
Celine pulang ke rumahnya agar bisa beristirahat. Menjelang subuh Mikho terbangun. Setelah menjalani perawatan, laki-laki itu mendapati dirinya sedang dirawat di ruang rawat inap klinik kesehatannya sendiri.
Mikho mengingat semua yang terjadi sebelum jatuh pingsan. Begitu mendapat panggilan telepon dari Lola yang mengabarkan keberadaan istrinya, Mikho langsung berangkat ke alamat yang diberikan Lola. Tanpa makan siang, setelah melewatkan sarapan paginya. Laki-laki itu bahkan tak menyentuh makan malam sebelumnya.
Tak ada hal yang paling disukainya selain termenung sambil menatap jepit rambut rusak dengan mutiara yang telah bertaburan di dalam kotak bening itu. Setelah Erica menyerahkan padanya, Mikho seperti punya sesuatu yang bisa untuk dipandangnya. Jika selama ini hanya menatap kosong apa pun dihadapannya sekarang Mikho memiliki sesuatu untuk dilihatnya.
Namun, tak lama setelah itu air matanya akan menetes. Mikho menyesal, atas sikapnya yang kejam pada gadis yang telah belasan tahun dicintainya. Menyesali sikapnya yang tak menerima Celine apa adanya.
Jika mencintainya harusnya aku menerima bagaimanapun keadaannya. Kenapa sikapku begitu egois, menuntut kesempurnaan darinya? Kenapa aku begitu sombong? Apa kelebihanku hingga Celine tak boleh cacat sedikit pun? Celine maafkan aku. Maafkan aku yang bodoh dan sombong ini, batin Mikho.
Setiap hari menyesali sikap kejamnya terhadap Celine. Selalu terbayang bagaimana bahagia gadis itu saat melihatnya datang menjelang pernikahan mereka. Sementara Mikho telah bersiap dengan surat yang baru didapatnya. Masih jelas bagaimana ekspresi wajah Celine yang berubah dari ceria menjadi begitu sedih saat membaca surat itu. Air matanya pun langsung mengalir.
~ Jangan menangis! Aku tak butuh air matamu! Aku hanya butuh penjelasan. Apa maksud tulisan itu? Sejauh mana hubungan kalian. Apa saja yang telah kamu lakukan dengannya! ~
Mikho teringat kata-kata yang diucapkannya pada Celine. Di saat gadis itu sendiri terguncang membaca isi surat itu. Di saat air matanya tak bisa ditahannya lagi hingga mengalir, Mikho justru membentaknya. Gadis itu bahkan terlonjak mendengar suara Mikho yang begitu keras.
Kejam sekali, tega sekali aku melakukan itu padanya. Tubuhnya bahkan terlonjak, begitu kerasnya suara bentakan itu, hingga ia terkejut. Apa laki-laki yang membentak seperti itu pantas menjadi suamimu? Apa kamu sanggup memiliki suami yang begitu kasar padamu? jerit hati Mikho menangis.
~ Apa kamu sudah melakukannya bersama laki-laki itu? Jangan menangis, hanya jawab ya atau tidak saja! Apa susahnya? ~
~ Kamu tak butuh lagi jawabanmu! Kamu sengaja menutupi ini dariku. Aku tak bisa hidup dengan wanita yang selalu berahasia denganku ~
Tidak! Tidak! Itu tidak benar! Kenyataannya aku yang tak bisa hidup tanpamu. Celine di mana kamu? Aku tak bisa hidup tanpamu, jerit hati Mikho.
__ADS_1
~ Aku akan tetap akan menikahimu, tapi kita akan berpisah setelah tiga bulan ~
Kenapa aku tega mengatakan itu? Celine menangis mendengar kata-kata itu. Dia terisak-isak mendengar keputusan bodoh itu. Aku mengucapkan sesuatu yang aku sendiri tak ingin melakukannya. Aku benar-benar bodoh, aku sangat bodoh. Aku mengucap keputusan yang aku sendiri tak sanggup menjalaninya. Bodohnya aku! Bodohnya aku! Maafkan aku Celine. Maafkan aku karena kebodohanku. Maafkan aku, jerit hati Mikho.
Sehari-hari menangisi kesalahannya hingga penyesalannya yang datang terlambat. Hari di mana dia memutuskan untuk menerima Celine justru adalah batas kesanggupan Celine menahan kesedihannya. Istrinya itu tak mampu lagi menanggung kesedihannya diabaikan oleh suaminya.
"Mikho hari ini Nayla–"
"Jangan sebut nama itu lagi! Jangan pernah menyebut nama itu lagi! Aku tak akan mau dijodohkan dengan siapa pun! Aku sudah beristri!" bentak Mikho pada ibunya.
"Mikho! Jangan seperti itu! Jangan kurang ajar pada Mamamu!" ucap Gunawan balas membentak.
Bu Anisa bahkan gemetar mendengar suara putranya. Mikho tak pernah berkata kasar apalagi membentaknya. Hal itu membuat Bu Anisa terguncang. Mikho berdiri dari kursi meja makan itu lalu meletakkan serbet di atas meja makan. Dengan air matanya, seperti memohon pada ibunya agar tidak lagi menjodohkannya dengan wanita lain.
