
Mendengar cerita kedua teman sekelas Celine itu, Tiara tak percaya, dengan sekuat tenaga menggelengkan kepalanya. Air matanya langsung mengalir. Saat ini Tiara sangat membenci Celine tapi tak berharap gadis itu meninggalkan dunia dengan cara seperti itu.
"Bohong! Bohong! Bohong! Kalian bohong!" teriak Tiara tak percaya.
"Celine mengiris pergelangan tangannya tadi malam. Itu yang diceritakan orang tuanya," ucap gadis itu menangis tersedu-sedu.
Tiara berteriak tak percaya meski tak mungkin kedua gadis itu membuat cerita bohong seperti itu. Terlihat keduanya juga menangis terisak-isak. Mereka teringat kekejaman mereka pada Celine. Saat gadis itu muncul di pintu kelas, tawa mereka langsung berhenti dan mereka langsung bubar, keluar dari kelas meninggalkan Celine seorang diri.
Saat itu mereka tertawa mengintip di jendela melihat gadis itu tertunduk seorang diri di bangkunya. Bisa dipastikan Celine langsung menangis saat itu. Namun, saat ini, saat mengenang perbuatan mereka saat itu, mereka menyesal. Merasa apa yang mereka lakukan terlalu kejam.
Tak hanya sekali atau dua kali, Celine ditinggalkan saat dia baru datang. Bukan hanya kedua gadis itu yang merasakan penyesalan, Tiara pun sama. Saat gadis itu datang ke kantin, Tiara langsung berdiri membayar makanannya dan berlalu dari kantin itu. Celine menatap punggung Tiara yang berlalu kemudian beralih menatap makanan yang ditinggalkannya.
Tiara berlari menuju kelas Mikho, sepanjang perjalanan itu terlintas kembali saat terakhir Tiara bertatap muka dengan Celine. Di dalam tenda itu, Tiara menumpahkan kekesalannya pada Celine. Semua uneg-uneg yang selama ini hanya terpendam demi menjaga pertemanan mereka tumpah seketika.
Tiara mengungkapkan kekesalannya pada Celine. Gadis itu menyebabkan Mikho kesal dan menegurnya, memarahinya. Tiara sakit hati karena ditegur oleh laki-laki yang dicintainya.
Masih jelas diingatannya ekspresi Celine yang menangis terisak-isak sambil terus menatapnya. Tanpa bicara, tanpa menyangkal hanya terus mendengar ucapan, makian dan hinaan darinya. Tiara baru menyadari betapa kejamnya dia mengungkapkan kata-kata yang dibenci Celine hanya karena ingin merendahkannya.
Seisi kelas IPA yang sedang tertawa itu sontak hening, saat Tiara datang dengan wajah bersimbah air mata.
"Kamu kenapa Ra?" tanya Mikho langsung menghampiri.
"Celine, Mik. Celine … dia bunuh diri."
__ADS_1
Seluruh siswa yang duduk di meja dan bangku itu langsung kaget mendengar ucapan Tiara hingga tanpa sadar menghampiri gadis itu. Melihat ekspresi Tiara yang begitu sedih tentu mereka bertanya-tanya tapi tak ada yang menyangka kalau mereka akan mendengar berita seperti itu.
"Nggak … nggak … nggak! Loe pasti bohong! Gua tahu loe nggak suka Celine. Gua tahu loe benci ama Celine tapi … jangan seperti itu. Gua nggak percaya ucapan loe. Nggak! Nggak," ucap Mikho menggelengkan kepalanya.
Laki-laki itu menolak percaya tapi air matanya menetes. Seluruh isi kelas pun tertunduk, entah mengapa mereka percaya dengan berita itu. Sekarang saat kejadian seperti ini, semuanya baru menyadari kalau perbuatan mereka pada Celine sangat keterlaluan hingga mereka percaya Celine merasa tak kuat lagi dan memilih mengakhiri hidupnya.
"Teman sekelasnya cerita Mik! Orang tuanya memberi kabar pada wali kelas. Celine mengiris pergelangan tangannya," jelas Tiara.
Semua menutup mulutnya yang ternganga. Mendengar berita yang didapat Tiara begitu detail.
