
Pagi itu Mikho dan para peserta wisata di pesanggrahan menikmati sarapan pagi mereka. Hari ini adalah hari keempat mereka berkemah di pesanggrahan itu. Setelah sarapan dan istirahat sebentar, Mikho dan yang lainnya memiliki jadwal berjalan-jalan di sekitar pegunungan itu.
Mereka pun asyik menikmati acara kebersamaan itu dengan berbagai pose foto kenangan yang telah mereka simpan di memori ponsel mereka. Mikho tersenyum melihat raut wajah bahagia para peserta wisata. Semua berjalan lancar sesuai dengan yang diinginkan.
Semua itu merupakan sukses besar acara wisata kali ini karena diikuti oleh peserta terbanyak dan semua berjalan lancar tak ada kendala. Mereka semua terlihat bahagia dan puas dengan acara wisata itu. Selain mereka bahagia karena semakin akrab satu sama lain, mereka juga semakin akrab dengan para anggota OSIS yang cantik-cantik dan tampan-tampan.
Jika bukan karena acara itu, mana mungkin mereka bisa seakrab ini dengan Mikho dan kawan-kawannya. Mikho sendiri tak membatasi diri dengan mereka. Siapa pun boleh berteman dengannya tapi siswa siswi itu saja yang merasa kurang percaya diri mendekati laki-laki tampan itu karena takut dikira pedekate.
Mikho tersenyum tapi hatinya bersedih, jika dia bisa mengukir kenangan manis bersama teman-teman yang lain tapi tak bisa mengukir kenangan indah bersama Celine. Mikho merasa hampa. Saat istirahat makan siang pun Mikho masih memikirkan gadis yang telah mengusik hatinya itu.
Apa makannya cukup? Apa dia tidak sakit? Apa tidak kelelahan? Bagaimana kalau tiba-tiba lemah, lalu tak bisa turun gunung. Aaaah Celine, kenapa kamu bikin kekacauan dalam hati dan otakku, batin Mikho.
Perang antara hati dan otaknya membuat laki-laki itu kasak kusuk sendiri. Tiba-tiba menepuk-nepuk keningnya dan lalu menjambak rambutnya.
"Kenapa loe?" tanya Erica yang melihat Mikho begitu kusut.
"Nggak apa-apa," jawab Mikho.
Erica yang memang sekelas dengan Mikho setiap hari mencoba mendekati laki-laki itu tapi sama seperti yang lain. Mikho tak menganggap gadis itu berbeda. Meski perhatian Erica sering terasa tapi Mikho menganggap itu hanya perasaan seorang teman.
"Kamu suka sama cewek itu ya?" tanya Erica.
Mikho menoleh ke arah Erica, tersirat nada tak senang dari pertanyaan gadis itu tadi. Mikho menunduk, baru menyadari kalau sikapnya pada Celine terlihat jelas oleh semua orang.
Apa terlihat jelas aku menyukainya? Ternyata aku benar-benar telah melupakan cinta pertamaku karena Celine, batin Mikho.
"Sepertinya memang begitu," ucap Mikho pasrah.
Jika semua orang sudah menilainya menyukai Celine, dia tak mungkin mengelak lagi.
__ADS_1
Jika dipikir-pikir, aku memeluk Celine kemarin, siapa yang tidak mengira kalau aku menyukainya. Aah, terlihat jelas aku suka padanya. Apa karena terlalu khawatir atau memang karena suka? Batin Mikho kebingungan.
"Apa sih yang loe suka dari dia? Keras kepala begitu. Gue yakin dia sengaja bersikap seperti itu untuk menarik perhatian loe. Jangan-jangan anak-anak sispala itu emang udah gengnya dia. Berlaku seperti gadis polos yang baru pertama kali mendaki padahal udah biasa dan mungkin dia itu sebenarnya gadis liar yang–"
"CUKUP! Gue nggak peduli loe ngomong apa tentang orang lain atau jelek-jelekin siapa pun, gua nggak akan peduli tapi kalau sekali lagi loe jelek-jelekin Celine. Gua nggak akan kenal loe lagi!" bentak Mikho.
Erica tercekat, tak menyangka reaksi Mikho akan sekeras itu. Tentu saja dia tak ingin itu terjadi, Erica tak akan sanggup jika Mikho mengabaikannya. Apalagi tak mau lagi mengenalnya. Gadis itu akhirnya pasrah tak melanjutkan kata-katanya tapi di dalam hati, Erica mengutuk dan mengumpat.
Sial kurang ajar! Gitu amat responnya menyangkut cewek gatel sok polos itu. Udah begok, sok cantik, sok diharepin lagi, umpat Erica dalam hati.
Mikho melangkah bergabung dengan peserta laki-laki lainnya. Mereka bernyanyi bersama-sama tapi itu tak membuat hati Mikho tenang. Sesekali menoleh ke arah jalan setapak menuju puncak gunung itu.
