Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
BAB 76 ~ Menyusul ~


__ADS_3

Devan datang ke klinik kesehatan dan langsung menanyakan keadaan muridnya. Lola yang melihat seorang laki-laki tampan bersikap begitu akrab pada Celine menjadi terpana. Langsung menanyakan pada gadis itu bahkan menuduhnya berselingkuh.


Celine hanya diam tak bisa menjelaskan situasinya itu di hadapan Devan. Lola semakin terkejut saat mengetahui Celine telah membeli sebuah rumah di desa pesanggrahan itu. Perawat itu tak habis pikir, dr. Mikho yang hampir setiap hari diminta datang ke desa itu sama sekali tak menanggapi permintaannya. Sekarang justru mendapati istri dokter itu telah menetap di desa itu.


Lola meminta alamat Celine dengan alasan ingin berkunjung ke rumah gadis itu. Meski ragu-ragu akhirnya Celine memberitahukan alamatnya.


Begitu Celine pulang, perawat itu langsung menelepon Mikho dan bertanya apa yang terjadi dengan mereka. Namun, Mikho justru kaget mengetahui istrinya menyembunyikan diri di desa yang menjadi kenangan mereka berdua. Mengetahui keberadaan Celine, laki-laki itu segera memacu mobilnya untuk menyusul Celine di desa pesanggrahan itu. Mikho tak sabar ingin menemui istrinya. Meminta maaf dan ingin hidup bersama Celine lagi selamanya.


Sementara itu Celine dan Devan mengantar anak yang terluka itu pulang ke rumahnya. Guru muda itu menceritakan apa yang terjadi pada anak itu pada orang tuanya dan mengizinkannya untuk tidak ikut belajar tambahan dulu. Setelah tiba di rumah Celine, Devan pun mengizinkan anak-anak lain untuk pulang.


Mereka terlihat sedih karena kejadian tadi. Celine membagikan makanan dan minuman yang telah dibeli dan disiapkan untuk anak-anak itu sebagai penghibur hati mereka. Mereka pun pulang dengan hati senang sementara Devan tak henti-hentinya menatap kagum pada gadis cantik itu.


"Aku heran, ada laki-laki yang mau melepaskan istri seperti kamu. Baik hati, penyayang dan cantik. Seperti apa suamimu yang tega menyakiti dan meninggalkan istri seperti bidadari ini? Apa dia berselingkuh?" tanya Devan.


Celine tersenyum kecut. Tak mungkin menceritakan konflik rumah tangganya pada orang lain. Meski sepertinya Devan orang yang dapat dipercaya, tetapi bicara tentang masalah rumah tangga apalagi menyangkut masalah kehormatannya, Celine tentu tak bisa leluasa bercerita.


"Dia orang yang setia, sangat setia pada cinta. Aku justru merasa tidak pantas mendapatkan cinta yang seperti itu," jawab Celine dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maafkan aku, rasa ingin tahuku membuat aku mengorek luka hatimu. Aku hanya tak percaya, wanita sebaik kamu bisa mengalami kehidupan rumah tangga yang tak bahagia. Kalau aku pasti sangat bersyukur karena bisa mendapatkan wanita sepertimu," ucap Devan sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


"Tak usah minta maaf, aku nggak apa-apa. Sekarang aku harus mencoba untuk membiasakannya. Aku tak boleh larut dalam kesedihan. Ini tak baik bagiku dan orang tuaku–"


"Oh ya? Bagaimana kabar pak Dirut dan ibu? Aku terakhir kali bertemu dengan mereka saat SMP. Saat itu kamu nggak ikut family gathering karena sekolah kamu sedang ada karya wisata juga?" tanya Devan mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Kamu ingat semuanya?" tanya Celine.


"Hehe, gimana nggak ingat. Aku bela-belain ikut family gathering biar ketemu kamu eh tahu nya kamu nggak ikut. Rasanya mau balik pulang karena kecewa tapi mana berani. Apa kata orang tuaku nanti? Setelah bersedia ikut lalu batal karena nggak lihat kamu. Aku bisa ditertawakan semua yang hadir. Tapi untung juga waktu ada Yori. Aku jadi dekat sama Yori–"


"Erica?"


