
Setiap pagi Celine berjalan-jalan ke desa Pesanggrahan di mana dulu dia dan rombongan wisata saat di SMA itu pernah berkemah. Mengenang kembali saat-saat berkumpul saat bernyanyi bersama diiringi gitar yang dimainkan oleh Mikho.
Kakak memang serba bisa. Siapa yang tak kagum padanya? Gadis mana yang tak jatuh cinta padanya? Dia mengagumkan. Mudah disukai, perhatian dan sangat tampan. Aku yang membencinya sejak kecil, bisa jatuh cinta padanya. Benci dan cinta bisa hadir bersamaan. Jika tak ada rasa benci itu, mungkin aku sudah pengagum berat Kak Mikho, batin Celine lalu tersenyum saat mengenang Mikho yang bermain gitar mengiringi siswa-siswi yang terkena hukuman bernyanyi.
Celine beralih menatap ke jalan setapak. Jalan kecil menuju puncak di mana dia tiba-tiba dipeluk Mikho yang berusaha membujuknya agar membatalkan niatnya naik ke atas puncak gunung. Celine tersenyum saat mengingat ucapan Mikho saat itu.
"Jika terjadi sesuatu, bertahanlah, aku pasti akan menjemputmu."
Apa sekarang Kakak akan menjemputku? Jika terjadi sesuatu padaku, apa Kakak akan menjemputku kali ini? Batin Celine menangis.
Mata gadis itu berkaca-kaca menatap jalan setapak itu. Semakin lama, jalan itu semakin kabur, tertutup genangan air di matanya. Celine segera menghapus air matanya. Celine juga terkenang saat berjalan dengan Mikho ke tempat itu. Termenung di tempat-tempat penuh kenangan itu.
"Mau naik ke atas?" tanya seorang yang muncul tiba-tiba di samping Celine.
Gadis itu langsung menoleh, begitu terkejut karena begitu larut dalam lamunan hingga tak menyadari kehadiran seseorang di dekatnya. Seorang laki-laki berwajah tampan sedang tersenyum padanya. Lalu menoleh ke arah jalan setapak itu.
"Kalau mau naik, ayo! Aku bisa temani," ucapnya lagi.
"Nggak! Aku tak berniat naik," jawab Celine.
"Tapi dari tadi aku lihat kamu menatap ke jalan itu. Jalan kecil itu, jalan menuju ke puncak gunung. Sungguh tak tertarik untuk naik?" tanya laki-laki itu sambil tersenyum manis. Celine langsung menggelengkan kepala lalu beranjak dari tempat itu.
"Aku Devan! Kalau ingin mencari pemandu untuk ke atas kamu boleh andalkan aku. Aku sering naik ke puncak gunung ini, hampir setiap minggu dan hari libur. Sampai jumpa!" serunya lalu melangkah ke jalan setapak itu.
Celine tak pedulikan ucapan laki-laki itu dan terus melanjutkan langkahnya untuk pulang. Langkah kaki laki-laki itu tiba-tiba terhenti lalu menoleh pada Celine yang telah melangkah pulang. Laki-laki itu melangkah menyusul Celine tetapi dia langkahnya terhenti. Tertegun sejenak lalu membalik badan dan kembali melanjutkan langkahnya menuju puncak gunung.
Celine kembali ke kamar penginapannya lalu mencari makanan. Sejak berangkat ke Pesanggrahan, gadis itu belum sempat sarapan. Saat makan di sebuah warung makan. Celine tercenung, mengingat pertemuannya dengan laki-laki bernama Devan tadi.
Ada rasa ingin memenuhi ajakan laki-laki itu untuk ikut naik ke atas puncak gunung. Namun, Celine merasa ragu karena Celine sama sekali tak mengenalnya. Gadis itu pun melupakan kejadian tadi.
__ADS_1
"Mbak, apa benar mau mencari rumah di desa pesanggrahan?" tanya bibi warung makan itu.
"Ya Bi, kalau ada," jawab Celine.
"Mau pindah bersama keluarga?" tanya bibi itu lagi.
Celine ragu, merasa takut jika orang-orang mengetahui dia hidup sendiri. Gadis itu pun mengangguk. Bibi itu tersenyum lalu menunjukkan alamat rumah yang baru diketahuinya akan di jual karena pemilik rumahnya yang telah tua ikut anaknya ke luar negeri.
"Kalau begitu nanti saya lihat Bi, terima kasih informasinya," ucap Celine.
Ibu itu mengangguk. Setelah tinggal beberapa hari di rumah yang menyediakan tempat menginap itu Celine akhirnya berpikir untuk mencari sebuah rumah kecil untuk tempat tinggalnya. Setiap kali melintasi jalan depan klinik kesehatan di mana Mikho praktek, jantung Celine selalu berdebar-debar.
