
Setelah mengantar Tiara, Mikho bergegas kembali ke restoran lokasi pesta penyambutan kepulangan Celine. Mikho mencari-cari tetapi tak menemukan gadis itu. Yodi yang melihat Mikho berjalan ke sana kemari mencari Celine akhirnya ditemui oleh calon tunangan gadis itu.
"Ada keperluan apa lagi datang ke mari?" tanya Yodi.
Mikho menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Yodi. Dalam hati Mikho sangat membenci laki-laki itu. Membayangkan Celine akan menjadi istri laki-laki itu, membayangkan Celine berada dalam pelukan laki-laki itu membuatnya sangat kesal.
Namun, semua itu harus ditahannya, demi menghindari keributan. Perlahan laki-laki itu mendekat dan menanyakan keadaan Celine. Yodi mengerti Mikho sangat khawatir tetapi menemui Celine saat suasana hatinya sedang bersedih, menurut Yodi, Mikho tak akan membantu apa-apa.
"Aku ingin menjelaskan semuanya. Tolong biarkan aku bertemu dengannya. Aku akan meminta maaf padanya," jelas Mikho.
"Aku yakin terjadi sesuatu di antara kalian di masa lalu. Kamu telah mengenalnya, begitu juga dengan Celine, tapi saat kita bertemu di klinik, kamu seolah-olah tak mengenalnya, begitu juga dengan Celine. Aku tak tahu apa tujuan kalian, ingin membohongiku? Atau ingin menjaga perasaanku? Tapi bagiku kedua alasan itu sama saja. Kedua alasan itu membuatku berpikiran buruk pada kalian–"
"Jangan salahkan Celine–"
"Aku tetap menyalahkannya, yang salah harus tetap dinilai salah tapi ... aku akan memaafkannya karena aku mencintainya. Berbeda denganmu, aku tak menyukaimu, karena kamu membohongiku. Terlebih lagi karena kamu dan pacarmu itu telah membuat kekacauan bahkan menyakiti hatinya. Jadi … silahkan! Menurutku lebih baik kamu tak berada di sini," jelas Yodi dengan tenang.
Mikho tercenung, harapannya untuk bertemu dengan Celine akhirnya pupus. Tak mungkin memaksakan kehendaknya bertahan di tengah-tengah orang yang tak menyukainya. Tak lama kemudian Teon menghampiri Yodi, dengan tatapan sendu dan tertunduk, Mikho melangkah pergi.
Mikho tak peduli jika dia mendapat pengusiran dari orang-orang, tapi tak bisa bertemu dengan Celine adalah hal yang paling disesalinya. Namun, Mikho tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa kembali ke rumahnya dan menatap jepitan rambut Evita sambil tersenyum tetapi menitikkan air mata.
Evita, aku sedih, aku tak bisa menemuinya, aku benci diriku yang menyakitinya. Tak apa jika aku yang disakiti, tapi jangan sampai aku yang menyakitinya, batin Mikho.
Mikho memejamkan mata. Apa yang terjadi pada Celine tadi mengingatkannya pada masa lalu. Kata-kata yang paling dibencinya justru terlontar dari mulut tunangannya dan itu ditujukan pada gadis yang dicintainya. Mikho sangat sedih kejadian tadi membuka luka masa lalunya.
"Kamu suka sama Evita ya?" tanya anak yang baru saja dikenalnya.
"Nggak!" jawab Mikho cepat.
"Kok kamu dijodohin sama dia?" tanya anak kelas enam yang lain.
"Nggak tahu! Tahu-tahu cewek-cewek itu teriak seperti itu. Mana aku tahu!" jawab Mikho kesal.
"Kalau dia maksa jadi pacar kamu artinya dia itu lontee," ujar yang lain.
"Apa?" tanya Mikho tak mengerti.
"Ya, bilang aja dia lontee, biar dia kapok paksa-paksa kamu jadi pacarnya," jelas anak laki-laki yang lain.
__ADS_1
Kata-kata itu akhirnya terlontar dari mulut Mikho. Setelah didesak oleh teman-temannya. Anak laki-laki tampan itu akhirnya mengucapkan kata-kata itu pada Evita. Gadis kecil itu tercenung saat semua anak menertawakannya. Begitu juga dengan Mikho.
Kenapa semua tertawa? Batin Mikho menatap Evita yang sedih karena ditertawakan.
