
Mikho menjalani kegiatan belajarnya dengan penuh semangat. Hari ini sudah berencana untuk kembali menjenguk Celine. Pagi itu Mikho juga telah mengabarkan pada Bu Wati bahwa kondisi terakhir Celine telah membaik. Begitu bahagianya laki-laki itu hingga juga mengumumkan kondisi Celine di kelas IPS.
Kedatangan Ketos tampan itu ke kelas mereka tentu membuat kelas itu menjadi heboh. Dengan bahagia Mikho menjawab pertanyaan-pertanyaan anak-anak kelas IPS itu. Merasa dekat dengan kelas itu, hingga laki-laki itu betah berlama-lama berbincang dengan penghuni kelas itu.
"Apa kami sudah boleh menjenguknya?" tanya seorang siswa IPS itu.
"Mungkin kalau terlalu ramai belum bisa, hanya utusan saja yang boleh ikut menjenguk. Bagaimana?" tanya Mikho.
"Tapi Mikho, aku ingin ikut, aku ingin minta maaf padanya. Aku banyak salah, banyak dosa–"
"Aku juga."
"Aku juga."
Bergantian mereka mengajukan diri untuk ikut ke rumah sakit menjenguk Celine. Semuanya mengaku bersalah, merasa berdosa dan ingin meminta maaf.
"Serius?" tanya Mikho dan semua pun langsung mengangguk.
Entah itu sungguh-sungguh atau hanya ingin lebih dekat dengan ketos tampan itu. Penghuni kelas IPS itu mengaku ingin menjenguk Celine dan sebagian besar itu adalah para siswi-siswi yang memang menyukai Mikho.
Mikho pun memutuskan untuk menggilir siswa-siswi yang ingin datang menjenguk Celine. Mereka melakukan vote untuk menentukan siapa-siapa yang akan ikut dan kapan hari-harinya.
"Serius?" tanya Tiara saat Mikho menceritakan rencananya untuk membawa teman-teman sekelas Celine untuk berkunjung ke rumah sakit.
"Apa kamu udah tanyakan ke orang tua Celine. Barangkali mereka keberatan menerima siswa-siswi itu, dan mungkin saja mereka merasa terganggu," lanjut Tiara lagi.
__ADS_1
"Kami tidak akan datang serentak tapi secara bergantian dan setiap kelompok tak boleh terlalu banyak. Paling banyak hanya empat orang. Aku berharap dengan bertemu teman-teman sekelasnya membuat dia ingin cepat sadar," ucap Miko dengan nada sedih.
"Apa kamu lupa? Teman-teman sekelasnya yang jahat padanya," ucap Tiara.
"Kalau itu alasannya, kita semua jahat pada Celine, kenapa kita membolehkan diri kita ketemu dengan Celine? Apa kelebihan kita, hingga kita boleh sementara mereka tidak? Karena kamu adalah sahabatnya? Atau aku orang yang mencintainya?" tanya Mikho.
Tiara yang tertunduk langsung mengangkat wajahnya saat kata-kata terakhir Mikho terucap. Laki-laki itu telah jelas-jelas menyatakan mencintai Celine. Itu sebuah kenyataan yang pasti dan harus diterima gadis itu.
"Justru kita yang lebih jahat berpuluh kali lipat pada Celine. Kamu yang mengaku sahabatnya dan aku yang mengaku mencintainya, membiarkan dia sendiri menjalani hidup yang sulit dan tak bisa melindunginya," ucap Mikho pelan.
Namun, membuat mata Tiara berkaca-kaca. Bukan hanya karena pernyataan cinta Mikho pada Celine tapi juga membenarkan ucapan laki-laki itu. Tiara lupa, dia yang mengaku sahabatnya juga ikut mendorong gadis itu ke pinggir jurang hingga membuat Celine merasa tak memiliki jalan lagi.
Mikho melangkah pelan kembali ke kelasnya. Meninggalkan Tiara yang menangis sesenggukan. Teringat foto terakhir yang dikirimkan Celine padanya. Satu-satunya orang yang dikirimkan foto perpisahan adalah dirinya, sahabatnya. Dalam hati Tiara membenarkan ucapan Mikho. Tiara merasa dirinya adalah orang yang paling jahat di antara semuanya.
Anak-anak IPS dan Mikho mengunjungi Celine di rumah sakit. Mikho menemui orang tua Celine, meminta maaf karena tak meminta izin sebelumnya membawa teman-teman Celine. Melihat anak-anak itu yang begitu berniat menjenguk Celine dengan membawakan buket bunga, buah-buah bahkan hadiah untuk Celine.
