
Bu Dessery masuk ke kamar Celine dengan wajah ceria, maksud hati ingin mengagetkan putrinya. Memang benar, Celine sangat kaget hingga langsung berdiri dari duduknya di sisi ranjang. Kagetnya Celine bukan hanya karena terkejut tapi karena niatnya yang seharusnya tak diketahui orang tuanya.
Reflek gadis itu melepas cutter ditangannya sehingga terpental ke lantai kamar. Gadis itu berdiri dengan napas yang berat dan wajah yang pucat pasi. Bu Dessery segera mendatangi, tersenyum seolah tak menyadari apa niat putrinya.
Sekilas melirik ke lantai dan terkejut menatap cutter yang tergeletak di lantai. Senyum ibu itu mengembang seakan-akan tak melihat pisau yang hampir merenggut nyawa putrinya. Masih dengan senyum tetapi dengan hati yang remuk. Ibu itu berusaha bersikap wajar seolah-olah tak mengetahui rencana putrinya. Ibu itu hanya ingin memberi tahu kalau ayah Celine pulang membawakan makanan kesukaannya.
Bu Dessery segera mengajak putrinya turun ke lantai bawah. Mendorong putrinya itu seolah-olah sedang bercanda, menyembunyikan ketakutannya saat kembali melirik pisau yang tergeletak di lantai.
"Sayang! Papa bawakan gado-gado kesukaanmu. Papa diajak teman makan di sebuah restoran dengan konsep tradisional. Melihat menu gado-gado Papa langsung ingat sama kamu. Rasanya enak sekali. Akhirnya Papa sengaja pesan untuk dibawa pulang," jelas Papa Celine.
Semua ikut menikmati makanan kesukaannya itu. Bu Dessery sebentar-bentar tersenyum menatap putrinya. Namun, hatinya sangat gusar, teringat cutter yang jelas-jelas terlihat jatuh dari tangan Celine.
Bagaimana ini? Aku bisa membuang cutter itu tapi bagaimana dengan benda tajam lainnya. Bagaimana aku akan menjaganya. Celine sepertinya kembali putus asa. Ada masalah apa sebenarnya? Dari kemarin Celine kembali murung, sekarang menunjukan tanda-tanda ingin bunuh diri lagi. Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan? tanya Dessery dalam hati.
Ibu itu termenung memikirkan apa yang terjadi pada putrinya. Kembali bertanya apa yang menyebabkan gadis itu kembali murung tetapi Bu Dessery tak berani. Ibu itu takut mendesak Celine hingga semakin mempercepat niatnya mengambil jalan pintas.
Besoknya Bu Dessery meminta Mikho datang ke rumah. Setelah menceritakan pada suaminya, Pak Yudhi pun setuju untuk meminta bantuan Mikho. Orang tua Celine berharap laki-laki itu bisa membujuk Celine menceritakan masalahnya.
"Bunuh diri? Celine kembali mencoba bunuh diri? Nggak! Nggak boleh! Nggak boleh! Celine nggak boleh lakukan itu lagi, nggak Tante, jangan sampai Celine melakukan itu lagi. Mungkin Tante salah, mungkin ini hanya ketakutan Tante saja," ucap Mikho sambil menahan tangis.
"Tante juga berharap salah, tapi apa yang Tante lihat semalam benar-benar membuat Tante merasa takut. Celine sedang memegang pisau sendirian di kamar," jelas Dessery sambil menangis.
Mikho tertegun, tak mungkin meragukan penjelasan ibu dihadapannya itu, raut wajah ketakutannya tak dibuat-buat. Jika mendengar saja Mikho sudah sangat cemas, bagaimana jika melihat sendiri putrinya yang kembali ingin mengakhiri hidupnya. Ibu itu pasti merasa sangat ketakutan, lengah sedikit saja nyawa putri satu-satunya itu bisa melayang.
__ADS_1
Mikho masih mencoba mencari solusi untuk memecahkan masalah ini. Satu-satunya yang ingin dilakukanlah adalah melindungi Celine dengan tangannya sendiri. Menjaga gadis itu dengan sepenuh hati, menghiburnya, berusaha membuatnya selalu bahagia dan itu ingin dilakukannya dengan menikahinya.
"Om, Tante, aku mencintai Celine, izinkan aku menikahinya. Aku akan menjaganya siang dan malam, aku akan selalu menghiburnya, membuat hidupnya bahagia. Itu adalah cita-citaku sejak mengenalnya. Aku sungguh-sungguh mencintai Celine Tante, Om. Izinkan aku menikahinya. Aku mohon–"
"Bullshit!" teriak Yodi yang tiba-tiba muncul dari pintu depan.
Ketiga orang itu langsung menoleh ke arah Yodi dan Celine yang ternyata telah pulang dari kantor. Awalnya Celine ragu memasuki rumah karena melihat mobil Mikho di depan teras. Namun, Yodi tak tahan ingin tahu apa maksud kedatangan laki-laki itu.
Yodi mengajak Celine masuk rumah. Meskipun terasa berat tapi Celine akhirnya mengikuti. Mereka langsung kaget mengetahui Mikho yang tiba-tiba datang dan meminta izin untuk menikah dengan Celine. Dengan perasaan kesal, Yodi langsung menyahut omongan Mikho.
