Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
BAB 75 ~ Rumah di Desa ~


__ADS_3

Celine sibuk membersihkan rumput-rumput pengganggu di kebunnya. Asyik merapikan tanaman-tanaman bunga dan sayuran. Begitu asyiknya hingga tak menyadari hari telah siang menjelang sore.


Terdengar teriakan anak-anak yang berlari ke arahnya. Seperti biasa mereka datang untuk belajar tambahan di rumah Devan tetapi karena jauh mereka pun akhirnya belajar di rumah yang dibeli oleh Celine. Devan pun tak keberatan anak-anak itu belajar di sana selain lebih dekat dengan rumah mereka, Celine bisa diandalkan untuk mengajari. Sementara Devan seperti punya alasan untuk datang ke kediaman gadis cantik itu.


"Jangan lari Nak! Awas nanti jatuh!" seru Celine setiap kali anak-anak itu melihatnya dari jauh.


Hampir setiap hari seperti itu, kadang saat teringat anak-anak itu akan datang, Celine segera masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan makanan ringan dan minuman untuk anak-anak itu. Namun, saat Celine lupa dan anak-anak itu terlanjur melihatnya, mereka akan segera berlari mengejar Celine.


Aaah anak-anak ini, mereka yang berlari kenapa aku yang merasa ngeri? batin Celine.


Gadis itu tersenyum dan bersedia masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan minuman dan makanan. Baru saja Celine hendak melangkah ke teras rumahnya terdengar suara jerit diiringi suara tangis. Sontak Celine menoleh, dan benar saja salah seorang dari anak itu terjatuh. Celine pun segera berlari mengejar anak itu yang telah menangis di jalan berbatu.


"Aduh, kakak sudah sering bilang. Kalian jangan lari-lari akhirnya jatuh kan," ucap Celine panik.


Apalagi melihat lutut anak itu yang terlihat berdarah. Celine tak sanggup merawat luka anak itu dan berniat membawanya ke klinik kesehatan. Segera gadis itu menyalakan mesin mobilnya untuk mengantar anak laki-laki yang terjatuh itu. Ada rasa bimbang saat berpikir di klinik itu akan bertemu Mikho.


Namun, Celine tak bisa memikirkan apa-apa lagi. Melihat darah yang menetes begitu deras, gadis itu tak sanggup memikirkan hal lain lagi kecuali segera ingin membawa anak itu untuk mendapatkan perawatan medis di klinik. Lola sangat terkejut saat melihat Celine yang tiba-tiba datang membawa seorang anak yang sedang terluka.


"Kamu menabraknya?" tanya Lola dengan tatapan selidik.


"Yang benar aja? Dia berlari lalu jatuh di jalan berbatu," sanggah Celine membela diri.


Celine langsung menoleh ke kiri dan kanannya. Seolah-olah sedang mencari-cari. Lola yang langsung menangani luka anak itu hanya bisa tersenyum melihat Celine yang celingak-celinguk.


"dr. Mikho nggak ada. Dia udah lama nggak ke sini lagi. Aku udah nggak tahu bagaimana cara memanggilnya ke sini. dr. Mikho seperti tak peduli lagi pada klinik ini. Sejak bertemu denganmu, dr. Mikho kurang perhatian pada klinik ini. Padahal dulu rajin sekali praktek di sini … apa yang terjadi? Kamu melarangnya ke sini? Sementara kamu sendiri senang ke kampung ini. Aku bilang begitu karena seperti pernah melihatmu di kampung ini. Tapi aku nggak yakin, tapi sekarang ternyata memang benar kamu 'kan," oceh Lola sambil sibuk membersihkan luka anak itu.

__ADS_1


Celine hanya tertunduk, sedikit pun tak berminat untuk membicarakan Mikho. Gadis itu menghilang untuk menjauh dari Mikho tetapi akhirnya tetap saja tak lepas dari bayangan laki-laki itu. Celine menyesal sendiri karena mencari tempat pelarian di daerah yang justru menjadi tempat penuh kenangan bagi mereka. Tempat yang juga menjadi favorit Mikho saat ingin mengenang gadis yang dicintainya.


"Kenapa kamu ada di sini? Di mana dr. Mikho? Lalu kenapa anak ini? Kenapa bisa berurusan dengan anak ini?" tanya Lola bertubi-tubi.


"Aku … " Celine terdiam. Tak bisa melanjutkan ucapannya.


"Kalian lagi ada masalah? Kenapa bisa sendiri ke sini? Kalian sedang bulan madu di sini?" tanya Lola tiba-tiba dan kaget sendiri.