"Ya, Yori Erica, dia anak yang cerdas. Juara Umun kan? Aku salut sama dia. Dia cerita tentang semua prestasinya. Selalu jadi juara umum dari SD hingga SMP. Aku kagum padanya saat itu, kami berjanji akan saling menghubungi tapi saat di SMA, ternyata kita nggak mau lagi ikut acara seperti itu. Merasa diri sudah dewasa, tak mau lagi ikut acara orang tua. Tak lama kemudian Papaku resign dari perusahaan. Kami tak bisa lagi ikut acara kumpul-kumpul seperti itu. Mengingat itu rasanya aku menyesal, kenapa saat di SMA tak mau ikut lagi acara itu. Setidaknya kita masih bisa bertemu. Aku menunda ikut acara family gathering, menunggu kesempatan berikutnya untuk bertemu denganmu, juga teman-teman lainnya. Tapi ternyata itu adalah kesempatanku yang terakhir. Kesempatanku untuk bertemu denganmu lagi sudah tak ada. Karena setelah itu Papa resign. Itu penyesalanku saat Papaku harus resign dari perusahaan milik Papamu," jelas Devan.


"Aku dengar Pak Dirut harus tinggal di luar negeri. Perusahaan diserahkan pada PLT nya kalau nggak salah, pada Daddy nya Yori. Dalam setiap keputusan yang diambilnya Papaku nggak pernah setuju. Karena itu menurut Papa, beliau tak disukai hingga dijebak seolah-olah melakukan kecurangan padahal bukan Papa pelakunya–"


"Berarti Papamu di fitnah?" tanya Celine ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca dan mulut yang ditutup dengan tangannya. Devan mengangguk.


"Padahal Papaku orang yang sangat setia pada Pak Dirut. Karena sejak masih muda sudah akrab dengan Pak Dirut. Papamu orang yang sangat baik, Papamu merintis usaha itu bersama Papaku. Tapi karena fitnah PLT itu, Papaku jadi tersingkir dan terpaksa mengundurkan diri," jelas Devan.


Itu terjadi saat Papa menemaniku di luar negeri. Papa terpaksa menyerahkan jabatan direktur utama pada Papanya Kak Yodi. Pasti saat itulah Papa Kak Yodi menyingkirkan Papanya Devan. Oh ya ampun ternyata aku adalah pembawa kesulitan dalam hidup keluarga Devan, batin Celine.

__ADS_1


Mendengar nasib ayah Devan yang terkena fitnah saat ayahnya menemaninya tinggal diluar negeri, gadis itu menangis terisak. Devan kaget melihat reaksi Celine yang begitu berlebihan. Tak menyangka ceritanya itu bisa membuat Celine menangis. Laki-laki itu langsung memeluk Celine yang duduk di sampingnya.


"Maafkan aku," ucap Celine pelan lalu memejamkan matanya.


"Kenapa kamu yang minta maaf?" tanya Devan heran.


"Ini salahku, ini semua salahku," ucap Celine semakin terisak-isak.


Devan bingung dengan sikap Celine. Namun, laki-laki itu tak ingin mendesak gadis itu bercerita. Laki-laki itu hanya ingin menenangkan hati Celine yang seperti terguncang. Memeluk gadis itu erat di teras samping rumah tempat biasa mereka mengajari anak-anak.


Tepat saat itu Mikho datang dan melihat mereka yang berpelukan di teras samping rumah. Langkah Mikho yang tadinya cepat langsung terhenti. Laki-laki itu langsung tertunduk sedih.


Begitu mendapat kabar keberadaan Celine dari Lola, Mikho langsung melajukan mobilnya untuk segera bertemu dengan istrinya tetapi apa mau di kata, saat ditemui istri yang dicintainya justru telah membuka hati pada laki-laki lain. Mikho melangkah kembali ke mobilnya. Bayangan Celine yang dengan jelas berpelukan dengan laki-laki lain membuatnya sangat frustasi. Laki-laki itu menangis menyesali.


Cepat sekali kamu melupakan aku Celine. Cepat sekali kamu menggantikan posisiku dengan laki-laki lain. Begitu cepatnya cintamu menghilang. Begitu cepatnya kamu melupakan semuanya? Tak adakah sedikit sisa cintamu untukku? Hingga secepat itu kamu dekat dengan laki-laki lain. Aku belum menceraikanmu Celine, aku tak ingin menceraikanmu. Aku tak ingin berpisah darimu. Aku tak ingin kamu dimiliki laki-laki lain. Aku mencintaimu Celine. Seperti apa pun dirimu aku tetap mencintaimu, batin Mikho menangis.


Mikho menangis tertunduk di atas setir mobil. Kondisi tubuhnya yang lemah karena tak lagi memperhatikan kesehatannya membuat, Mikho jatuh pingsan di atas setir mobilnya. Air matanya mengalir di sela-sela kelopak matanya yang tertutup rapat. 


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2