
Mikho terbangun . Setelah menjalani perawatan, laki-laki itu terbangun di tengah malam dan menyadari kalau dirinya sedang dirawat di ruang rawat inap klinik kesehatannya sendiri. Mikho mengingat apa yang terjadi. Melihat Celine yang telah membuka hatinya pada laki-laki lain membuat Mikho putus asa sehingga memutuskan untuk meninggalkan desa itu dan pasrah mencoba untuk melupakan Celine.
Namun, Lola menghalangi. Melihat kondisi Mikho yang lelah tubuh dan jiwanya. Lola membujuk agar Mikho mau menunda perjalanan pulangnya. Bukan hanya karena tubuh Mikho yang masih lemah saja yang jadi pertimbangan Lola, tetapi janjinya pada Celine kalau mereka bisa bertemu nanti di pagi hari.
Mikho menyetujui, Lola pun merasa lega. Lola sengaja tak menyebutkan pada Mikho kalau Celine akan datang pagi hari untuk menjenguk. Lola takut laki-laki itu justru memaksa pergi. Tak ada yang tahu isi hati Mikho saat ini. Apa yang dirasakannya, apa yang diinginkannya. Lola hanya berharap Mikho bisa ditahan hingga nanti bertemu dengan istrinya.
Pagi-pagi sekali Celine telah terbangun. Tak menunggu waktu lama, gadis itu segera bersiap-siap untuk pergi ke klinik kesehatan itu. Raut wajahnya yang tadi bersemangat berubah panik saat di halaman klinik tak terlihat mobil Mikho lagi.
Gadis itu segera parkir dan turun dari mobil, pandangan matanya yang panik mengitari halaman klinik. Seperti tak percaya gadis itu melangkah ke arah jalan raya. Melihat ke sana kemari lalu kembali ke halaman klinik. Celine seperti tak percaya dengan penglihatannya dalam suasana langit yang belum begitu terang.
"Maafkan aku Celine, aku tidak tahu kalau dia telah pergi," ucap Lola menyusul Celine keluar dari dalam klinik.
Begitu bangun Lola langsung ingin memeriksa keadaan Mikho tetapi gadis itu tak menemukan Dokter itu di ranjang pasien tempat dia menginap semalam. Lola langsung panik dan berlari ke halaman depan klinik dan benar saja, mobil Mikho sudah tak tampak lagi. Baru saja Lola masuk ke dalam klinik, tak lama kemudian Celine datang, dengan perasaan menyesal segera menghampiri gadis terlihat panik itu.
"Aku sudah coba menahannya. Tadi malam dr. Mikho sudah ingin pergi, tapi aku menahannya. Aku tahu kamu akan datang pagi ini. Aku tahu kamu ingin menemuinya tapi aku tak menyangka, dia pergi di saat aku tertidur. Sungguh Celine, aku sudah berusaha menahannya," tutur Lola berusaha meyakinkan Celine dengan mata yang berkaca-kaca.
Celine tertunduk hingga jatuh terduduk di teras klinik. Hati dan tubuhnya terasa lelah, terbangun beberapa kali di tengah malam. Begitu takut gadis itu ketiduran hingga kesiangan hingga tidurnya tak tenang. Sebentar-bentar terbangun lalu melihat jam dinding. Gadis itu menyesal karena tak datang lebih pagi lagi.
Celine pun tak bisa menyalahkan Lola karena memang Mikho sendiri yang ingin pergi. Sementara Lola merasa bersalah karena semalam tak membiarkan Celine menginap di klinik. Keduanya termenung dengan pikiran yang berkecamuk di benak masing-masing.
"Kalau aku tak terbangun tengah malam, mungkin bisa datang lebih pagi." Sesal Celine.
__ADS_1
"Kita nggak tahu Celine, jam berapa dr. Mikho pergi. Aku terbangun tengah malam dan melihatnya ingin pergi, aku melarangnya. Dia seperti menuruti kata-kataku. Ya … mungkin saja dia memang menuruti kata-kataku. Tapi saat dia terbangun lagi, mungkin merasa baikan dan tak ada gunanya menunggu pagi. Aku bahkan belum sempat bicara banyak dengannya. Aku ingin tahu apa yang terjadi di antara kalian dan kenapa dia datang lalu ingin langsung pergi lagi. Apa kalian bertengkar?" tanya Lola.
"Aku nggak tahu kalau Kak Mikho datang ke rumah. Aku baru tahu saat mengantar Devan ke depan, aku melihat mobilnya dan menemukannya dalam keadaan pingsan. Aku juga nggak tahu kenapa dia tiba-tiba muncul di situ," jawab Celine.