"Bulan madu apa? Tak ada acara bulan madu, bulan madu an," jawab Celine.


Lola mengerutkan keningnya. Gadis itu telah menyelesaikan tugasnya merawat luka anak itu lalu memberikan nasehat pada anak itu untuk menjaga agar lukanya tetap kering dan bersih. Celine membayar biaya perawatan yang dilakukan Lola.


"Aku nggak tahu bagaimana kelanjutan klinik ini. Aku hanya bisa melakukan yang aku bisa. Aku juga tak tahu bagaimana dengan stok obat-obatan yang semakin menipis di sini. dr. Mikho seperti tak berminat lagi menjalankan klinik ini. Cel, tolonglah beritahu suamimu, tolong pikirkan penduduk kampung ini yang butuh sarana kesehatan juga," ucap Lola sekaligus meminta pengertian dari Celine untuk membujuk Mikho.


"Siapa dia? Selingkuhanmu?" tanya Lola yang tahu pasti kalau Celine dan Mikho telah menikah karena turut hadir dalam pesta pernikahan mereka.


Kini Lola justru melihat dengan kepala sendiri kalau Celine akrab dengan laki-laki lain. Gadis itu tak habis pikir bagaimana Celine bisa berhubungan dengan laki-laki lain setelah menikah dengan Mikho.


"Kamu menggendongnya sendiri ke sini?" tanya Devan pada Celine.


"Iya tapi kan pakai mobil," jawab Celine.


"Ya! Tapi kamu tetap gendong dia kan? Kenapa sih nggak telepon aku. Untung aku ke rumahmu–"


Rumah? Celine punya rumah di sini? Apa dia ingin menetap di kampung ini? Lalu bagaimana dengan dr. Mikho? Jika istrinya tinggal di kampung ini kenapa dr. Mikho nggak ikut tinggal di sini? Entah apa yang terjadi dengan mereka. Tapi ini sangat aneh. Apa mungkin Celine benar-benar berselingkuh? Batin Lola.

__ADS_1


Perawat itu merasa heran, dulu Celine datang bersama laki-laki lain, lalu jatuh cinta pada Mikho. Sekarang setelah menikah dengan Mikho justru ditemukan bersama laki-laki lain.


Apa mereka tinggal bersama? Apa yang terjadi sebenarnya? Batin Lola bertanya-tanya.


Lola meminta alamat Celine dengan alasan ingin main-main ke rumah gadis itu. Celine yang merasa tak enak hati di depan Devan akhirnya memberitahukan alamatnya. Mereka pun pergi bersama dari klinik itu. Devan membantu menggendong anak itu dan Celine mengikutinya.


Gadis itu ragu-ragu menatap Lola. Ingin meminta perawat itu untuk tak memberitahukan keberadaannya pada Mikho tetapi gadis itu ragu. Lola adalah gadis yang terbuka. Semakin diminta menutupi sesuatu bisa jadi dia justru membukanya.


Akhirnya Celine pergi tanpa berpesan apa pun pada Lola sambil berharap gadis itu tak tertarik untuk menceritakan tentang dirinya di kampung itu pada Mikho. Namun, bukan Lola namanya kalau tak menuntaskan rasa penasarannya. Begitu Celine pulang, wanita itu langsung menelepon Mikho dan bertanya apa yang terjadi dengan mereka.


"Apa? Celine ada di situ?" tanya Mikho kaget melalui sambungan telepon.


"Jadi dr. Mikho nggak tahu kalau istri sendiri membeli rumah di kampung ini–"


"Beli rumah? Kenapa kamu nggak beritahu aku dari kemarin-kemarin? Aku sudah lama mencarinya," tanya Mikho yang menerima sambungan telepon itu sambil berlari menuju parkiran.


"Aku baru bertemu dengannya hari ini. Memangnya sejak kapan Celine pergi?" tanya Lola penasaran.


"Sudah tiga bulan kami berpisah–"


"Apa? Tiga bulan? Jadi menikah sebentar, kalian langsung berpisah? Apa yang kalian pikirkan? Menikah hanya untuk main-main?" tanya Lola heran.


Mikho tak lagi menggubris ucapan Lola. Laki-laki itu hanya ingin segera memacu mobilnya untuk menyusul Celine di desa pesanggrahan itu. Sambil menahan haru laki-laki itu segera memacu laju mobilnya. Mikho tak sabar ingin menemui istrinya. Meminta maaf dan ingin hidup bersama Celine lagi selamanya.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2