Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
BAB 98 ~ Bertahanlah Untukku ~


__ADS_3

Devan terkejut dan langsung panik saat menyaksikan Erica yang telah berdiri di pagar pembatas. Segera laki-laki itu berlari menyergap Erica yang memutuskan untuk melangkahkan kakinya. Erica jatuh. Namun, Devan berhasil menangkap tangannya. 


Erica yang menutup matanya kini terbelalak. Saat itu juga Erica seperti tersadar dengan apa yang dilakukannya. Gadis itu langsung panik dan histeris. Devan bahkan meneteskan air mata. Laki-laki itu takut membayangkan dirinya yang tak mampu menahan tangan Erica lebih lama.


"Jangan bergerak, jangan panik. Tolong peganglah tanganku," ucap Devan dengan menitikkan air mata.


Devan sendiri sebenarnya sangat panik. Tetes air mata laki-laki itu menitik di wajah Erica. Seketika gadis itu tersadar, menatap haru laki-laki yang bertahan memegangi tangannya. Erica pun tenang dan patuh padanya. 


Berhenti histeris dan pasrah mengikuti ucapan laki-laki yang dicintainya itu. Erica tak panik lagi dan tak banyak bergerak. Namun, gadis itu sedih melihat Devan yang berusaha bahkan seperti kesakitan menahan tubuhnya.


"Lepaskan Devan, kamu sudah kesakitan," ucap Erica pasrah.


"Diam! Jangan banyak bicara. Aku akan coba mengangkatmu," ucap Devan dengan susah payah mencoba menarik tubuh Erica. Erica menitikkan air mata, melihat perjuangan Devan yang masih tetap ingin menolong.


"Sudah, jangan coba lagi. Tanganmu sudah mulai lemah. Jangan sakiti dirimu–"

__ADS_1


"Aku bilang diam!" teriak Devan. "Kalau kamu jatuh, aku juga akan lompat! Aku tak akan sanggup menghabiskan sisa hidupku dengan melihatmu jatuh tepat di depan mataku. Kalau kasihan padaku, bantulah aku. Jangan lemah, panjatlah tanganku!" perintah Devan.


Melihat Devan yang masih tetap berusaha. Dengan sebelah tangannya yang masih bebas, Erica berusaha meraih tangan Devan yang menggenggam pergelangan tangannya. Kini kedua tangan Erica, bergantung di sebelah tangan Devan.


Sebelah tangan laki-laki itu masih bertahan berpegangan di besi pembatas. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Devan bersandar di besi pembatas itu. Dengan sebelah tangannya meraih ponsel itu dan menerima panggilan telepon.


"Tolong Ma, Erica jatuh. Erica mau bunuh diri di rooftop rumah sakit!" teriak Devan begitu saja.


"Apa? Bunuh diri?" teriak Bu Fitri.


Mendengar kata bunuh diri, semua yang mendengar langsung tercengang. Segera semuanya berlari menuju lift yang mengantar mereka ke rooftop rumah sakit. Mikho berlari dengan kencang terlebih dahulu. Menyusul Celine, Pak Yudhi, Bu Dessery, dan Bu Fitri dengan lift yang lain. Bu Fitri yang khawatir mendengar putranya meminta tolong meminta izin pada suaminya untuk menyusul Devan. Begitu sampai di lantai teratas itu, secepat mungkin  Mikho mencari-cari posisi Devan dan Erica di atas rooftop yang luas itu.


"Maafkan aku Devan." Tangis Erica meminta maaf terdengar sangat pilu.


"Diam! Aku bilang diam! Bertahanlah untukku!" bentak Devan dengan air mata yang menitik. Suara bentak Devan yang cukup keras membuat Mikho segera mengetahui posisi keduanya.

__ADS_1


Mikho segera meraih tangan Erica yang mulai lemah menggenggam tangan Devan. Sementara tangan laki-laki itu sendiri sudah mulai kebas dan tak sanggup lagi menahan tangan Erica. Perlahan pergelangan tangan gadis itu mulai turun. Mikho pun menyambar tangan Erica yang masih digenggam Devan. Dengan tenaganya yang masih berlimpah, Mikho dengan cepat menarik kedua tangan Erica dibantu oleh Devan.


Begitu kencangnya Mikho menarik, begitu sampai di atas ketiganya terdorong ke belakang dan terjengkang jatuh di lantai rooftop. Erica menimpa tubuh Devan dan Mikho terlentang menatap langit dengan nafas yang terengah-engah.


Mikho dengan cepat berlari begitu lift terbuka. Menaiki anak tangga satu lantai lagi dan berlari ke sana kemari mencari posisi Erica dan Devan. Begitu bertemu langsung mengangkat tubuh Erica membuat nafas laki-laki itu tersengal-sengal.


Mereka bertiga bahkan tak ada yang bersuara. Hanya sibuk menenangkan diri dari perasaan tegang tadi. Hanya terdengar suara nafas yang berhembus panjang dan silih berganti. Tak lama kemudian rombongan Celine dan yang lainnya datang. Menjerit saat melihat ketiga orang itu terkapar di lantai.


"Kakak?" tanya Celine menatap khawatir sambil duduk di samping suaminya.


"Aku tidak apa-apa Sayang, hanya ingin menarik nafas saja," jawab Mikho sambil meraih tubuh istrinya dan memeluk.


Sementara para orang tua yang baru datang menatap haru kedua pasangan itu. Mikho yang memeluk istrinya dan Devan memeluk Erica yang memang jatuh menimpa tubuhnya.


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2