Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
BAB 27 ~ Pergi ~


__ADS_3

"Evita Celine!" 


"Ya," jawab Celine saat namanya disebut oleh Petugas Imigrasi.


Gadis itu sedikit terkejut karena sejak tadi memang sering melamun. Celine dan orang tuanya antri di meja imigrasi. Petugas Imigrasi menatap wajah Celine dan memverifikasi ID fotonya. Setelah proses pengecekan itu selesai, petugas pun  memberikan stempel imigrasi keluar Indonesia di paspor Celine.


Dirumah, saat menyiapkan dokumen-dokumen penerbangan seperti paspor, tiket pesawat, visa, identitas diri, gadis itu terlihat begitu bersemangat. Bu Dessery merasa anak gadisnya telah yakin akan keputusannya. Namun, saat antri di jalur cek paspor imigrasi untuk pemegang paspor Indonesia, gadis itu terlihat banyak melamun.


Mungkin karena menunggu, pikiran Celine jadi melayang, batin Dessery yang ikut bersama suaminya mengantar Celine ke New York.


Saat menunggu di boarding room, Bu Dessery menyapa putrinya yang terlihat kembali melamun menatap kosong. Setelah sepanjang pemeriksaan imigrasi gadis itu tak bicara sepatah kata pun. Bu Dessery menatap ragu akan kesiapan gadis itu meninggalkan tanah airnya.


"Sayang, apa kamu benar-benar yakin dengan keputusan ini?" Dessery.


Sebuah pertanyaan yang entah berapa kali ditanyakan ibu itu. Setiap kali itu pula, Celine menjawab dengan mengangguk. Bu Dessery mencoba memancing dengan menyebut nama Mikho. Gadis itu kembali termenung.


Teringat saat kemarin sore, gadis itu terbangun dari tidur siangnya. Celine langsung menoleh pada Mikho yang juga ikut tertidur di kursi samping ranjang rumah sakitnya. Laki-laki itu terlihat begitu lelah. Celine tahu semua itu karena seharian laki-laki itu mengurusi segala keperluannya hingga Celine merasa takut apa yang dilakukan laki-laki itu akan membuatnya semakin jatuh cinta. 


Saat itu juga Celine memutuskan untuk menghindar dari Mikho. Tiba-tiba ponsel yang ditaruh di atas nakas rumah sakit itu bergetar. Segera Celine meraih ponsel itu karena takut akan mengusik tidur Mikho.


Nomor siapa ini? tanya Celine dalam hati karena tak terdaftar di dalam kontak ponselnya.


Celine membuka pesan yang ternyata berupa foto-foto. Dengan latar belakang di samping gedung sekolahnya. Terlihat Mikho yang sedang memeluk Tiara. Sementara Tiara pun melingkarkan tangannya di pinggang Mikho.


Gadis menoleh ke arah Mikho yang masih tertidur. Perlahan air mata mengalir di pipi gadis itu. Meskipun Celine merasa hubungannya dengan Mikho tak akan bisa berlanjut tetapi saat melihat tangkapan di layar ponsel itu hatinya tetap terasa diiris. Celine cemburu, hati Celine terasa perih, tetapi tetap mencoba berlapang hati.

__ADS_1


Kenapa harus sedih? Kenapa sakit hati? Bukankah ini sesuatu yang bagus, Tiara sangat mencintai Mikho. Tiara akan berusaha bahagiakan Mikho. Jika aku pergi, Tiara pasti akan menghiburnya. Kamu akan bahagia bersamanya, Mikho. Tak seperti denganku, suatu saat kamu akan membenciku, dan kita tetap akan berpisah, batin Celine sambil mengusap lembut pipi laki-laki yang dicintainya.


Mikho yang tertidur di kursi bertumpu pada lengannya di ranjang rumah sakit Celine, tak menyadari akhirnya kalau akhirnya Celine memutuskan untuk pergi ke luar negeri demi menghindar darinya.


Awalnya Celine ingin bersikap tak acuh, dingin terhadap laki-laki itu. Meminta laki-laki itu pulang ke rumah untuk beristirahat. Namun, saat melihat laki-laki itu melangkah keluar ruangan dengan raut sedih. Celine merasa tak tega. Gadis itu memutuskan memeluknya untuk terakhir kali, bahkan berinisiatif menciumnya. Semua itu sebagai rasa terima kasih dan tanda maaf darinya sekaligus ciuman perpisahan bagi mereka.


"Celine! Celine! Kita sudah dipanggil Nak! Apa kamu yakin ingin pergi?" tanya Dessery menghapus lamunan putrinya. Celine mengangguk, Bu Dessery langsung menoleh pada suaminya.


"Nggak apa-apa Ma, kita ikuti kemauan Celine. Mau menetap di sana boleh, mau kembali juga bagus. Apa yang menjadi keinginan Celine akan kita ikuti. Ayo sayang, kita berangkat!" ucap Yudhi telah berdiri dari tempat duduk.


