Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
BAB 78 ~ Pasrah ~


__ADS_3

Lola meminta Celine pulang untuk beristirahat tetapi gadis itu menolak. Jangankan menyuruhnya pulang untuk memalingkan wajahnya sekilas saja dari suaminya, gadis itu tak sudi. Celine tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari laki-laki yang dicintainya itu.


Devan yang hanya bisa diam tertunduk melihat raut khawatir gadis itu, baru menyadari kalau Celine dan suaminya berpisah bukan karena kehendak mereka. Mikho datang dari jauh mencari Celine meski kondisi laki-laki itu terlihat lemah. Sementara Celine masih tetap menjaga dirinya sebagai seorang istri.


Terbukti gadis itu masih mengenakan cincin pernikahannya dan menolak menerima ciuman darinya. Devan telah sadar kalau harapannya yang tumbuh sejak bertemu cinta lamanya itu, kini harus pudar kembali. Melihat Mikho yang belum ada tanda-tanda untuk sadar, Devan mengajak Celine untuk pulang ke rumah.


"Sebaiknya kamu pulang Celine, ini sudah larut malam. sebaiknya kita pulang untuk istirahat!" ajak Devan.


"Oh Devan! Maafkan aku ya? Aku sudah menyusahkan kamu. Terima kasih karena membantu membawa suamiku ke sini. Kamu pulanglah! istirahatlah! Maaf, harusnya aku memintamu untuk istirahat pulang dari tadi. Aku jadi tak enak hati, setelah membantuku, kamu justru diabaikan. Aku tadi banyak pikiran. Sekarang pulanglah, istirahatlah. Terima kasih untuk segalanya," ucap Celine seperti baru sadar akan keberadaan Devan dari tadi diabaikannya.


Celine seperti orang yang baru sadar dari lamunannya. Devan tersenyum mendengar ucapan gadis itu yang berhenti. Rasa bersalah Celine karena mengabaikan Devan dari tadi membuat gadis menyuruh Devan pulang hingga berkali-kali. Padahal Devan bukan meminta izin untuk pulang tetapi ingin mengajak gadis itu pulang bersamanya.


"Aku ingin mengajakmu istirahat pulang Celine. Bukan ingin pulang sendiri. Besok kamu bisa ke sini lagi kalau kamu mau," ajak Devan sambil tersenyum.


"Tapi dia di sini sendirian," ucap Celine dengan raut wajah khawatir.


Lola yang sedari tadi berdiri di ruangan itu akhirnya ikut angkat bicara. Sebenarnya dari tadi Lola ingin menyarankan agar Celine istirahat pulang. Namun, perawat itu tak tega mengganggu lamunan Celine dan Celine terlihat tak mau jauh dari suaminya.


"Aku yang akan menjaganya. Jangan khawatir, aku sudah minta izin pada suamiku untuk menjaga dr. Mikho di sini," ucap Lola.


"Tapi Lola, tetapi aku ini istrinya. Aku ingin di sini menjaganya, Lola," ucap Celine seperti memohon.


"Aku tahu, tapi lihatlah kondisi ruangan ini? Kamu mau tidur di mana? Bisa-bisa setelah menjaga dr. Mikho, kamu yang malah jatuh sakit. Kalau aku, ada ruanganku sendiri di sebelah. Setiap beberapa jam aku akan periksa kondisi dr. Mikho. Di sini juga dingin, kamu nggak punya persiapan menginap di sini. Aku yakin kamu juga belum makan malam, ya 'kan?" tanya Lola membujuk.

__ADS_1


"Tapi?" tanya Celine, masih terlihat keberatan meninggalkan suaminya.


"Baiknya sekarang kamu istirahat. Kamu juga tak bisa melakukan apa-apa padanya saat ini. Besok datang kesini lagi dengan lebih segar. Jika besok dr Mikho sudah sadar, kamu bisa menjaganya, merawatnya, di sini, di rumah atau membawanya pulang ke kota, terserah padamu, yang penting staminamu terjaga. Untuk itu sekarang sebaiknya kamu pulang. Istirahatlah yang cukup di rumah," tutur Lola, sekali lagi membujuk Celine.


"Tapi kenapa kamu boleh menemaninya?" tanya Celine.


"Aku memang tenaga medis Celine. Jika ada yang di rawat inap di sini, aku memang selalu menginap di sini. Selama ini dr. Mikho selalu kembali ke kota setiap hari. Jadi aku yang menjadi perawat jaga di sini," jawab Lola.