Serasa seperti melihat laki-laki itu di sana. Ada rasa ingin menatapnya walau sekejap. Berharap laki-laki itu akan datang kembali ke tempat praktek itu hingga dia bisa menatap laki-laki yang dicintainya itu dari jarak jauh.
Kak Mikho tak pernah praktek lagi di sana,batin Celine.
Celine langsung tertarik untuk membeli rumah itu. Segera menemui pemilik rumah. Ibu pemilik rumah itu juga terlihat senang karena melihat pembeli rumahnya terlihat seperti gadis baik-baik. Dengan semangat ibu itu meminta putrinya untuk mempercepat proses jual beli rumah itu.
Celine resmi menjadi pemilik rumah di desa itu. Gadis itu gembira bahkan mengizinkan ibu itu untuk tetap tinggal di rumah itu. Sementara ibu itu dan putrinya mengurus dokumen-dokumen keberangkatan ke luar negeri.
"Ibu boleh tinggal di sini sampai ibu benar-benar berangkat," ucap Celine.
Ibu dan putrinya itu bahagia. Karena masih berkesempatan tinggal lebih lama di rumah mereka yang penuh kenangan. Ibu itu dan putrinya pun menceritakan asal usul mendirikan rumah itu. Serta memperlihatkan kamar dan tak lupa menceritakan kenangan-kenangannya di rumah itu.
"Apa nanti akan tinggal bersama keluarga Kak?" tanya putri ibu itu.
"Ya! Setelan semuanya memungkinkan. Aku akan tinggal bersama suami dan anak-anakk di sini," jawab Celine.
Gadis itu bahagia karena mendapatkan teman sementara beradaptasi dengan rumah barunya itu. Selama menunggu keluarnya surat dokumen-dokumen keberangkatan ke luar negeri. Ibu itu mengajari Celine bagaimana caranya berkebun.
__ADS_1
Gadis itu belajar dengan tekun hingga merasa keasyikan. Sehari-hari, Celine memperluas wilayah kebun itu. Ibu itu dan putrinya hingga tertawa melihat semangat Celine saat berkebun.
"Hati-hati jangan sampai keluar pekarangan ya," seru putri pemilik rumah lama itu.
Celine tertawa menanggapi gurauan putri mantan pemilik rumah. Gadis itu terus semangat membersihkan semak belukar dari pekarangan yang masih kosong itu. Begitu semangat gadis itu berkebun sejak di minta memetik beberapa sayuran.
Gadis itu tak henti-hentinya merasakan nikmatnya, memetik hasil kebun sendiri. Selain tanaman sayuran, pekarangan ibu itu juga ditumbuhi pohon berbagai macam buah-buahan. Sekian lama akhirnya Celine bisa melakukan sendiri hobi barunya. Ibu itu dan putrinya pun berangkat ke luar negeri. Celine sedang asyik memetik buah mangga saat beberapa orang anak berdiri di balik pagar.
"Kalian mau?" tanya Celine yang langsung dibakas anggukan oleh ke empat anak-anak itu.
Celine pun memetik beberapa buah mangga dan dibagikan kepada anak-anak itu. Mereka pun berterima kasih dan langsung berlari pulang. Keesokan harinya kembali mendatangi Celine yang kembali asyik memetik buah mangga. Kembali Celine menawari mereka buah mangga itu. Tentu saja mereka sangat senang menerima.
"Sebenarnya kalian ini mau ke mana tiap hari lewat depan rumah sini?" tanya Celine.
"Kami mau belajar Kak. Ke rumah guru kami di sana. Rumahnya jauh tapi nggak apa-apa biar kami bisa belajar bersama Kak," ucap seorang anak.
"Oh hebat! Kalian semangat sekali belajarnya. Kalau kalian mau, kalian bisa belajar di sini," ucap Celine.
"Benar Kak? Kakak bisa menjadi guru kami?" tanya Anak itu.
"Kakak rasa, Kakak bisa menjari anak SD," ucap Celine sambil tersenyum.
Mereka gembira menyambut kesediaan Celine mengajari mereka. Besok harinya mereka langsung datang ke rumah Celine. Belajar bersama di teras samping rumah menghadap ke kebun buah itu.
"Jadi ini guru cantik yang sudah merebut murid-muridku?" tanya seorang laki-laki.
Celine mengangkat wajahnya menatap seorang laki-laki yang sedang tersenyum menatapnya. Celine terkejut karena laki-laki itu ternyata adalah guru dari anak-anak itu dan lebih terkejut lagi karena guru itu ternyata adalah laki-laki tampan bernama Devan yang menawarinya naik ke puncak gunung bersama waktu itu.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1