
Waktu tiga bulan yang sangat menyiksa bagi Celine dan Mikho akan segera berakhir. Seminggu lagi mereka sepakat akan berpisah. Namun, semakin dekat waktu itu, semakin terasa menyiksa bagi mereka. Celine memutuskan untuk pergi dari kehidupan Mikho.
Bagaimanapun juga waktu perpisahan itu tetap akan datang dan hubungan mereka tak bisa lebih baik lagi. Tak tahan dengan situasi itu, Celine minta waktu untuk bicara dengan Mikho. Gadis itu meminta maaf atas apa yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga mereka. Dengan terisak, Celine meminta izin memeluk laki-laki yang dicintainya itu untuk terakhir kalinya.
Mikho mendekati Celine dan langsung memeluknya. Celine memejamkan mata menikmati hangatnya pelukan Mikho. Gadis itu mengangkat wajahnya untuk menatap laki-laki yang dicintainya itu lekat-lekat. Itu adalah kesempatan terakhir Celine untuk bisa menatap wajah yang dicintainya.
Dengan air mata yang berderai, Celine nekat mencium bibir Mikho. Tak peduli Mikho akan menolaknya, mendorongnya atau membantingnya. Celine hanya ingin mengingat ciuman terakhirnya pada laki-laki yang dicintainya itu. Namun, Mikho tak menolak. Dengan perasaan yang menggebu laki-laki itu justru membalas memeluk dan membalas ciuman istrinya.
Terima kasih Kak Mikho, batin Celine.
Mikho bersedia memenuhi permintaan terakhirnya, gadis itu lega. Dengan tekad yang telah bulat Celine akan pergi diam-diam dari rumah itu. Menghilang dari hadapan Mikho untuk selama-lamanya karena Celine tak sanggup mendengar ucapan perceraian dari laki-laki yang sangat dicintainya itu.
Karena itu, Celine lebih memilih pergi dan menjadikan ciumannya itu sebagai ucapan perpisahan bagi mereka. Setelah mendapatkannya, Celine tersenyum lalu beranjak dari tempat itu. Mikho tertegun, merasa tak yakin akan keputusannya sendiri untuk berpisah dengan Celine.
Mikho menatap Celine yang melangkah meninggalkan balkon. Mikho mengejar Celine lalu memeluknya dari belakang. Laki-laki itu memejamkan mata meresapi hangat tubuh gadis yang dicintainya itu lalu membalik tubuh Celine dan kembali membenamkan bibirnya di bibir yang telah lama tak diciumnya itu.
Mikho bahkan mendorong dan menghempaskan tubuh Celine ke atas ranjang. Laki-laki itu tak pedulikan apa-apa lagi. Dia inginkan Celine saat itu juga. Inginkan Celine menjadi istri yang sesungguhnya.
Mikho melanjutkan ciuman yang terputus tadi. Perlahan ciuman menggebu itu bergerak turun hingga ke leher gadis cantik itu. Celine memejamkan mata meresapi setiap ciuman lembut menggebu laki-laki itu. Satu persatu kancing blouse Celine pun telah dilepas Mikho.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Aksi Mikho terhenti, serentak mereka menoleh ke arah pintu. Seorang pelayan terdengar memanggil, menunggu izin untuk dibiarkan masuk. Mikho menatap Celine yang berada di bawahnya. Lalu bangkit dari posisinya dan langsung melangkah ke depan pintu.
"Ada apa?" tanya Mikho.
"Tuan dan Nyonya ingin bicara. Mereka menunggu Tuan dan istri di ruang tengah," ucap pelayan yang tetap berdiri di depan pintu kamar Mikho. Laki-laki itu menoleh ke arah Celine sekilas lalu akhirnya menyetujui.
"Baiklah, kami turun sebentar lagi," ucap Mikho.
Pelayan itu pergi, Mikho menutup kembali pintu kamarnya. Pikirkannya langsung berkecamuk, berpikir keras apa yang menjadi alasan orang tuanya ingin bicara dengannya dan istrinya. Celine tahu laki-laki itu merasa galau. Celine sendiri pasrah dengan apa pun keputusan Mikho dan keluarganya.
Mereka duduk di hadapan kedua orang tua itu. Mereka menunggu dengan hati yang berdebar-debar. Mengira-ngira apa yang ingin dibicarakan kedua orang tua yang telah menjadi ayah dan ibu mertuanya itu.
"Apa?" teriak Mikho kaget dengan keputusan sepihak tanpa bicara lebih dulu padanya.