"Aku sudah beristri Ma. Aku mencintai istriku. Dia pergi karena kesalahanku. Aku ingin dia kembali padaku. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya di desak oleh sesuatu yang tak diinginkan. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya menderita karena berbuat kesalahan. Aku telah mendesak Celine untuk menceritakan hal yang mungkin dia sendiri ingin lupakannya. Kini aku merasakan apa yang Celine rasakan. Menyesal karena berbuat kesalahan. Rasanya sangat menderita, sangat menderita! Jadi tolong Ma, jangan tambah penderitaanku. Aku hanya ingin bersama Celine. Mama membenci Celine artinya Mama ingin aku menderita," ucap Mikho lalu melangkah gontai kembali ke kamarnya
Mikho sama sekali tak ingin menjawab panggilan telepon dari Lola. Perawatnya itu hanya ingin agar dirinya kembali aktif di klinik. Hingga akhirnya Mikho terpaku menatap notifikasi pesan yang masuk dari perawat di klinik itu. Mikho seperti tak yakin dengan apa yang dibacanya.
'Celine ada di sini' cukup itu saja, laki-laki itu langsung menghubungi Lola. Dokter itu bahkan mengancam Lola jika berbohong. Tentu saja sepenuh hati mempercayai ucapan perawat itu karena berita itulah yang sangat diinginkannya.
Melewati makan siang yang sejak tadi ditundanya. Mikho masih memiliki kekuatan untuk bisa mengemudikan mobilnya hingga ke luar kota. Harapannya yang begitu besar dapat bertemu istrinya, membuat laki-laki itu memiliki kekuatan cadangan untuk melakukan perjalanan ke luar kota itu.
Namun, apa yang dilihatnya, sangat membuat batinnya terguncang. Istri yang dicintainya telah bersama laki-laki lain. Melihat Celine yang telah membuka hatinya pada laki-laki lain, membuat Mikho terpaksa diam di tempatnya. Tak bisa menyalahkan gadis itu.
__ADS_1
Batas waktu pernikahan, dia sendiri yang menentukannya dan Celine hanya menjalani seperti yang diucapkannya.
~ Aku akan tetap menikahimu, tapi … kita akan berpisah setelah tiga bulan ~
Tiga bulan itu telah lama berlalu dan Celine berhak mendapatkan kebahagiaannya. Mikho tak bisa berbuat apa-apa. Hanya penyesalan yang mendalam yang pantas dirasakannya.
Mikho sama sekali tak berhak melarang Celine menemukan kebahagiaannya karena Mikho telah menetapkan batas waktu pernikahan mereka. Laki-laki itu terhuyung ke belakang. Tak sanggup menatap lebih lama Celine dalam pelukan laki-laki lain. Melangkah gontai kembali ke mobilnya hingga akhirnya merasakan dunia yang semakin gelap.
Kini laki-laki itu melangkah pasrah meninggalkan klinik kesehatan itu. Melangkah dengan tatapan mata yang kosong. Setiap detik pikirannya hanya membayangkan Celine yang melangkah semakin jauh darinya.
"dr. Mikho? Mau ke mana? Apa sudah baikan? Mari aku periksa dulu," ucap Lola langsung menghalangi Mikho pergi.
"Aku baik-baik saja Lola," jawab Mikho.
"Biar aku periksa dulu," ucap Lola tetap memaksa untuk memeriksa.
"Aku tahu kondisi tubuhku sendiri Lola!" ucap Mikho dengan sedikit membentak.
"Ya! Tentu saja dokter tahu kondisi kesehatan dokter karena dokter lah ahlinya, tapi saat ini bukan hanya kondisi tubuh dokter yang sedang sakit tapi batin dokter juga," ucap Lola dengan raut wajah khawatir.
"Bagaimana kamu tahu batinku sakit?" tanya Mikho.
"Kalian baru saja menikah tapi aku sudah merasakan keanehan saat menghadiri pernikahan kalian. Tak ada raut wajah bahagia dari pasangan yang ingin hidup bersama. Celine mau pun dr. Mikho, kalian berdua seperti terpaksa menjalankan pernikahan. Aku tak tahu apa masalahnya tapi aku tahu ini pasti membuat kalian menderita. Sekarang aku mendapati kenyataan Celine tinggal di desa ini, sementara dokter sama sekali tak tahu dia ada di sini. Aku tak akan ikut campur dokter. Jika dokter ingin pergi, aku tak bisa melarang tapi tolong jangan membuat aku khawatir dengan berkendara dalam kondisi lelah tubuh dan batin seperti ini," jelas Lola panjang lebar.
__ADS_1
Mendengar itu Mikho akhirnya pasrah, menunggu kondisi tubuhnya membaik hingga akhirnya cukup kuat untuk meninggalkan desa itu. Mikho merasa dirinya dan Celine tak akan bisa bersatu lagi karena sekarang ada penghalang baru. Cinta mereka kembali terhalang dan kali ini Mikho pasrah, mencoba untuk melupakan Celine.
...~ Bersambung ~...