis Mikho, siapa yang tak ingin merasakannya. Setiap kali laki-laki yang ramah itu bicara atau tersenyum, gadis-gadis akan berfantasi membayangkan bibir itu mendarat di bibir mereka.


Tiara bersikap seolah itu tak mempengaruhi dirinya. Berusaha menganggap itu adalah hal yang biasa dan bukan sesuatu yang bersifat romantisme. Namun, di hatinya dia tetap iri, kenyataan yang menikmati pertama kali justru adalah Celine. Gadis yang digosipkan anti pada Mikho. Anak IPS yang selalu mempermalukan Mikho di ruang OSIS.


Orangnya tampan tapi kulitnya tak begitu putih. Pembawaannya tenang dan terlihat berwibawa.


Pakai nanya lagi. Udah ninggalin Celine begitu aja, sekarang pakai sok perhatian, batin Mikho.


Bukan hanya karena perhatian itu yang membuat Mikho kesal tapi karena beberapa kali mendapati Celine dan laki-laki itu yang berbincang akrab. Melihat itu tentu saja membuat darah Mikho mendidih. Mikho bahkan menduga, laki-laki itulah yang membujuk Celine untuk tetap mendaki hingga puncak.


"Untuk apa nanya-nanya? Bukannya kalian yang tidak becus menjaganya–"

__ADS_1


"Mik!" Tiara mencegah Mikho berkata yang lebih keras lagi pada laki-laki itu.


"Maaf, aku memang lalai menjaga Celine. Aku pikir dia mengikuti ka–"


"Alasan! Selalu itu yang kalian katakan sejak kemaren. Udah muak mendengarnya. Gue yakin loe yang membujuk dia untuk ikut naik ke puncak 'kan?" tanya Mikho yang tak bisa dilarang oleh Tiara.


Gadis itu bahkan harus memegangi tangan Mikho untuk menghentikan laki-laki itu meneruskan ucapannya.


"Dengarkan aku dulu! Jangan sembarang tuduh! Aku tahu kamu suka dan khawatir sama dia. Aku juga tak ingin disalahkan. Aku juga ikut membujuk Celine untuk batal naik ke puncak tapi apa yang dikatakannya padaku. Dia tidak bisa batal karena jika dia batalkan maka kamu pasti akan memandang rendah padanya. Dia tetap nekat naik itu karena kamu Dia tak mau kamu merendahkan dia lagi," jelas laki-laki itu dengan nada tinggi.


Laki-laki itu kesal karena Mikho menyalahkannya. Sementara yang dia tahu Celine nekat mendaki semua itu karena Mikho.


"Merendahkan dia? Apa maksud loe, kapan gue merendahkan Celine?" tanya Mikho sewot.


"Sudahlah! Orang yang merasa dirinya baik memang selalu merasa tak pernah salah," ucap laki-laki itu.


"Apa kata loe?" tanya Mikho yang tak sabar lagi hingga akhirnya melayangkan tinju pada laki-laki itu.


Laki-laki itu tersungkur, Tiara menjerit. Mikho tak peduli dengan ucapan laki-laki itu. Selain dia merasa tak pernah berbuat seperti itu pada Celine, dia juga tak peduli dengan pandangan orang terhadapnya. Mikho tak pernah merasa dirinya baik, hingga merasa tak pernah berbuat salah. Mikho cuma benar-benar merasa muak pada laki-laki itu.


Laki-laki yang selalu membuat Celine tersenyum saat laki-laki itu mengucek anak rambutnya. Jika dia tak melihat kejadian itu, Mikho tak akan pernah tahu kalau Celine punya teman laki-laki seakrab itu. Mikho cemburu melihat gadis itu yang bisa tersenyum pada laki-laki itu sementara selalu jutek padanya.

__ADS_1


...~  Bersambung  ~...


__ADS_2