Mikho kecil terkejut mendengar jawaban, saat dia bertanya pada teman-temannya arti dari kata-kata yang diucapkannya pada Evita. Mikho pun protes karena tadi bukan itu yang dijelaskan teman-temannya. Anak yang lain menertawakan ketidaktahuan Mikho.
"Cewek murahan? Apa itu?" tanya Mikho.
"Itu lho yang suka berdiri di pinggir jalan, nunggu Om Om," jawab seorang anak lalu tertawa.
Seingat Mikho, wanita-wanita yang berdiri di pinggir jalan itu adalah wanita-wanita yang tidak baik. Wanita yang bisa mengacaukan keluarga. Seperti sahabatnya dulu, yang harus pindah karena orang tuanya berpisah. Semua karena wanita pinggir jalan itu yang mengganggu ayah sahabatnya hingga akhirnya si ayah mengusir ibu dan sahabatnya.
Nggak! Nggak! Nggak mungkin Evita seperti itu. Dia masih kecil mana mungkin mengganggu keluarga orang, batin Mikho menjerit.
Menyesal karena menyamakan gadis kecil yang baik itu dengan wanita pinggir jalan. Mikho sangat menyesal telah memanggil Evita dengan sebutan itu. Sejujurnya Mikho menilai Evita adalah gadis kecil yang baik.
Saat latihan menggambarnya tak selesai, Evita yang bertugas memberi nilainya. Buku latihan Mikho sengaja diserahkan ketua kelas pada Evita agar gadis kecil itu yang mengoreksinya. Begitu juga sebaliknya, buku latihan Evita diserahkan pada Mikho.
Beberapa bagian gambar Mikho yang tak sempurna dilanjutkan oleh Evita. Hingga laki-laki itu mendapatkan nilai yang sempurna. Dalam hatinya berterima kasih pada gadis yang memang suka menggambar itu.
Mikho menyesal, tetapi setiap kali ingin meminta maaf, teman-temannya langsung meneriaki. Mikho urung meminta maaf dan menunggu hingga saat istirahat. Namun, Evita menghilang entah ke mana. Penyesalan Mikho yang menunda meminta maaf semakin besar karena saat perpisahan tak melihat Evita hadir di acara itu. Mereka terpisah begitu saja.
Tapi … kenapa dia bisa tahu aku pernah mengucapkan kata-kata itu? Batin Mikho bertanya-tanya.
~ Bagaimana denganmu sendiri? Kamu yang pertama kali melontarkan padanya, aku hanya mengikutimu ~
Ucapan Tiara terngiang lagi di telinganya.
Aku? Aku melontarkan kata-kata itu? Nggak? Nggak mungkin! Sekesal apa pun aku pada Celine, aku nggak akan pernah mengucapkan kata-kata itu pada Celine. Aku benci kata-kata itu. Aku menyesal mengucapkan kata-kata itu, mana mungkin aku mengucapkannya pada gadis yang aku suka. Satu-satunya gadis yang aku ucapkan kata-kata itu cuma pada Evita, atau … dia mengenal Evita? Apa Tiara mengenal Evita? Apa kami dulu teman sekelas? Aaah, aku lupa siapa teman-temen sekelasku, bahkan Evita saja aku lupa wajahnya, batin Mikho menyesali.
Hari demi hari berlalu, ganjalan di hati Mikho masih belum lepas. Celine masih belum mau bertemu dengannya. Sementara Tiara, mereka seperti tak saling mengenal.
Mikho sedang beristirahat di rooftop rumah sakit besar itu. Laki-laki itu segera meraih ponselnya ketika merasakan getaran dari balik saku celananya. Mikho heran melihat nama kontak yang tak terdaftar di ponselnya.
"Maaf, apa Tante mengganggu kesibukanmu Mikho?" ucap Dessery.
Mikho bingung karena belum menyadari siapa yang menelponnya. Begitu Bu Dessery menyebutkan siapa dirinya, Mikho tersentak bahkan hingga berdiri dari tempat duduknya. Dengan wajah panik Mikho bertanya keperluan ibu itu menghubunginya.
__ADS_1
"Celine, dia … Mikho tolong Tante. Celine membuat Tante takut–"
"Apa Tante? Celine kenapa? Begini Tante, apa Tante punya waktu? Aku akan menemui Tante sekarang," pinta Mikho merasa harus bertemu secara langsung.