"Nggak, kalau benar-benar dia bunuh diri. Kita sudah pasti disuruh ke rumahnya. Loe BOHONG!" bentak Mikho dan langsung keluar menuju kelas Celine.
Saat tiba di pintu kelas, semua siswa di kelas itu terlihat menunduk. Ada yang sedang menghapus air matanya, ada yang menelungkupkan wajahnya. Ada yang memegang kepalanya. Tak ada yang bersikap biasa. Mikho bertanya tapi tak ada yang mau menjawab.
"Dia bunuh diri Mik," ucap seorang gadis memberanikan diri bicara.
"Dia nggak masuk sejak jam pertama Mik. Wali kelas menerima telepon dari orang tuanya. Bu Wati nggak menjelaskan pada kami tapi kami dengar obrolan Bu Wati. Bu Wati kaget dan sangat jelas mengulang ucapan orang tua Celine. Bu Wati bahkan langsung menangis dan keluar kelas," jelas Ketua kelas itu.
Mikho langsung terhuyung bahkan tersadar di papan tulis.
"Kenapa bunuh diri? Aku susah payah selamatin kamu, kenapa kamu bunuh diri?" ucap Mikho bertanya-tanya.
Sebuah pertanyaan yang mereka telah tahu jawabannya tapi tak berani kemukakan karena merasa mereka ikut andil menjadi alasan bagi Celine memutuskan untuk menyerah. Tak ada yang mau mengakui pernah berbuat jahat pada Celine. Laki-laki itu membalik badan melihat Tiara yang telah berdiri di depan pintu kelas.
__ADS_1
"Aku ingin ke rumahnya," ucap Mikho berharap Tiara akan memberi tahu alamat rumah gadis yang dicintainya itu.
Tiara mengangguk, berdua mereka meminta izin pulang lebih cepat. Saat melihat Bu Wati dihibur di ruang guru, duduk sambil menghapus air matanya. Mata Mikho kembali berkaca-kaca, Tiara langsung mengajak Mikho untuk pergi.
Sebenarnya Mikho tak sanggup, laki-laki itu tak ingin melakukan pembuktian apa-apa dan percaya kalau Celine masih hidup. Tapi dia benar-benar ingin bertemu dengan gadis itu. Ingin memberinya kekuatan agar tetap bisa bertahan.
Mereka pun berangkat ke rumah Celine. Mikho dan Tiara terkejut karena melihat anak sispala yang pernah dipukul Mikho duduk termenung di atas teras rumah.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Mikho.
"Sama sepertimu. Ingin membuktikan kalau dia baik-baik saja," jawab anak sispala itu.
"Lalu kenapa masih di sini? Kenapa–"
"Tidak ada siapa pun."
"Apa?" tanya Tiara tak percaya.
Gadis itu segera menekan bel, tapi tak ada jawaban. Tiara bahkan menggedor-gedor pintu, tetap saja tak ada jawaban. Mikho terduduk letih, laki-laki itu frustasi hingga menjambak rambutnya. Mikho rela melakukan apa saja untuk membahagiakan Celine. Namun, sekarang Mikho merasa gagal. Senyuman Celine kemarin ternyata bukan senyum bahagia.
Mikho baru menyadari, karena terlalu bahagia Celine bersedia makan siang bersamanya di kantin, laki-laki itu tak memperhatikan gurat wajah Celine. Sekaranglah Mikho sadari, bibir Celine tersenyum tapi matanya menunjukkan kesedihan. Mikho menyesal, harusnya mengerti rona wajah Celine. Gadis itu berusaha menyembunyikan kesedihan dibalik senyumannya.
"Aku tak bisa menghubungi Mama, apa yang terjadi? Ke mana mereka pergi?" tanya Tiara lalu menangis sambil duduk di teras itu sambil menelungkup memeluk lututnya.
__ADS_1
Tiara yang telah begitu dekat dengan keluarga itu bahkan memanggil orang tua Celine seperti memanggil orang tuanya sendiri. Tiara menangis sesenggukan, menangis penuh penyesalan. Tiara merasa menjadi salah satu penyebab gadis itu ingin mengakhiri hidupnya. Mereka duduk termenung di atas teras, ingin mendapat kepastian tapi tak sanggup mendengar kepastian yang menyedihkan.
...~ Bersambung ~...