Mikho bisa saja ikut naik hingga ke puncak. Laki-laki itu telah terbiasa mendaki gunung-gunung bahkan yang ekstrim sekali pun. Tak hanya gunung di tanah air tapi juga gunung-gunung terkenal di luar negeri. Namun, karena tanggung jawabnya sebagai panitia yang bersikeras hanya sebatas pesanggrahan saja, Mikho tak bisa meninggalkan peserta lain yang menjadi tanggung jawabnya.
Hari ini mereka turun, kalau berangkat pagi tadi, nanti malam akan sampai di sini. Mudah-mudahan tidak ada halangan hingga mereka sampai lebih cepat, batin Mikho masih terlihat murung memandang ke jalan setapak itu.
Berharap tiba-tiba rombongan sispala sekolahnya itu muncul. Terkadang laki-laki itu gembira melihat rombongan melangkah mendekat ke area mereka. Namun, harus kecewa karena bukan rombongan sekolahnya. Mikho berharap rombongan itu berangkat lebih awal hingga bisa tiba lebih cepat.
Mereka dalam perjalanan pulang, mereka pasti basah kuyup? Tak mungkin buru-buru mendirikan tenda. Bagaimana ini? Cuaca sangat dingin, semoga mereka bisa segera sampai ke sini. Mereka bisa menghangatkan diri di sini. Ya ampun bagaimana jika mereka kedinginan hingga mengalami hipotermia. Ya Tuhan, buatlah hujan ini segera berhenti, batin Mikho berdoa.
Kekhawatiran Mikho sangat terlihat, hingga laki-laki itu berkali-kali mengintip melalui pintu resleting tenda.
"Dingin Mik! Anginnya masuk," ucap seorang teman kelompoknya.
"Maaf," ucap singkat Mikho.
Kembali duduk menunduk di depan pintu tenda itu. Laki-laki itu berdoa se khusyuk mungkin karena hanya itu yang bisa dilakukannya. Beberapa teman dalam tenda itu ketakutan dengan angin kencang yang menghembus tenda mereka. Ucapan ketakutan itu membuat Mikho semakin risau hingga menekuk kepalanya dengan kedua tangannya. Mikho stress, teman yang lain langsung meminta temannya untuk diam.
Menjelang sore hujan berhenti, Mikho bersyukur namun tetap merasa khawatir. Mereka kembali melanjutkan mengumpulkan ranting untuk nanti malam.
__ADS_1
"Bisa kedinginan kita kalau tak bikin api unggun."
"Tapi kayunya basah?"
"Menjelang malam mudah-mudahan udah kering."
Pembicaraan yang membuat Mikho semakin risau. Malam itu, meski dengan susah payah mereka akhirnya berhasil membuat api unggun menyala.
Harusnya mereka telah sampai jika berangkat tadi pagi. Apa mungkin mereka berteduh hingga perjalanan terhambat, batin Mikho khawatir.
Tiba-tiba datang rombongan sispala dan mengagetkan seluruh peserta wisata di pesanggrahan itu. Mikho melihat beberapa anak sispala yang telah kembali dan langsung terkapar di tengah acara mereka dan Celine tak terlihat di antara mereka.
"Kami sudah mencarinya hingga berjam-jam, tapi tetap tak menemukannya. Kami juga sudah lelah dan lapar. Tak punya tenaga lagi. Karena itu segera kami kemari," jelas seorang anggota sispala.
"Aku pikir Celine di belakangku. Dia minta aku jalan duluan," ucap seorang sispala menjelaskan.
"Harusnya kamu tak membiarkan dia berjalan sendiri di belakang!" bentak Mikho kesal sambil menyiapkan perlengkapan mendakinya.
"Maaf Mikho, tapi kami sungguh-sungguh khilaf. Tadinya aku masih mendengar langkah kakinya di belakang," ucap anggota sispala itu menyesal.
"Kalian tidak tahu? Gunung itu bisa menipu, kita seperti masih melihat dan mendengar teman kita, padahal dia sudah tidak ada sejak tadi. Begitu juga di pandangan Celine. Dia mengira mengikuti kalian, padahal dia sudah tersesat," ungkap Mikho nyaris menangis.
Laki-laki itu segera menyandang ranselnya dan melangkah ke keluar area perkemahan. Semua peserta menatap dengan wajah cemas.
"Mikho, tolong temukan Celine," teriak Tiara sambil menangis sesenggukan.
Mikho mengangguk pasti, hal itu sudah menjadi tekadnya. Mikho segera melangkah tergesa-gesa. Gelap malam seperti tak menjadi halangan baginya. Setelah memperkirakan seberapa jarak anggota sispala mulai menyadari hilangnya Celine. Mikho segera melesat menuju wilayah Celine menghilang.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1