"Minta maafnya nanti sama Celine," ucap Dessery sambil tersenyum.
"Tapi kami yang menyebabkan Celine jadi seperti ini Bu dan Ibu pasti sedih karenanya," ucap seorang siswi sambil menunduk menangis.
Melihat keseriusan mereka meminta maaf, orang tua Celine tentu memaafkan mereka. Pak Yudhi dan Bu Dessery meminta anak-anak itu mendoakan kesembuhan Celine. Mereka pun berjanji akan selalu mengharapkan dan mendoakan kesembuhan teman mereka.
"Kamu nggak pulang Nak?" tanya Yudhi sambil menepuk pundak Mikho.
Setelah teman-teman sekelas Celine pulang, Mikho masih bertahan di ruang perawatan intensif itu. Duduk diam memandangi Celine di kursi samping ranjang rumah sakit itu. Sesekali menoleh pada tangan Celine. Terlihat sangat ingin menggenggam tangan gadis yang dicintainya itu. Namun, ditahannya demi rasa kesopanan di depan orang tua Celine.
__ADS_1
Melihat Mikho yang tak lelah-lelahnya menunggu membuat orang tua Celine tak enak hati. Mereka pun menyarankan Mikho untuk beristirahat pulang. Terlihat Mikho yang masih sangat enggan untuk menjauh dari gadis itu.
"Apa saya tidak boleh menunggu Celine di sini Om?" tanya Mikho dengan wajah sendu.
"Bukannya tak boleh, tapi kamu habis dari sekolah. Apa tidak capek? Nanti justru kamu yang jatuh sakit," jawab Yudhi.
"Nggak Om, saya nggak capek. Cuma duduk di sini saja, mana mungkin capek. Lagian kalau saya pulang, saya juga nggak bisa lakukan apa-apa. Pikiran saya tetap di sini, ah … jika Om dan Tante capek silahkan pulang istirahat dulu biar saya yang jagain Celine. Nanti jika Om dan Tante kembali barulah saya yang pulang," usul Mikho.
Kedua orang tua itu tersenyum, mereka tahu Mikho sangat ingin berduaan dengan putri mereka. Di samping itu mereka juga merasa lelah. Selama di ruangan itu mereka tak bisa istirahat karena setiap kali menatap putri mereka, perasaan sedih akan selalu membebani pikiran mereka.
"Baiklah kami akan pulang, nanti malam kami kembali. Setelah kami datang kamu harus pulang untuk istirahat ya," ucap Yudhi akhirnya.
"Ya Om, istirahat dan santailah di rumah jangan buru-buru. Nanti kalau Om dan Tante sudah fresh lagi, datanglah ke sini," jawab Mikho dengan semangat.
Pak Yudhi tertawa dan Bu Dessery tersenyum. Mereka setuju usul Mikho dan mereka pun pulang. Meninggalkan Mikho sendirian menjaga putri mereka. Orang tua gadis itu juga menawarkan Mikho makanan dan minuman yang tersedia di lemari pendingin di ruangan itu. Dengan semangat Mikho mengangguk, kedua orang tua itu pun melangkah pergi sambil tersenyum.
Sepeninggalan kedua orang tua Celine, Mikho langsung meraih tangan Celine dan mengecupnya. Hal yang sangat ingin dilakukannya sejak tadi. Laki-laki itu berkata-kata sendiri seolah-olah Celine mendengarkannya. Menceritakan teman-teman Celine yang berebut ingin datang menjenguk hingga harus voting untuk menentukan siapa yang akan ikut hari itu.
"Apa kamu senang sayang? Teman-teman kelasmu sangat ingin bertemu denganmu?" tanya Mikho sambil tertawa meski itu adalah tawa yang dipaksakan.
Laki-laki itu bercerita apa saja. Saat bercerita kejadian lucu di kelas IPS itu, dia akan tertawa. Saat menceritakan kesedihannya dia akan menangis. Terkadang diam menatap mata Celine yang tak kunjung terbuka. Entah kekuatan apa yang menariknya untuk mendekati Celine. Mikho menempel bibirnya di bibir gadis itu.
Aku cinta sama kamu Celine, aku mohon bangunlah, aku kangen sama kamu, batin Mikho sambil menitikkan air matanya.
Tanpa disadarinya air mata itu menitik di kelopak mata Celine. Perlahan dan berat, gadis itu membuka matanya. Meski belum sadar sepenuhnya tapi Celine menyadari Mikho kembali mengambil kesempatan untuk melecehkannya.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...