"Apa Mama dan Papa tahu? Apa yang menjadi penyebab kesedihan Celine? Dia lah orangnya. Dia datang bersama tunangannya dan membuat keributan–"
"Kak!"
"Tunangannya menghina Celine di depan orang banyak dan dia membela tunangannya itu hingga terjadi perkelahian di depan pintu restoran. Pa, Ma jika ingin tahu siapa yang menyebabkan kesedihan Celine sekarang ini, dialah orangnya," ucap Yodi lantang sambil menunjuk pada Mikho.
Mikho menatap wajah Celine dengan mata yang berkaca-kaca. Berkali-kali mencoba menemui gadis itu tetapi Celine tak pernah mau menemuinya. Mikho ingin menjelaskan penyesalannya atas kejadian itu, baik di restoran saat itu juga maupun di rumah. Namun, Celine tak pernah mau menemuinya.
"Mikho?" tanya Dessery.
Ibu itu bertanya pada Mikho seakan-akan tak percaya pada tuduhan Yodi. Mikho adalah orang yang dikenalnya sangat menyayangi putrinya. Bersedih saat Celine mengalami kritis, menjaga gadis itu dengan sepenuh hati selama dirawat. Bu Dessery dan Pak Yudhi hampir tak percaya dengan ucapan Yodi.
"Tante, ini tak seperti yang Tante kira, aku–"
__ADS_1
"Sudahlah, tak perlu dijelaskan lagi. Kenyataannya memang seperti itu. Malah berani-beraninya melamar Celine. Lalu kamu mau buang ke mana tunanganmu itu? Apa kamu orang yang seperti itu? Ingin mendapatkan yang baru lalu membuang yang lama? Orang seperti itukah yang akan menjaga Celine?" tanya Yodi.
"Kamu sudah bertunangan Mikho?" tanya Dessery kaget.
Mikho tertunduk, tak bisa menjawab. Kenyataan memang dia telah bertunangan dengan Tiara. Begitu ingin melindungi Celine, begitu ingin menjaganya, Mikho lupa bahwa dia telah memiliki seseorang yang telah mengikatnya.
"Mikho, jangan begitu Nak. Kamu tega meninggalkan tunanganmu dan melamar Celine? Itu bisa menambah masalah baru. Bagaimana dengan keluargamu dan keluarga tunanganmu. Bagaimana tanggapan mereka terhadapmu? Di mana tanggung jawabmu?" tanya Dessery bertubi-tubi.
"Awalnya kami sangat bahagia melihat ketulusanmu menyayangi putri kami hingga mau melamarnya, tapi jika seperti ini keadaannya. Kami tak bisa melepas Celine padamu, Mikho. Kami anggap kamu tak pernah melontarkan lamaranmu pada Celine. Ini demi kebaikanmu Nak, kamu tak boleh menjadi laki-laki yang tak bertanggung jawab," ucap Yudhi.
Dalam hati kedua orang tua Celine menyayangkan apa yang terjadi. Mereka menyayangi Mikho, bahagia jika Mikho masih tetap mencintai putri mereka, karena itu, rasa sayang mereka pada Mikho diwujudkan dengan menolak permintaan laki-laki itu. Menasehati Mikho agar tidak salah dalam mengambil keputusan.
Mikho menoleh ke arah Celine. Sedikit pun Mikho tak merasa malu pada penolakan itu. Karena dia yakin Celine mengetahui persis seperti apa perasaannya terhadap Celine dan juga terhadap tunangannya.
Namun, di tempat itu, di hadapan semua orang, Mikho tak bisa menyatakan kalau dirinya tak mencintai tunangannya. Semua itu hanya akan membuat Tiara terlihat sangat menyedihkan. Karena bertunangan dengan orang yang tak mencintainya.
Celine sendiri juga tak ingin Mikho mengungkapkan itu. Karena bagi Celine itu akan sangat merendahkan Tiara, sahabat yang disayanginya. Mikho menatap lama gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca. Seakan itu adalah kesempatan terakhirnya menatap gadis yang dicintainya.
Begitu juga dengan Celine, gadis itu menyesal telah membiarkan laki-laki itu memiliki harapan untuk bisa bersamanya. Padahal dia tahu, dia sadar. Celine sendiri tak akan mengizinkan Mikho meninggalkan Tiara, tetapi hatinya yang begitu mencintai Mikho tak mampu menolak ungkapan kasih sayang laki-laki itu sehingga masih mau menerima pelukan dan ciuman dari Mikho.
"Maafkan aku," ucap Celine pelan, merasa bersalah pada laki-laki itu.
Teringat awal mereka bertemu di klinik, Celine menyambut pelukan dan ciuman Mikho. Padahal dirinya telah berpacaran dengan Yodi. Hingga saat mengetahui Mikho telah bertunangan dengan Tiara pun, Celine masih mau menerima ciuman laki-laki itu.
__ADS_1
Celine merasa bersalah karena telah memberi harapan pada laki-laki itu sehingga akhirnya Mikho hanyut dalam khayalan bisa bersama dengannya sehingga akhirnya mengabaikan perasaan Tiara. Sesungguhnya Celine tak ingin menyakiti Tiara, tetapi Celine tak bisa menolak Mikho. Karena dia sendiri sangat mencintai Mikho.
...~ Bersambung ~...