Cinta Terhalang Masa Lalu

Cinta Terhalang Masa Lalu
BAB 73 ~ Bertemu Lagi ~


__ADS_3

Celine menawarkan anak-anak itu untuk belajar di rumahnya. Mereka menyambut gembira tawaran itu. Besoknya mereka langsung datang ke rumah Celine. Belajar bersama di teras samping rumah menghadap ke kebun buah itu. Tiba-tiba seorang laki-laki tampan datang dan langsung menegur Celine.


"Oh, jadi ini guru cantik yang sudah merebut murid-muridku?" tanya seorang laki-laki.


Celine mengangkat wajahnya menatap laki-laki yang sedang tersenyum menatapnya. Laki-laki itu berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum menyindir seperti sedang memergoki orang yang berbuat salah. Celine merasa laki-laki itu seperti seorang yang dikenalnya.


"Kamu? Bukannya kamu … ah siapa namanya, ah aku lupa. Pokoknya yang mau jadi guide aku naik ke puncak gunung waktu itu 'kan?" tanya Celine.


"Benar sekali, tapi ... bagaimana kamu akan mengajari murid-murid jika kamu sendiri pelupa," jawab laki-laki itu.


"Apa maksudmu?" tanya Celine.


"Belum lama aku menyebut namaku sekarang kamu sudah lupa–"


"Aku bukan lupa tapi aku tak peduli, lagi pula untuk apa aku harus tahu namamu?" tanya Celine.


"Untuk hari ini," jawab laki-laki itu dan Celine langsung melengos.


"Ngomong-ngomong kamu tak persilahkan aku duduk. Guru macam apa ini? Tidak punya tata krama," ucap laki-laki itu.


"Siapa yang jadi guru?" tanya Celine.


"Kamu! Bukannya kamu yang menawarkan pada anak-anak kalau mereka akan belajar dengan kamu si guru cantik?" tanya laki-laki itu.


"Haaa ... siapa yang bilang?" tanya Celine langsung menoleh pada anak-anak yang menutupi mulut mereka menahan tawa.


"Apa yang kalian bilang begitu ?" tanya Celine pada anak-anak itu.


"Pak guru nanya, kenapa nggak datang lagi ke rumah Pak Devan untuk belajar tambahan. Lalu kami jawab kalau kami belajar di rumah guru cantik," jawab seorang anak perempuan.


"Kenapa bilang begitu?" tanya Celine malu-malu.


"Karena kamu nggak nggak tahu nama kakak guru yang cantik," jawab anak gadis yang lain.


"Tapi kenapa di panggil guru cantik segala?" tanya Celine kembali malu-malu.


"Kan Kakak yang suruh," ucap seorang anak laki-laki.

__ADS_1


"Haaa, kapan? Kalian jangan bikin omongan ya?" tanya Celine langsung mendekat dan menggelitik anak itu.


Anak-anak itu tertawa kegelian, Celine mengejar anak yang berhamburan berlari di antara kebun itu. Devan justru duduk bertopang dagu menatap mereka yang berlarian. Letih karena tak bisa mengejar akhirnya Celine kembali ke teras samping rumah itu sambil mengancam.


"Awas kalian ya, nanti nggak Kakak kasih buah-buahan lagi!" serunya pura-pura merajuk.


"Guru seperti apa itu, gampang ngambek dan suka ngancam-ngancam," celetuk Devan.


"Guru seperti apa ini? Tidak punya tata krama belum disuruh duduk, sudah main duduk aja," ucap Celine sambil berkacak pinggang di depan Devan.


Devan yang memang belum dipersilahkan duduk, sontak langsung berdiri di hadapan Celine. Gadis itu kaget karena membuat Devan dan Celine berdiri begitu dekat dengannya. Gadis itu langsung mundur. Terdengar suara tawa dari anak-anak murid yang melihat mereka hampir saja bertumburan.


Celine langsung menoleh ke arah lain, begitu juga dengan Devan. Mereka terlihat sangat canggung dengan pipi mereka yang merona merah. Terdiam beberapa saat akhirnya Devan bisa menguasai diri.


"Kalau begitu boleh nggak aku duduk … guru cantik?" tanya Devan.


