
Mikho memerintahkan asistennya untuk membantu pasien berganti pakaian di sebuah ruang periksa. Sementara menunggu, tunangan dari pasien itu duduk berhadapan di meja dr. Mikho. Bercerita panjang lebar tentang betapa keras kepalanya si gadis tunangan.
Siapa yang ingin dengar ceritamu? Aku tak butuh semua itu, batin Mikho.
Antara kesal dan cemburu mendengar pasangan yang naik gunung bersama. Apalagi laki-laki itu sebentar-sebentar berkata 'tunangan saya … tunangan saya' membuat Mikho serasa ingin muntah, ingin mengusirnya karena terlalu banyak bicara.
"Saya sudah bilang, kalau saya tidak akan sanggup naik ke puncak gunung tapi tunangan saya sangat suka naik gunung. Untung kami bertemu pendaki yang hendak turun, jadi ada yang menemani kami turun," jelas laki-laki itu tanpa diminta.
Mikho hanya tersenyum. Tak ada yang tahu betapa dia sangat ingin melakukan itu. Naik gunung berdua dengan gadis yang dicintai. Menikmati pemandangan puncak gunung sambil merangkul gadis yang dicintai. Menatap gadis yang dicintai tersenyum di tengah hamparan bunga edelweis.
Ingin! Ingin! Sangat ingin, Mikho sangat ingin melakukannya bersama Celine. Setelah apa yang terjadi pada gadis itu. Saat pengalaman pertamanya mendaki gunung dan gagal dengan peristiwa hilangnya gadis itu. Mikho sangat ingin membuktikan bahwa dia mampu membawa gadis itu mendapatkan pengalaman mendaki yang lebih indah. Pulang dalam keadaan sehat dan selamat.
"Mungkin nanti saya akan coba mengajaknya lagi. Kalau dia nekat, saya akan membaca panduan dan menyiapkan perlengkapan yang lebih memadai. Saya …"
Aku tidak peduli apa rencanamu, lakukan saja sesukamu, batin Mikho sangat kesal mendengar celotehan laki-laki itu.
Namun, di mata laki-laki itu, Mikho terlihat begitu memperhatikan ceritanya. Mikho tersenyum seakan-akan menikmati ceritanya sehingga tak henti-hentinya laki-laki itu menyampaikan uneg-uneg serta rencana-rencananya. Tanpa dia sadari Mikho merasa tersiksa mendengar kicauannya.
Beruntung Lola memanggilnya untuk mulai memeriksa keadaan tunangan laki-laki itu. Mikho selamat dari masa-masa penyiksaan terhadap kupingnya. Dengan semangat dokter tampan itu masuk ke ruang pemeriksaan.
Begitu Mikho masuk, pasien yang sedang berbaring itu menoleh. Mikho langsung terbelalak, melihat gadis yang sedang berbaring itu. Sang pasien bahkan langsung terduduk meski terlihat lemah dan menggigil.
Celine, batin Mikho menjerit.
Sama seperti Mikho, Celine pun menjeritkan nama laki-laki itu. Dengan tatapan penuh kerinduan, Mikho mendekati gadis yang duduk dengan ekspresi terkejut itu. Mikho segera memeluk gadis yang dicintainya itu dan langsung membenamkan bibirnya ke bibir gadis cantik itu.
Celine pun langsung memeluk erat tubuh laki-laki tampan itu dan membalas ciuman Mikho dengan begitu menggebu-gebu. Keduanya bahkan berbaring di ranjang periksa pasien itu tanpa pedulikan apa pun.
Namun, jelas itu hanya khayalan Mikho. Dengan tenang laki-laki itu melangkah mendekati. Celine yang masih duduk dengan bibir yang gemetar hanya bisa menatap laki-laki itu dengan pikiran yang bercampur aduk.
__ADS_1
"Berbaringlah! Aku akan memeriksamu," ucap Mikho sambil mendorong pelan kedua bahu Celine agar gadis itu membaringkan tubuhnya.
Mikho mulai memeriksa kondisi Celine, memutuskan untuk memberikan infus hangat. Celine hanya bisa memandang apa yang dilakukan laki-laki itu. Setelah melakukan hal-hal yang perlu di lakukannya, Mikho menatap gadis yang dirindukannya itu.
"Jadi … jauh-jauh keluar negeri untuk mencari laki-laki seperti itu? Seperti itu tipe laki-laki idamanmu?" tanya Mikho sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Celine menatap Lola yang membantu menyelimutinya. Asisten Mikho itu lalu keluar dari ruangan pemeriksaan. Mikho masih menatap Celine menuntut jawaban.
"Jangan berkata seperti itu, dia laki-laki yang baik," jawab Celine.
"Baik? Lalu apa aku kurang baik?" tanya Mikho dengan tegas.
Celine memalingkan wajahnya, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. Mikho mengungkit masa lalu mereka. Kembali membangkitkan penyesalan di hati Celine.
Kamu sangat baik, terlalu baik. Tidak ada yang bisa mengalahkan kebaikan hatimu, batin Celine.