"Aku yang memberitahunya–"
"Apa? Kamu yang beritahu dia kalau aku ada di desa ini?" tanya Celine seharusnya tak perlu kaget lagi.
"Ya aku yang beritahu, siapa lagi?" tanya Lola. Celine langsung tertunduk.
"Tapi mungkin memang niatnya untuk segera pergi. Kak Mikho memang tak ingin bertemu denganku," ucap Celine.
Celine menunduk sambil berusaha menahan tangisnya. Namun, dadanya terlalu sakit hingga tak sanggup lagi menahan tangis itu. Lola langsung memeluk Celine. Perawat itu tahu pasti kalau Celine masih mencintai Mikho dan perawat itu juga tahu pasti kalau Mikho juga sangat mencintai Celine.
Lola tak habis pikir jika dalam waktu singkat, pernikahan mereka bisa hancur berantakan. Sebagai wanita yang lebih dulu merasakan hidup berumah tangga dan Lola merasa sangat peduli pada keduanya.
Perawat itu tak tahan melihat dua orang yang saling mencintai bisa hidup terpisah. Lola meminta Celine menceritakan apa yang terjadi dengan sejujur-jujurnya tanpa ada yang ditutupi. Dengan berat hati, akhirnya Celine menceritakan awal masalah yang timbul di antara mereka.
"Ya ampun terjadi hal seperti itu, kamu nggak cerita pada siapa pun?" tanya Lola.
"Aku nggak tahu Lola. Sebelum jatuh pingsan aku tahu dia ingin melecehkan aku. Saat sadar aku telah berada di jalanan dengan pakaian yang berantakan. Situasinya membuatku panik. Adiknya memukulinya hingga tak berkutik, wajahnya hancur penuh darah. Aku pikir dia sudah membunuh kakaknya saat itu. Kamu nggak tahu bagaimana lemahnya aku saat melihat darah. Aku bisa pingsan lagi jika tidak demi menyelamatkan masa depan anak itu. Aku merasa dia kembali untuk menyelamatkan aku. Bagaimana aku akan memikirkan diriku sendiri? Periksa tubuhku sendiri? Aku cuma berharap semua belum terjadi. Aku ingin percayai kalau aku tidak ternoda. Kalau anak itu datang untuk menyelamatkan aku, tapi kenyataannya Kak Mikho mendapatkan surat kalau dia ... Kak Yodi itu telah menodaiku. Aku harus bagaimana? Aku juga ingin melupakan kejadian itu. Aku berharap itu tidak pernah terjadi. Aku bahkan tak mau datang ke dokter, aku pastikan diri kalau aku belum ternoda tapi kenyataannya … dia sudah melakukannya. Apa yang harus aku lakukan? Kak Mikho tak ingin lagi menikah denganku sejak tahu itu," tutur Celine terisak-isak.
__ADS_1
Tak hanya Celine, Lola pun tak dapat menahan isak tangisnya. Celine bahkan menangis tersedu-sedu dalam pelukan Lola. Kini perawat itu baru mengerti, kenapa mereka tak bahagia saat pesta pernikahan berlangsung.
"Aku ingin percaya kalau Kak Mikho datang untuk mencariku. Tapi apa itu mungkin Lola? Dia jijik padaku. Aku yang berharap terlalu tinggi padanya," sambung Celine dengan terisak-isak hingga tubuhnya berguncang.
"Mungkin saja sekarang dia mau menerimamu karena itu dia mencarimu," ucap Lola.
"Tapi dia pergi lagi, mungkin dia sadar berbuat kesalahan dengan mencariku–"
"Nggak Celine, aku rasa nggak begitu. Aku merasakan ketulusannya menanyakan alamat rumah kamu. Dia terdengar serius mencari kamu," ucap Lola yakin.
"Tapi bagaimana lagi? Kenyataannya dia sudah pergi," ucap Celine lirih.
Lola meminta gadis itu untuk masuk. Perawat itu menyarankan untuk memeriksakan status keperawanan Celine pada dokter. Celine mengingatkan perawat itu kalau Yodi nyata-nyata telah mengakui melakukannya. Perawat itu langsung memijat keningnya.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Lola.
"Menjalani hidupku di desa ini. Aku pasrah Lola. Jika Kak Mikho mau kembali padaku, aku akan menerimanya. Asalkan Kak Mikho bisa menerima kekuranganku dan tak mengungkitnya lagi," jawab Celine.
Perawat itu akhirnya mengangguk. Setelah beristirahat menenangkan diri sejenak, Celine pamit pulang. Menjalani kehidupan di desa itu dengan anak-anak yang belajar di rumahnya dan juga bersama Devan. Sementara Mikho yang frustasi mengajak Erica untuk menikah.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1