"Duduklah!" ucap Celine yang juga kembali ke posisinya tadi.


"Anak-anak masih mau belajar atau nggak?" tanya Devan seperti pada diri sendiri sambil melihat anak-anak itu yang justru berlari-larian di kebun.


"Oh itu, mereka murid kelas 6, karena sebentar lagi akan menempuh Ujian Nasional mereka diminta untuk menambah jam belajarnya," jelas Devan.


"Lalu harus belajar di rumahmu, kata mereka rumahmu sangat jauh. Apa nggak kasihan lihat mereka yang jalan sejauh itu? Kenapa nggak belajar di sekolah saja," tanya Celine.


"Ke sekolah juga jauh, lagi pula kasihan kalau setelah pulang sekolah langsung belajar lagi. Jadi kami biarkan mereka pulang, istirahat, makan dulu di rumah baru kemudian berangkat belajar lagi," jelas Devan.


Celine mengangguk mengerti lalu menoleh ke anak-anak yang sedang bermain. Kadang-kadang gadis itu tertawa melihat tingkah anak-anak itu. Sementara Devan hanya melirik-lirik. Celine yang merasa dilirik laki-laki itu berpura-pura tak tahu.


Devan? Rasanya baru-baru ini dengar namanya, tapi di mana ya? Wajahnya juga terasa tak asing, Batin Celine bertanya-tanya.


Kalau dilihat-lihat seperti pernah kenal tapi semakin diingat-ingat malah semakin lupa, batin Devan.


"Ah Devan!"


"Celine!"


"Kamu Devan yang dulu waktu di family gathering?" tanya Celine.

__ADS_1


"Ya benar, berarti kamu benar-benar Celine? Putrinya Direktur Utama?" tanya Devan.


"Oh ya ampun udah lama sekali nggak ketemu," ucap Celine sambil tertawa.


"Ah iya, sejak SMP sudah mulai jarang ikut, Papa. Kamu juga terakhir ikut masih SMP kan?" tanya Devan.


Celine mengangguk, mereka tak menyangka kalau akan bertemu lagi setelah sekian lama. Celine baru ingat kalau baru-baru ini Erica lah menyebut nama Devan. Laki-laki itu pun kaget saat mendengar Celine menyebut nama Erica.


"Kalian masih bertemu?" tanya Devan.


"Kami satu SMA tapi selama bersekolah di tempat yang sama, aku tak sadar kalau itu adalah dia," ucap Celine.


"Apa maksudnya?" tanya Devan.


"Dia merubah wajahnya. Aku rasa kalau kamu bertemu dengannya, kamu pasti tak akan mengenalnya juga," ucap Celine dengan nada sedih. 


Mengingat Erica, gadis itu juga teringat Abang gadis itu, Yodi. Hati gadis itu menjadi sedih dan terlihat di raut wajahnya. Devan pun melihat kesedihan itu.


"Kamu masih dendam padanya?" tanya Devan.


"Apa?"


"Masalah rambutmu dan permen karet?" tanya Devan.


"Oh ya, awalnya aku masih dendam, tapi sekarang tidak lagi. Dia bahkan tinggal di rumah kami. Aku baru tahu yang menempelkan permen karet waktu kecil itu adalah teman yang telah kenal di SMA. Aku juga baru tahu kalau semua itu gara-gara kamu," ucap Celine sambil menatap lurus ke depan.


"Aku tahu! Gara-gara ucapanku itu dia jadi marah padamu," ucap Devan.


"Ucapanmu? Memangnya apa ucapanmu?" tanya Celine.


"Celine cantik, aku suka pada Celine."


Gadis itu terperangah, seingatnya saat itu Devan adalah idola di antara anak-anak karyawan perusahaan. Saat berkenalan dengan Celine, laki-laki itu langsung lengket padanya. Kemana pun mereka bermain, wahana apa pun yang mereka ingin mainkan, selalu mereka lakukan bersama-sama.


Celine dan Devan seperti di biarkan bermain berdua oleh orang tua mereka. Seolah-olah mereka suka dan sedang dijodohkan. Devan yang memang menyukai Celine begitu bahagia bisa dekat dengan gadis yang baik dan cantik itu.


...~  Bersambung  ~...

__ADS_1


__ADS_2