"Kamu masih ingat dengan Tante Lucy 'kan? Kamu juga suka pada putrinya, Nayla 'kan. Tante Lucy ingin menjodohkan putrinya denganmu karena itu kami putuskan untuk menikahkan kalian–"
"Apa? Nggak! Nggak bisa seperti ini Ma. Kenapa seenaknya memutuskan masa depanku. Nggak! Aku tak bersedia. Aku sendiri yang memutuskan, apa yang baik untuk hidupku–"
"Lihatlah keputusan yang sudah kamu ambil ini. Hanya sia-sia! Mama sudah bilang dia tak pantas untukmu. Dan sekarang kamu sudah tahu seperti apa liarnya dia, kenapa tak segera melepaskannya? Kenapa masih bersikeras mempertahankannya? Kamu sendiri yang bilang kalau dia tak menjaga kesuciannya. Kamu sendiri yang sempat menyatakan untuk membatalkan pernikahan. Kamu sendiri yang pasrah saat Mama carikan pengantin pengganti untukmu lalu … tiba-tiba kamu bilang tetap akan menikahi Celine. Apa hanya muka orang tuanya saja yang kamu pikirkan? Bagaimana dengan muka Mama yang sudah terlanjur berjanji pada Tante Lucy?" tanya Anisa emosi.
__ADS_1
Mikho langsung menoleh pada Celine. Gadis itu hanya bisa pasrah menatap Mikho dengan mata yang berkaca-kaca. Apa pun yang menjadi keputusan laki-laki itu, Celine telah pasrah karena merasa waktunya berada di rumah itu memang telah habis. Celine merasa keputusannya untuk meninggalkan rumah itu malam ini adalah keputusan yang tepat.
Kakak telah menerima dijodohkan dengan gadis itu, kenapa sekarang ragu? Terimalah dia, aku akan pergi dari sini. Agar Kak Mikho bisa bebas memilih kebahagiaan Kakak sendiri, batin Celine lalu tersenyum pada Mikho dengan mata yang berkaca-kaca.
Mikho menatap Celine dengan risau. Begitu galau hatinya saat itu hingga begitu mudahnya dia mengatakan kata terserah pada ibunya. Membuat ibunya itu berkesempatan untuk melanjutkan niatnya menjodohkan putranya dengan putri sahabatnya.
Nggak Celine! Aku tak berniat menikah dengan siapa pun kecuali denganmu. Itu hanya ucapan yang terlontar saat hatiku sedang kacau. Kamu tahu, aku sangat mencintaimu. Aku akan kembali padamu, aku hanya akan menjadi suamimu, batin Mikho menjerit.
Celine sama sekali tak bersuara dan dia yakin kehadirannya di ruangan itu bukan untuk dimintai pendapatnya. Meski saat ini yang dijodohkan adalah suaminya tetapi Celine sadar diri, Mikho hanya suami di atas kertas. Menurutnya, laki-laki itu sendiri tak ingin menjadi suaminya.
Meski hatinya terasa perih. Meski hatinya seperti di tusuk ribuan belati tetapi gadis itu mencoba untuk kuat. Tetap duduk di ruangan itu demi mendengar keputusan yang ditetapkan untuk suaminya.
"Aku tak mau bicarakan ini sekarang!" ucap Mikho lalu pergi begitu saja dari hadapan orang tuanya dan meninggalkan Celine tetap duduk di situ.
Laki-laki itu akan lakukan apa pun untuk menolak keputusan orang tuanya. Tetapi tidak bisa dilakukannya dihadapan Celine. Mikho masih ingin menjaga wibawa orang tuanya hingga tak ingin membantah orang tuanya itu di hadapan Celine.
Mikho ingin mencari waktu yang tepat untuk menceritakan niatnya yang ingin kembali pada gadis yang dicintainya itu. Ingin menerimanya seperti apa pun keadaannya. Sementara Celine telah bersiap-siap untuk pergi dari rumah itu saat semua telah tertidur lelap.
Celine meninggalkan secarik kertas, berisi permintaan maafnya yang tak bisa menunggu keputusan Mikho untuk menceraikannya dalam waktu seminggu lagi. Sekaligus menitipkan doa, semoga laki-laki itu bahagia bersama dengan gadis pilihan orang tuanya. Celine mengecup pelan kening dan pipi laki-laki itu lalu melangkah keluar dari kamar dengan air mata yang mengalir deras.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...