"Aku jadi menyusahkanmu," ucap Celine tak enak hati.


"Nggak menyusahkan, percayalah. Tapi jika kamu ingin membalas jasaku, tolong rayu suamimu agar kembali praktek di klinik ini ya? Kasihan penduduk di sini suka tanyakan dia kalau ingin berobat. Mereka percaya padanya, terlebih pasien yang telah tua-tua. Di beri air putih saja, dia bisa sembuh saking percayanya pada dr. Mikho. Kalau aku, kasih obat yang sama pun tak bisa menyembuhkan mereka. Mereka punya sugesti tersendiri terhadap dr. Mikho. Mereka percaya padanya dan yakin bisa sembuh dengan pengobatannya," jelas Lola.


Celine termenung mendengar cerita Lola. Masih terlalu jauh pikirannya untuk bisa merayu Mikho seperti permintaan Lola. Sekarang saja Celine tidak yakin dengan status pernikahannya.


Namun, akhirnya Celine menuruti saran Lola. Gadis itu akhirnya bersedia untuk pulang setelah menunggui Mikho seharian. Meski dengan berat hati, akhirnya Celine melangkah menuju mobilnya. Devan mengemudi mobil Celine tetapi gadis itu meminta untuk mampir ke rumah Devan.


"Sekarang sudah malam 'kan? Bagaimana caramu pulang? Aku bisa antarkan kamu pulang setelah itu aku bisa pulang sendiri," usul Celine.


"Aku pulang sendiri saja, tak apa-apa–"


"Jalan kaki?" tanya Celine.


"Aku ini laki-laki, nggak masalah pulang jalan kaki. Syukur-syukur nanti ada yang lewat. Aku bisa menumpang–"

__ADS_1


"Kalau nggak ada? Jalan kaki? Sudahlah! Aku sudah banyak menyusahkanmu, biarkan aku mengantarmu pulang ya!" ucap Celine.


Gadis itu memutuskan untuk mengemudi sendiri mobilnya setelah mengantar Devan. Guru tampan itu pasrah, akhirnya mengarahkan mobil menuju rumahnya terlebih dulu. Celine sangat berterima kasih atas bantuan Devan untuk hari ini. Terlebih saat Celine melihat, Devan rela membopong tubuh suaminya.


"Terima kasih Devan, atas bantuanmu pada suamiku," ucap Celine dengan tulus.


"Kamu sudah mengucapkan terima kasih tadi," ucap Devan lalu tersenyum.


"Ya, mungkin aku belum puas mengucapkannya," balas Celine. Devan tertawa, Celine pun ikut tertawa.


"Kamu sepertinya masih sangat mencintai suamimu," ucap Devan.


"Ya."


"Meski kalian telah berpisah?" tanya Devan.


"Ya! Sampai kapan pun. Aku akan mencintainya, selamanya," jawab Celine.


Devan terdiam, ada rasa perih di dadanya tetapi laki-laki itu berusaha bersikap wajar dan fokus mengemudi. Laki-laki itu tersenyum, mengingat dirinya yang belum terlanjur jauh berharap pada Celine.


Mereka pun tiba di rumah Devan. Laki-laki itu meminta Celine untuk berhati-hati. Gadis itu mengangguk. Segera melajukan mobilnya menuju rumah. Celine segera beristirahat dengan tekad akan bangun pagi-pagi sekali agar bisa segera menjenguk suaminya.


Andaikan di ruangan itu ada kursi yang cukup panjang, Celine akan mencoba bertahan menunggu suaminya di klinik. Namun, berhubung di sana hanya sebuah klinik kesehatan yang tak terlalu besar bahkan cukup kecil jika dibandingkan klinik kesehatan di kota. Fasilitas yang dimilikinya jauh dari kata mewah, bahkan nyaris seadanya.

__ADS_1


Sementara Celine pulang ke rumahnya agar bisa beristirahat, Mikho justru terbangun. Setelan menjalani perawatan, laki-laki itu terbangun dan baru menyadari kalau dirinya sedang dirawat di ruang rawat inap klinik kesehatannya sendiri. Setelah mengingat apa yang terjadi, melihat Celine yang telah membuka hatinya pada laki-laki lain. Mikho putus asa hingga memutuskan untuk meninggalkan desa itu dan pasrah mencoba untuk melupakan Celine.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2