Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
BAB 65 ~ Berakhir ~


__ADS_3

Seorang dokter memberikan surat pada Mikho. Laki-laki itu mulai membacanya dan terkejut.


~ Mikho, kamu begitu ingin memiliki apa yang telah menjadi milikku. Apa kamu begitu menginginkan barang bekas pakai itu? Apa Celine bisa melupakan apa yang pernah kami rasakan bersama?  Kalau dia begitu berharga bagimu,  ambilah! Aku telah mendapatkan apa yang aku inginkan ~


Mikho menatap surat itu dengan tangan yang gemetar dan dada yang bergemuruh. Mikho tak percaya Celine membohongi dirinya. Menginginkan pernikahan dengannya setelah apa yang dilakukannya bersama Yodi.


Laki-laki itu segera memutar balik arah mobilnya menuju kediaman keluarga Celine. Begitu tiba di rumah itu Mikho kecewa karena Celine yang belum pulang dari kantornya. Bu Dessery mempersilahkan Mikho menunggu Celine di kamarnya. 


Mikho pun melangkah menuju kamar Celine dengan perasaan yang tak menentu. Menatap ke sekeliling kamar, terlihat gaun pengantin yang akan dikenakan Celine terpajang di sebuah manekin. Kamar itu telah dipenuhi oleh segala barang-barang yang dibutuhkan untuk pernikahan. 


Mata Mikho terhenti pada sebuah benda yang sangat dikenalnya. Jepit rambut itu diletakan diatas sebuah kotak di atas meja rias. Benda yang menjadi simbol pertunangan mereka. Mikho meraih jepit rambut itu dan tersenyum menatapnya.


"Hanya ini saja pengikat pertunangan kita. Hanya benda milik anak-anak ini. Kamu anggap apa pertunanganku ini. Sebuah uji coba? Jika lolos kamu bisa menipuku. Kenapa Celine? Kenapa lakukan ini padaku, aku selalu menjagamu. Menjaga kehormatanmu, seperti apa pun inginnya tapi aku tetap menahan diriku. Teganya kamu Celine, teganya kamu! Teganya kamu menipuku," ucap Mikho berkata pada dirinya sendiri.


"Kakak? Kenapa? Ada perlu apa?" tanya gadis itu, begitu datang langsung memeluk dan mengecup bibir Mikho.


Laki-laki itu hanya diam, tak membalas sama sekali. Celine merasa ada sesuatu yang aneh dari sikap laki-laki itu. Mikho menyodorkan selembar kertas yang baru didapatkannya itu. Dengan raut wajah heran Celine mulai membacanya.


Gadis itu terkejut hingga menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Air matanya langsung mengalir. Perlahan memberanikan diri menatap laki-laki yang telah murka itu.

__ADS_1


"Jangan menangis! Aku tak butuh air matamu! Aku hanya butuh penjelasan. Apa maksud tulisan itu? Sejauh mana hubungan kalian. Apa saja yang telah kamu lakukan dengannya!" bentak Mikho dengan mata yang tajam.


Gadis itu hingga terlonjak mendengar suara Mikho yang begitu keras. Celine diam menunduk, Mikho tak sabar menunggu jawaban gadis itu hingga mengguncang bahunya. Air mata Celine mengalir deras, didesak seperti itu semakin tidak tahu apa yang harus diucapkannya.


"Apa kamu sudah melakukannya bersama laki-laki itu? Jangan menangis, hanya jawab ya atau tidak saja! Apa susahnya?" tanya Mikho kembali membentak.


"Aku … tidak … tahu," jawab Celine dengan terbata-bata.


"Jawaban macam apa itu!" bentak Mikho.


"Sungguh, aku tidak tahu. Aku … waktu itu … aku …."


"Cukup! Kamu tak butuh lagi jawabanmu! Kamu sengaja menutupi ini dariku. Aku tak bisa hidup dengan wanita yang selalu berahasia denganku," ucap Mikho hendak beranjak pergi.


"Kak ... tunggu!" teriak Celine.


Gadis itu meraih jepit rambut yang menjadi simbol pertunangan mereka. Lalu menyerahkannya pada Mikho. Laki-laki itu menatap wajah yang bersimbah air mata itu.


"Kamu bahagia mendengar keputusanku? Begitu cepat kamu menerima keputusanku? Kamu sama sekali tak ingin pertahankan aku? Bahagia bisa bebas dariku? Kamu ingin kembali padanya?" teriak Mikho lalu meraih jepit rambut itu lalu membantingnya ke lantai.

__ADS_1


Sontak Celine menoleh ke arah jepit rambut dengan susunan mutiara itu berderai diatas lantai. Begitu keras suaranya hingga Mikho sendiri merasa kaget. Tak menyangka benda yang juga berharga baginya itu hancur berderai di lantai.


Celine langsung terduduk. Dengan air mata yang menetes di lantai, gadis itu memunguti benda pemberian neneknya itu. Benda itu bagi Mikho mungkin tak berharga lagi tetapi bagi Celine itu pertanda pertunangan mereka benar-benar telah hancur.


Sebenarnya Mikho tak tega melihat gadis itu merangkak sambil menghapus air matanya, memunguti butir-butir mutiara yang telah bertebaran itu. Tubuhnya berguncang karena isak tangisnya. Hampir saja hati laki-laki itu luluh.


Namun, akhirnya memilih pergi. Pintu yang tertutup dengan tergesa-gesa itu mengeluarkan suara yang keras hingga mengagetkan Celine. Gadis itu terhenyak di lantai mendengar bantingan pintu yang menunjukkan kemarahan Mikho itu. Celine menangis tersedu-sedu.


Sementara Mikho berjalan dengan tergesa-gesa. Bahkan tak peduli dengan panggilan Bu Dessery padanya. Ibu itu langsung berfirasat buruk. Segera Bu Dessery berlari menuju kamar putrinya.


Tertegun saat melihat gadis itu menangis di lantai kamar. Bu Dessery langsung memeluk tubuh putrinya yang berguncang karena tangis itu. Celine memeluk tubuh ibunya dengan kedua tangan menggenggam jepit rambut yang berderai.


"Apa yang terjadi Celine?" tanya Dessery.


"Kak Mikho memutuskan pertunangan Ma," jawab Celine terisak.


"Kenapa?"


"Karena … karena Celine … tidak suci lagi."

__ADS_1


Bu Dessery tercenung. Air matanya mengalir, tak percaya akan ucapan putrinya. Celine adalah putrinya. Celine adalah gadis baik-baik, tak mungkin kehilangan kesuciannya. Ibu itu syok hingga jatuh pingsan.


...~   Bersambung  ~...


__ADS_2