Melihat Celine yang seperti menangis akhirnya Mikho berhenti mendesaknya. Mikho sangat ingin memeluk gadis itu. Ingin menyalurkan kehangatan tubuhnya pada gadis yang masih menggigil itu. Melihat tangan Celine yang begitu pucat, laki-laki itu ingin menggenggamnya.
Setelah menyentuh kedua pipi Celine dengan raut wajah khawatir. Laki-laki itu menoleh pada dr. Mikho. Bertanya pada dokter tampan itu tentang keadaan tunangannya.
"Bagaimana keadaan tunangan saya dokter?" tanya laki-laki itu.
"Tunangan," ucap Mikho.
"Oh, maksud saya calon tunangan saya," jawab laki-laki itu dengan malu.
Mikho tertawa miring. Awalnya Mikho mengulang kata-kata itu karena terlalu kesal mendengarnya. Namun, ternyata calon tunangan Celine itu justru langsung memperbaiki ucapannya. Mikho merasa terganggu dengan kehadiran laki-laki itu.
Dokter tampan itu langsung membuatkan sebuah resep. Mikho ingin laki-kaki itu pergi menebus resep itu sekarang juga. Sangat kesal melihat laki-laki yang menurutnya tak pantas untuk mendampingi Celine itu. Khawatir berlebihan dan selalu menyentuh wajah gadis yang dicintainya.
__ADS_1
Laki-laki itu bertanya di mana letak apotek untuk menebus resep obat itu. Mikho menunjuk nama apotek yang letaknya cukup jauh, sementara ada apotek yang letaknya lebih dekat. Calon tunangan Celine itu langsung bergegas mencari angkutan umum menuju ke apotek yang disebutkan Mikho.
Mikho tersenyum lalu kembali ke ruang periksa Celine. Terlihat rona wajah gadis itu tak sepucat tadi lagi. Namun, bibirnya masih bergetar. Mikho tak tahan menatap bibir yang bergetar itu. Kemudian mendekati gadis itu tepat di wajahnya.
"Aku tidak rela, laki-laki seperti itu mendapatkanmu. Kamu bisa mendapatkan jauh lebih baik dari itu," ucap Mikho setengah berbisik.
Mikho benar-benar tak rela. Awalnya berniat pasrah melepas Celine pada laki-laki lain meski dia sendiri belum bisa melepas cintanya pada gadis itu. Mikho menatap wajah gadis yang masih menguasai hatinya itu. Perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Celine.
Mikho mengira Celine akan menolak. Namun, justru kaget saat tangan gadis itu malah mengusap lembut pipinya dan membalas ciuman lembut itu. Begitu tak percaya dengan respon Celine, Mikho merasa ini hanya khayalannya saja.
Aku mencintaimu Mikho, batin Celine sambil memeluk leher laki-laki itu.
Mata Celine yang berkaca-kaca telah mengalirkan air matanya. Celine telah berusaha menghindar sejauh mungkin dari laki-laki itu tetapi hatinya tetap tak mampu melupakan laki-laki yang telah menetap kuat di hatinya.
Mikho yang tak menyangka akan mendapatkan sambutan dari Celine, memeluk gadis itu erat. Semakin gencar menyesap bibir manis gadis yang dicintainya itu. Satu-satunya bibir yang pernah dinikmatinya meski saat ini telah bertunangan dengan Tiara.
"Aku mencintaimu Celine," ucap Mikho saat melepas ciuman yang telah membuat napasnya tersengal-sengal itu.
Celine memalingkan wajahnya. Mikho menangkup wajah itu dan memaksanya menoleh tepat ke arahnya. Air mata Celine langsung mengalir dari samping matanya.
"Jawablah, apa kamu juga mencintaiku?" tanya Mikho to the point.
Mikho butuh jawaban Celine. Laki-laki itu bahkan bertekad akan memutuskan pertunangannya dengan Tiara. Sambil menangis, Celine justru menggelengkan kepalanya meski pelan dan ragu-ragu. Mikho menunduk frustasi melihat jawaban Celine.
Laki-laki itu ingin memaksa Celine mengakui isi hatinya. Namun, tiba-tiba terdengar suara Tiara yang berbicara dengan asistennya. Mikho segera melepas tangannya dari wajah Celine. Laki-laki itu segera keluar dari ruangan itu untuk menemui Tiara.
Beruntung Mikho segera muncul di depan pintu. Terlambat sedikit saja, mungkin Tiara akan masuk dan bertemu dengan Celine. Segera laki-laki itu mengajak tunangannya pulang, setelah memberi instruksi pada asistennya.
Tiara merasa ada yang aneh dengan sikap laki-laki itu. Mikho yang terlihat tergesa-gesa, tak seperti biasanya tetapi tak kuasa menolak saat Mikho segera mengajaknya pulang. Saat mengemudi, Mikho berpapasan dengan calon tunangan Celine yang melangkah memasuki klinik. Mikho menatap kesal pada laki-laki itu.
__ADS_1
Celine, kamu itu milikku. Tak akan aku biarkan kamu sembarangan memilih suami. Aku tak akan membiarkan laki-laki konyol itu memelukmu, batin Mikho sambil mengemudikan mobilnya, kemudian melaju meninggalkan klinik kesehatan itu.
...~ Bersambung ~...