Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
BAB 90 ~ Menolong ~


__ADS_3

Erica tidak percaya diri saat kedua orang tua Devan ingin mengetahui seperti apa perasaannya terhadap Devan. Mengingat keluarganya yang hancur karena kesalahan mereka yang berbuat curang adalah hal yang memalukan. Erica tak berharap lagi Devan akan membalas perasaannya meskipun dalam hati masih tetap menginginkannya.


Namun, orang tua Devan justru memancing gadis itu untuk mengungkapkan perasaannya. Bagi Pak Rahman dan Bu Fitri. Urusan orang tua tak ada sangkut pautnya dengan anak-anaknya. Konsekuensi suatu perbuatan hanyalah tanggung jawab masing-masing pribadi.


Mendengar itu Erica merasa terharu. Melihat sikap kedua orang tua itu yang begitu lapang dada. Namun, tetap saja Erica merasa tidak percaya diri hingga Bu Fitri seolah-olah tak ingin Erica terpaksa menyukai putranya.


"Nggak Ma, bukan begitu. Aku menyukai Devan sejak kecil. Sejak pertama kali aku melihatnya–"


Erica tanpa sengaja mengungkapkan perasaannya terhadap Devan kepada kedua orang tua itu. Gadis itu bahkan memanggil kedua orang tua Devan dengan panggilan yang akrab. Kesempatan itu di orang tua Devan untuk menantang putranya agar berani bicara pada Erica. Entah itu menolak atau menerima.


Devan hanya diam, beberapa menit yang lalu, hatinya masih berharap pada Celine. Walaupun dia tahu, Celine masih tetap mencintai suaminya meskipun mereka berpisah. Hari ini, Devan menyaksikan sendiri, Celine dan suaminya bersatu lagi. Hatinya yang tadi memiliki harapan, kini telah musnah.


Kenapa dia harus muncul lagi? Setelah membuat Celine menderita. Membuat Celine menangis bahkan menjauh dari kehidupannya demi melupakan laki-laki itu. Kenapa dia tiba-tiba muncul lagi dan membuyarkan harapanku. Hari itu dia sudah datang tapi pergi lagi setelah jatuh pingsan. Sekarang malah datang lagi? Erica yang membawanya kemari. Erica yang mendukungnya untuk bersatu lagi dengan Celine. Aku benci Erica, aku benci laki-laki itu, batin Devan.


Bu Fitri memanggil putranya yang termenung. Pak Rahman pun membiarkan Devan memikirkannya tanpa ada desakan dari mereka. Sementara Erica memaklumi kalau Devan tak mungkin membalas perasaannya.


"Sudahlah Ma, biarkan Devan memikirkannya matang kita tak boleh ikut campur masalah hati. Itu namanya pemaksaan. Bapak mau ke belakang dulu sebentar ya?" tanya Rahman pamit pada Erica.


"Mama temani ya Pa?" tanya Fitri.


"Nggak usah Ma! Temani Nak Erica aja," ucap Rahman.


Erica tersenyum, gadis itu menoleh pada Devan yang masih termenung. Melihat Devan yang berwajah murung, gadis itu sadar kalau Devan sama sekali tak memiliki sedikit pun perasaan padanya.


Gadis itu merasakan dadanya yang terasa perih. Hanya sekedar bercanda pun Devan tak mau membalas pertanyaan orang tuanya yang mencoba menjodohkan mereka. Erica memastikan kalau dirinya tak akan berharap lagi pada Devan.


Erica udah cukup bahagia karena Devan yang mau menjadi temannya. Bahkan mengajaknya berkenalan dengan kedua orang tuanya. Erica jadi memiliki kesempatan untuk meminta maaf atas nama orang tuanya pada Pak Rahman dan Bu Fitri. Erica sadar, kalau masalah cinta memang tak bisa dipaksakan. 


"Kalau begitu saya permisi dulu Ma, takut kemalaman sampai di rumah," ucap Erica pamit pada Bu Fitri.


"Oh begitu? Baiklah tunggu sebentar ya? Mama panggil Papa dulu sebentar," ucap Fitri dan lalu masuk ke dalam rumah sederhana itu.

__ADS_1


Erica hanya tersenyum simpul pada Devan. Situasi menjadi terasa canggung. Hanya tinggal mereka berdua yang diam dengan pikiran mereka masing-masing. Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari dalam rumah.


Devan sontak mengejar ke dalam, begitu juga dengan Erica. Mereka terkejut saat melihat Pak Rahman tergeletak di lantai dan Bu Fitri yang menangis memanggil putranya. Seketika Erica menelpon Mikho dan memintanya segera datang ke rumah Devan.


"Pa, bangun Pa, jangan tinggalkan kami Pa. Bangun Pa," jerit Fitri menangis menyayat hati.


Erica bahkan sesenggukan mendengar tangis ibu itu. Gadis itu mencoba merangkul ibu yang menangis suaminya yang tak kunjung bangun. Devan termangu, merasa semua terjadi karena dosa-dosanya yang masih mengharapkan istri orang lain.


Erica mengusap punggung Bu Fitri dan mengatakan telah menelpon Mikho. Tak lama kemudian Mikho dan Celine datang. Laki-laki itu segera memeriksakan tanda-tanda vital Pak Rahman. Air mata Celine langsung mengalir menatap ibu itu yang terpaksa di tarik Erica ke dalam pelukannya karena Mikho yang ingin memeriksa.