Celine pun ikut berdiri, meski tak mengucapkan kata-kata. Celine, hanya melangkah menuju gate yang telah ditentukan. Kedua orang tua Celine pasrah mengikuti.


Sementara itu Tiara menangis berlari menuju kelas Mikho. Tak peduli, saat itu sedang mengikuti pelajaran. Saat menerima pesan dari Bu Dessery, gadis itu segera mencuri lihat pesan yang masuk. Awalnya merasa bahagia karena ibu itu memberi tahu kalau Celine telah keluar dari rumah sakit.


Namun, langsung menjerit menangis, saat ibu itu memberi tahu kalau mereka saat ini sedang menunggu untuk keberangkatan ke luar negeri. Tiara langsung berlari sambil menangis menuju kelas Mikho. Laki-laki itu tak akan mengajaknya menjenguk Celine sore ini, jika tahu Celine akan meninggalkan tanah air siang ini.


"Tiara?" tanya Mikho heran.


Bukan hanya karena melihat kemunculan Tiara yang tiba-tiba datang ke kelasnya tapi uga karena melihat Tiara yang menangis terisak. Mikho segera meminta izin pada guru yang sedang mengajar. Laki-laki itu segera mengajak Tiara menjauh dari kelasnya.


"Ada apa Ra? Kenapa menangis?" tanya Mikho sambil mengguncang bahu Tiara.


"Celine, Mik. Celine," ucap Tiara yang seperti tak bisa berkata-kata.


"Kenapa Celine? Celine kenapa Ra?" tanya Mikho begitu panik.

__ADS_1


Kembali terbayang perbuatan Celine yang ingin mengakhiri hidupnya. Kembali teringat sikap Celine yang begitu manis padanya, memeluknya dari belakang bahkan berinisiatif menciumnya. Mikho menggelengkan kepalanya, berpikir semua yang dilakukan Celine sama seperti yang lalu. Merasa tak kuat lagi menerima kenyataan jika Celine ingin membunuh dirinya lagi. Mikho benar-benar akan menyesal karena tak menjaganya.


"Kenapa Ra!" tanya Mikho dengan membentak karena rasa panik dan sedih yang begitu mendalam.


"Celine … dia pergi," ucap Tiara yang berusaha menenangkan hatinya sendiri.


"Apa maksudmu pergi? Kemana dia? Celine pergi kemana?" tanya Mikho begitu panik.


"Keluar negeri Mik. Celine ingin menjauh dari kita," ucap Tiara menangis.


"Nggak! Nggak mungkin! Kemarin sikapnya begitu manis padaku. Mana mungkin dia meninggalkan aku," ucap Mikho tak percaya dengan ucapan Tiara.


Laki-laki itu langsung berlari mengejar Celine ke bandara. Namun tak menemukan gadis itu meski Mikho berlari ke sana kemari mencarinya. Celine telah pergi meninggalkan segala kenangan indah dan kenangan yang buruk.


Mikho menatap pesawat yang baru saja lepas landas. Membayangkan Celine yang berada dalam pesawat itu. Begitu sedih hingga terduduk berlutut sambil menangis. Tiara datang berlari dan langsung memeluknya.


Teganya kamu melakukan ini padaku Celine, setelah memberikan kebahagiaan padaku. Setelah merasa aku diterima. Kamu pergi meninggalkan aku begitu saja. Kamu kejam Celine, aku benci padamu. Aku tak akan memaafkanmu meski kamu berlutut di hadapanku, batin Mikho dengan air mata yang mengalir.


Mikho membalas pelukan Tiara dan memejamkan matanya. Laki-laki itu menarik nafas untuk melegakan dadanya. Namun tetap saja terasa sesak. Mikho dan Tiara menangis bersama atas rasa kehilangan mereka terhadap seseorang yang sangat mereka sayangi.


Sejak kepergian Celine, Mikho dan Tiara saling mendukung. Meski mereka sendiri merasakan kesedihan tetapi saat salah satu dari mereka bersedih maka yang lain yang akan menguatkan. Saling mendukung saat melawati hari-hari yang menyedihkan.


"Tok ... tok ...tok," ucap Tiara saat muncul di ruang praktek itu. "Sudah siap pulang dr. Mikho?" tanya Tiara.


"Sebentar lagi ya dr. Tiara," ucap Mikho sambil melepas jubah berwarna putih itu lalu menyusun peralatan kedokterannya.

__ADS_1


Merapikan meja kerjanya sebelum meninggalkan ruangan adalah kebiasaannya. Setelah itu Mikho akan merangkul pinggang gadis dihadapannya itu dan mengajaknya pulang. Tiara menyerahkan kunci mobil dan Mikho yang akan menyetir. Mereka akan pulang bersama dari tempat praktek dr. Mikho di desa pesanggrahan itu.


...~   Bersambung  ~...


__ADS_2