
Pertunangan telah ditetapkan, undangan pun telah disebar. Bahkan Mikho mendapatkan satu untuknya. Laki-laki itu yakin tak bisa menghadiri. Namun, karena undangan itu telah sampai ke tangannya, mau tak mau dia membawa dan menyimpannya di rumah.
Setelah sampai di kamarnya Mikho melempar undangan itu ke tumpukan buku. Mikho meraih jepitan rambut Evita. Kali ini laki-laki itu langsung tertunduk. Hanya dengan menggenggam jepitan itu. Menelungkupkan wajahnya, tanpa berkata apa-apa, Mikho hanya menangis.
Laki-laki itu terlalu sedih, bahkan untuk mencurahkan isi hatinya saja dia tak mampu lagi. Seakan semua yang dilakukannya hanyalah sia-sia dan salah. Mencurahkan isi hati pun hanya akan berisi penyesalan. Mikho hanya bisa menangis sepanjang malam.
Hari demi hari dilewatinya dengan termenung. Lola bahkan menelpon Mikho berkali-kali meminta Dokter itu kembali praktek di kliniknya. Meski mendengar banyak pasien yang menanyakannya, Mikho masih enggan datang ke kliniknya.
"Kamu tak ke sana lagi?" sapa Tiara setelah Mikho menyimpan ponselnya. Mikho bergeming.
"Ternyata klinik itu benar-benar hanya untuk menunggu Celine. Hanya untuk mengenangnya. Begitu bertemu dengan Celine, kamu tak ada semangat lagi untuk menjalankan klinik itu," ucap Tiara sambil menatap langit di rooftop itu. Mikho masih diam, tak bicara.
"Aku sudah memutuskannya. Aku … kita … tak lagi bertunangan. Aku sudah bicara pada keluargaku dan mereka mengerti. Aku rasa ... aku tak akan bahagia dengan memaksamu hidup bersama denganku," ucap Tiara dengan terisak-isak.
Sesekali gadis itu menghapus air matanya. Selama ini Mikho hanya diam, tetapi kali ini dia menoleh. Mikho selalu tak tega melihat Tiara menangis. Laki-laki itu akan merangkul bahu Tiara dan menyandarkan ke dadanya.
Tangis gadis itu semakin menjadi. Mendapat pelukan Mikho hatinya goyah. Ingin mendapatkan pelukan itu selama-lamanya. Namun, akhirnya tersadar. Walaupun tubuh Mikho memeluknya tetapi hati laki-laki itu tetap memeluk Celine.
"Aku merasa memaksamu menjadi milikku hanya membuat hatiku sendiri terluka. Setiap hari, berpura-pura, cintamu hanya untukku. Sedangkan aku tahu, cintamu hanya untuk Celine. Meskipun dia memilih dengan yang lain. Mikho … apa kamu bahagia terbebas dariku? Apa aku terlambat melakukan itu? Kamu pasti menyesaliku, melepaskanmu saat Celine memutuskan bersama laki-laki lain. Apa kamu membenciku?" tanya Tiara dengan air mata yang mengalir.
Mikho masih bergeming. Meskipun memeluk Tiara. Matanya masih menatap lurus ke depan. Tiara memeluk erat tubuh laki-laki itu seolah-olah itu untuk terakhir kalinya.
Gadis itu memutuskan untuk melepas Mikho, berharap laki-laki itu akan kembali seperti dulu. Namun, sudah terlanjur. Semua yang dilakukan Tiara tak bisa mengembalikan Mikho yang dulu.
Sehari-hari, saat istirahat, laki-laki itu hanya duduk di bangku rooftop. Bahkan saat jam kerjanya habis pun, Mikho tetap duduk di situ. Tiara yang selalu datang menemani. Meski setiap kali bicara, laki-laki itu tak menyahut sama sekali. Tiara tetap mengajaknya berkomunikasi.
"Malam ini pesta pertunangan Celine, apa kamu akan datang?" tanya Tiara.