"Celine telepon ambulans!" perintah Mikho.


Gadis itu segera mencari tahu, ambulans terdekat yang bisa datang ke alamat rumah Devan. Sementara itu, Mikho dengan wajah yang tegang berusaha melakukan pertolongan pertama pada Pak Rahman. Laki-laki itu bahkan menggelengkan kepalanya mengetahui kondisi Pak Rahman. Melihat Mikho yang seperti putus asa, Devan menangis sejadi-jadinya.


"Tenanglah Devan, mari kita berdoa!" ucap Celine melihat Mikho yang tak berhenti berusaha melakukan pertolongan.


Mikho yang mengetahui Pak Rahman telah berhenti nafas, segera melakukan kompresi dada dan pemberian napas buatan. Mikho menekan dada Pak Rahman sebanyak tiga puluh kali. Mengamati tanda-tanda pergerakan atau tanda-tanda Pak Rahman yang mulai bernafas. 


Sama sekali tak pedulikan jerit tangis orang-orang di sekitarnya. Dokter tampan itu fokus melakukan usaha penyelamatan itu secara terus menerus. Melakukan tindak kompresi dada sebanyak 100-120 kali per menit hingga hingga akhirnya Pak Rahman menghela nafas.


Mikho terduduk lelah di samping Pak Rahman. Mikho menyapa Pak Rahman dan bapak itu pun merespons. Mikho tersenyum lega, masih dengan nafasnya yang terengah-engah. Celine segera mendatangi suaminya. Menyapu keringat di kening Mikho dengan telapak tangannya.


"Terima kasih sayang," ucap Mikho lalu mengeringkan tangan Celine dengan kedua tangannya. Laki-laki itu mengecup tangan Celine lalu tersenyum.


"Terima kasih Dokter," ucap Devan tulus.


Laki-laki itu masih menyisakan air di pelupuk matanya. Mikho mengangguk lalu menepuk lengan Devan. Terlihat jelas napas Mikho yang masih tersengal-sengal. Namun, dengan tersenyum Mikho meminta Devan untuk tenang.


"Jangan khawatir! Kondisi bapak mulai stabil tapi kita harus tetap bawa bapak ke rumah sakit begitu ambulans datang," ucap Mikho menenangkan Devan.


"Tak usah dokter. Tak perlu. Saya istirahat di rumah saja," ucap Rahman dengan suara pelan.

__ADS_1


"Jangan Pak, bahaya! Jika terjadi kejadian seperti tadi, cuma ada bapak sendiri atau cuma bersama ibu, apa yang bisa terjadi Pak? Kasihan ibu pasti ketakutan sendiri," ucap Mikho.


Pak Rahman yang masih berbaring menoleh ke arah istrinya yang menangis dalam pelukan sambil bersandar pada Erica. Mendengar ucapan Mikho, bapak itu pun membenarkan ucapannya. Sementara itu Devan langsung tertunduk. Mengingat biaya perawatan yang harus ditanggungnya.


"Mengenai biaya perawatan di rumah sakit, saya akan bicara dengan Papa. Bapak berhenti dari perusahaan tanpa mendapatkan apa pun, saya akan usahakan bapak mendapatkan hak bapak. Termasuk biaya bapak di rumah sakit. Bapak jangan khawatir masalah biaya, ya Pak?" ucap Celine sambil menoleh ke arah suaminya yang duduk di sampingnya.


Pak Rahman dan Bu Fitri saling berpandangan. Tak mengerti kenapa Celine berkata seperti itu karena tak mengenal wanita cantik itu. Sementara Celine telah mengetahui cerita Pak Rahman dari Devan.


"Celine ini putrinya Pak Yudhi, Pa, Ma," ucap Erica melihat kebingungan di wajah kedua orang tua itu.


"Oh ya, saya belum perkenalkan diri saya. Sementara saya sudah seperti mengenal bapak dan ibu dari cerita Devan," ucap Celine sambil mengulurkan tangan.


"Putri Pak Yudhi? Gadis kecil yang cantik seperti bidadari itu?" tanya Rahman.


"Yang nangis waktu rambutnya di gunting?" tanya Fitri.


"Ya Pak, iya Bu," jawab Celine.


"Oh ya ampun, bagaimana kabar Pak Yudhi?" tanya Rahman.


"Persisnya saya tidak tahu Pak, tapi saat menghubungi mereka, keadaan mereka sehat dan baik-baik saja. Karena itu, Bapak dapatkan perawatan di rumah sakit. Setelah itu mampirlah ke rumah kami, bagaimana Devan?" bujuk Celine pada Pak Rahman dan meminta persetujuan Devan.


Devan tetap merasa bingung. Namun, demi ayahnya, laki-laki itu akhirnya mengangguk. Tak lama kemudian ambulans datang. Mikho meminta petugas ambulans untuk membawa Pak Rahman ke rumah sakit besar di kota.


...~  Bersambung  ~...


Halo pembaca setia Noveltoon.


Sambil nunggu update selanjutnya, mampir juga ke salah satu karya temanku ini yaaa 🤗🤗🤗


Jangan lupa tinggalkan jejak untuk mendukung Author, makasih 😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2