"Baiklah Mikho, datanglah ke rumah, Celine sedang bekerja saat ini. Celine tak bisa melarang Tante menerimamu di rumah," jelas Dessery terdengar tergesa-gesa.
Mendengar itu Mikho langsung berlari menuju parkiran. Laki-laki itu bahkan tak sempat ke ruang istirahat para dokter untuk membuka jubah dokternya. Begitu ingin segera sampai di rumah Celine, laki-laki itu terpaksa melepas jubah dokternya sambil menyetir.
Secepatnya Mikho menuju ke rumah Celine. Mikho begitu ingin tahu apa yang terjadi. Begitu khawatir hingga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setelah mendengar suara Bu Dessery yang bergetar seperti menahan sedih.
"Apa yang terjadi padanya Mikho. Apa yang harus Tante lakukan?" tanya Dessery stress begitu melihat Mikho datang.
"Ada apa Tante? Om?" tanya Mikho pada kedua orang tua Celine.
Bu Dessery menoleh pada suaminya yang hanya bisa tertunduk. Mikho semakin panik melihat sikap keduanya yang penuh tanda tanya. Pak Yudhi akhirnya mengangguk pada Bu Dessery, berharap Mikho bisa membantu mengatasi masalah mereka.
"Tadi malam Tante masuk ke kamar Celine, ingin bicara dengannya. Sejak jamuan makan malam kemarin, Celine terlihat sangat murung. Tante ingin Celine menceritakan apa yang terjadi, tapi ... seperti dulu, Celine tak pernah mengakui jika ada masalah," jelas Dessery, menceritakan kejadian tadi malam saat masuk ke kamar Celine.
Sejak jamuan makan malam, Celine menjadi murung. Orang tuanya yang melihat perubahan sikap Celine kembali merasa khawatir. Setelah susah payah memulihkan psikis Celine di luar negeri, gadis itu terlihat kembali seperti dulu.
Termenung setiap saat, terkadang menangis seorang diri. Ayah Celine kembali mengantar jemput gadis itu saat berangkat ke kantor. Beruntung Yodi, bersedia mengantar dan menjemput Celine.
Seperti biasa gadis itu termenung di sisi ranjangnya. Hari ini, Yodi menanyakan kelanjutan hubungan mereka. Yodi ingin segera menikahi Celine, gadis itu tersenyum, tak berkata apa-apa tetapi saat di kamar gadis itu menangis. Dadanya terasa perih, Celine tak siap menerima Yodi sebagai suaminya, sementara laki-laki itu banyak berjasa padanya.
Yodi langsung jatuh pada Celine yang kebingungan saat menjadi mahasiswa baru di kampus itu. Akhirnya membantu Celine menemukan kelasnya. Mahasiswi cantik itu langsung menjadi perhatian mahasiswa tingkat akhir itu. Segala kebutuhan kuliah Celine dibantu laki-laki itu.
Yodi begitu baik dan sayang padanya. Celine bahagia seperti mendapat seorang Kakak laki-laki yang sangat menyayanginya. Namun, berbeda bagi Yodi, laki-laki itu mencintai Celine sepenuh hati, dan Celine tak tega menolaknya. Begitu khawatirnya Yodi melihat perubahan sikap Celine hingga membuat laki-laki itu ingin menjaga Celine 24 jam.
Yodi pun melamar Celine. Tanpa diketahui Yodi, lamarannya itu menjadi beban baru bagi Celine. Antara cinta yang tak mungkin bersatu atau menerima lamaran laki-laki yang tak dicintai.
Gadis itu tak mampu lagi menahannya. Membuka laci nakas, dan meraih cutter dari dalam laci itu. Celine memejamkan matanya, air matanya mengalir deras. Sekali gores, cutter yang telah menempel di pergelangan tangannya itu akan memutus urat nadinya.
"Sayang!" teriak Dessery dengan ceria masuk ke kamar putrinya.
Celine kaget dan langsung berdiri, cutter terpental dari tangannya. Gadis itu berdiri dengan napas yang berat dan wajah yang pucat pasi. Bu Dessery pura-pura tak melihat, dengan senyum yang dipaksakan Bu Dessery menghampiri putrinya.
Namun di balik senyum itu, Bu Dessery sangat takut dan bersedih. Bayangan akan kehilangan putrinya kembali menghantui. Hanya Mikho yang terpikir olehnya untuk membantu mengatasi.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...