Mikho diam, tak merespon. Sepertinya segala ucapan, omongan, obrolan tak ada arti baginya. Apalagi hanya membalas basa-basi. Membicarakan penyesalan demi penyesalan. Mikho merasa hanya sia-sia menanggapi. Mulutnya terasa berat untuk bicara, terlalu lemas berkata-kata.
"Ayo! Kita harus kembali praktek," ajak Tiara sambil mengulurkan tangannya.
Mikho berdiri lalu melangkah sendiri. Tiara menatap tangannya yang diabaikan Mikho. Gadis itu sadar, Mikho bisa bangkit sendiri jika dia mau. Dia tidak lemah, dia hanya tak ingin berbicara jika hanya untuk mengungkapkan penyesalan demi penyesalan.
Malam itu Mikho masih praktek di rumah sakit. Walaupun Tiara mengajaknya menghadiri pesta pertunangan sahabatnya itu. Mikho memilih tetap di rumah sakit. Sedikit pun tak ada keinginan untuk menghadiri acara yang hanya akan membuatnya bersedih itu.
__ADS_1
"Dokter, tolong periksa pasien itu," ucap seorang perawat padanya.
Mikho langsung mendatangi pasien itu. Memeriksa seorang wanita yang berbaring di ranjang periksa. Tanpa menyapa bahkan menoleh sedikit pun, laki-laki itu langsung menjalankan tugasnya. Baru saja laki-laki itu selesai periksa dan memberi instruksi pada perawat di sampingnya. Tiba-tiba pasien itu menggenggam tangannya.
"Mikho? Kamu Mikho kan?" tanya pasien itu.
Mikho menoleh, dengan kening yang sedikit berkerut. Mencoba mengingat-ingat wanita di hadapannya itu. Mencoba mengenali pasien yang sedang di periksanya itu.
"Iya kamu Mikho. Kamu jadi dokter? Wah hebat. Kamu nggak ingat sama aku?" tanya pasien itu lagi.
Mikho hanya diam, ekspresinya menunjukkan kebingungan. Pasien wanita itu mencoba untuk duduk untuk berbicara. Mikho memintanya untuk tetap berbaring.
"Aku Wanda, kita teman sekelas waktu SD. Saat itu kamu anak baru di kelas kami," jawab wanita itu, menjawab sendiri pertanyaannya.
"Maaf, aku lupa teman-teman SD apalagi yang perempuan," ucap Mikho seadanya.
"Tapi kamu ingat Celine kan?" tanya Wanda.
"Celine?"
Mikho merespon lebih. Begitu mendengar nama Celine dari mulut wanita itu, Mikho langsung fokus pada wanita itu. Tak menyangka bertemu dengan seseorang yang juga mengenal gadis yang dicintainya.
"Bukan! Bukan Celine ... tapi Evita. Nama cewek yang dijodohkan denganku itu Evita," jelas Mikho dengan raut wajah heran.
"Oh ya benar! Kalau teman-teman sekelas memanggilnya Evita. Tapi aku memanggilnya Celine, karena orang tuanya memanggilnya begitu. Kami tetangga satu kompleks jadi aku tahu panggilan di rumahnya. Malam ini dia bertunangan. Aku sampai pusing memikirkan gaun–"
"Tunggu! Apa Evita adalah Celine?"
"Ya."
"Nggak! Nggak! Jika Evita adalah Celine, itu pasti Celine yang lain. Bukan Celine ku," ucap Mikho menggelengkan kepalanya.
"Celine ku? Kamu mengenal Celine yang lain? Dia pacarmu? Oh ya … kalau Celine teman SD kita itu kasihan sekali. Beberapa tahun yang lalu dia hampir meninggal karena mencoba bunuh diri–"
"Apa? Bunuh diri?" tanya Mikho dengan raut wajah tegang. Wanda mengangguk.
__ADS_1
"Aku datang menjenguknya di rumah sakit. Untung masih selamat, sekarang dia malah akan bertunangan–"
"Bunuh diri? Bertunangan malam ini?" tanya Mikho dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ya!"
"Evita … Celine, dia benci perjodohan di sekolah. Dia benci pada perjodohan kami saat masih SD," ucap Mikho kebingungan.
"Ya, maafkan aku. Karena mulutku yang sembarangan. Kalian jadi dijodoh-jodohkan. Celine sangat sedih waktu itu. Aku menyesal tapi tak berani meminta maaf karena aku tak bisa memperbaikinya lagi. Celine sangat sedih dan benci dengan perjodohan itu karena mengira kamu pasti sangat membencinya–"
"Benci perjodohan? Bunuh diri? Bertunangan malam ini?" tanya Mikho bertubi-tubi berpikir sendiri. Wanda mengangguk.
"Celine ku, dia juga benci dijodoh-jodohkan. Dia pernah kritis karena mencoba bunuh diri. Malam ini juga akan bertunangan," ungkap Mikho.
"Kamu … aku pernah dengar kalau kamu memanggilnya dengan sebutan lontee. Dia benci dijodohkan sejak mendengar ucapanmu itu," lanjut Wanda.
"Celine ku juga terguncang mendengar kata-kata itu," ucap Mikho yang tak lagi bisa menahan air matanya.
Wanda terperangah tak percaya semua ciri mirip dengan Celine teman SD nya. Wanda, akhirnya menanyakan lokasi pesta Celine kekasih dr. Mikho. Laki-laki itu tak mengetahuinya. Wanda akhirnya menyebutkan alamat komplek tempat tinggal Celine.
Mendengar itu Mikho langsung berlari. Meninggalkan pasien itu begitu saja. Pulang ke rumahnya dan mencari undangan pertunangan itu. Menatap nama yang tertera di kartu undangan itu.
"Evita Celine! Celine adalah Evita? Dia …."
Terbayang lagi, masa-masa Celine mengabaikannya di SMA. Meski bertanya apa kesalahannya Celine tak pernah mau menjawab.
"Pantas saja aku selalu merasa mengenalnya. Pantas saja aku selalu merasa rindu padanya. Dia adalah Evita ku, Celine adalah Evita ku," ucap Mikho bicara sendiri.
Laki-laki itu hendak pergi, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Meraih jepitan rambut Evita lalu berlari sekencang-kencangnya menuju mobilnya. Mikho segera memacu mobilnya menuju lokasi pesta pertunangan Celine dan Mikho.
"Maafkan aku Evita, karena aku mengucapkan itu padamu. Aku selalu menyesal mengucapkan kata-kata kejam itu padamu. Aku benci pernah berkata lontee padamu. Aku menyesal Evita, kamu harus dengar permintaan maafku," ucap Mikho bermonolog.
Teringat kembali saat baru mengenal Celine di SMA. Gadis itu membencinya tanpa alasan. Mengabaikannya hingga mempermalukan di depan anggota OSIS.
Ya! Celine pasti membenciku karena ucapanku itu. Karena itu dia terdiam saat aku mengungkit masa lalu. Celine mengenalku. Mengenalku sebagai orang yang mengucapkan kata-kata kasar padanya. Oh ya ampun, kenapa aku tak menyadarinya. Kenapa aku lupa wajah Evita. Kenapa aku tak sadar kalau kamu adalah Evita. Aku mencintaimu Celine, sejak aku mengenalmu sebagai Evita, batin Mikho sambil terus memacu mobilnya menuju lokasi pertunangan Celine.
__ADS_1
Mikho tak peduli, apa pun yang akan terjadi. Laki-laki itu ingin mengungkapkan yang sebenarnya. Perasaannya pada Evita, penyesalannya mengucapkan kata-kata itu. Tak peduli Yodi akan marah dan membencinya. Mikho ingin Celine tahu, dia menyesal mengucapkan kata-kata itu. Meminta maaf dan mencoba meraih cinta Evita kembali.
...~ Bersambung ~...